Merindukan Pelangi

Belakangan Jakarta lagi dihampiri sinar matahari yang mendelik.Tajam dan menusuk sampai ke sumsum tulang belakang.Sering kali, saya berlari cepat untuk menghindarinya.Atau berjalan santai sambil bergumam dalam hati, “Wahai matahari, kenapa kamu begitu bersemangat hari ini?” Sebenarnya kalau mau ditelisik dari sisi fungsi, sinar matahari yang bersinar cerah itu adalah benar adanya. Karena memang itu lah…

Saya Terluka

Saya terluka. Saya terkapar.Meringankan tubuh tanpa mengerti harus ke mana.Memutar semua kepingan yang begitu indah terbentuk. Saya melemah.Meneteskan air mata.Melontarkan beribu pertanyaan dan berpikir kemana perginya mimpi indah. Saya terpuruk.Tidak pernah sedalam ini, seingat saya.Saya kecewa.Tidak pernah seterluka ini, seingat saya. Ingin rasanya mengapungkan diri di atas dinginnya air laut.Mengalir dan membuang segala ketakutan yang…

Merelakan Kata,Menyimpan Memori

Dalam dunia psikologi,karakter manusia,konon katanya dibagi menjadi sanguinis, platonis, melankolis, dan apa ya, saya lupa satu lagi.Entah masuk kategori yang mana, tapi saya adalah orang yang suka bermain dengan kata-kata. Buat saya, kata-kata adalah sandi dari realitas. Itu kenapa dari saya SD, selalu punya diari. Untuk menyandikan realitas yang saya lalui. Berharap ketika satu hari…

Malam Romantis Sang Bulan Sabit

Malam ini, bulan sabit tanpa bintang apapun di sekitarnya. Kami memutar roda supra fit menuju daerah Cikini. Makan di restoran mahal yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, pabrik keju. Memilih duduk di luar, memandangi kincir angin buatan yang menjadi simbol Holand Bakery. Dengan kursi dan meja kayu, kami hanya diterangi lilin kecil yang mengapung di…

Merasa Asing

Setiap orang berubah, saya percaya itu. Bahkan dulu, ayah saya sering sekali mengucapkan dan menuliskannya di secarik kertas. Semua hal berubah, kecuali hukum perubahan. Sewaktu SMP, kata-kata itu saya anggap sebagai kata-kata pengulangan yang menarik untuk diucapkan. Saya belum berpikir filosofis, tapi saya sudah mulai percaya bahwa kata-kata itu mengajarkan saya akan tak ada yang…

Mengapa Kami Memilih Untuk Percaya

Kita pasti sering mendapat nasehat,”Hati-hati dengan ucapanmu!” atau “Ucapan itu adalah doa, jadi berpikirlah sebelum mengatakan sesuatu.” Dulu sewaktu saya masih kuliah dan memutuskan keluar dari kepompong, saya tiba-tiba jatuh cinta dengan pluralisme dan inklusifitas. Garis saya tak sejajar dengan pikiran orang yang mengatakan keberagaman hanya bisa dimaknai masuk akal ketika levelnya hanya sebagai warna…

Jika Saya Bukanlah Saya!

Entah bagaimana ceritanya, saat lagi menikmati Burger King bersama pacar saya, terlontar pertanyaan dari dia mengapa saya mau menjadi jurnalis. Tapi bukannya menjawab pertanyaan, saya malah bertanya, kira-kira hidup akan seperti apa jika kita tak memilih jalan hidup yang sekarang? Yang terbayang, saya akan jadi perawat karena ibu saya ingin sekali jadi perawat. Sewaktu SMP,…