Renungan Natal : Ego Cinta Saya untuk Tuhan

Beberapa hari ini ada 3 hal yang selalu saya lakukan. Membaca buku, menulis, dan menonton pertunjukan musik. Hampir ketiganya sudah saya tulis di blog ini. Tapi kali ini saya ingin menggandengkan ketiganya dengan kebakitan malam natal. Semua saya kawinkan demi satu warna yaitu ego saya sebagai individu utuh. Jadi begini jalan ceritanya (biasanya kalau diawali…

Migrasi ke WordPress

Belakangan, saya memang menemukan kendala setiap kali ingin posting atau comment di blog kesayangan saya ini. Bahkan sering kali untuk sekadar membaca di smartphone yang saya punya, loadingnya lambat sekali. Akhirnya terlinat pikiran untuk beralih ke wordpress. Saya dulu memang punya blog di wordpress. Ini blog serius buat saya, membahas segala sesuatu yang serius. Benar-benar…

Forget Jakarta with Adhitia Sofyan

Dengan mengenakan kaos V neck rendah berwarna hitam dan celana pendek bunga-bunga cerah, saya menerobos Jakarta yang sepi. Dari Proklamasi 41, menuju Epicentrum Walk Kuningan. Tak ada aura kemacetan apalagi tampilan wajah kemalasan, saya senyum berseri bahkan nyaris deg-degan. Saya hendak bertemu seseorang, mendengarkannya bernyanyi. Setelah sekian lama saya hanya memintanya bernyanyi di laptop saya,…

Burqa, Buku, dan Laki-Laki

Pada salah satu halaman yang ditulis oleh Asne Seierstad, ada satu kutipan Jalaluddin Rumi yang menarik, “Ego adalah cadar manusia dengan Allah.” Asne adalah wartawati asal Norwegia yang pergi ke Afghanistan untuk meliput. Dan pada satu hari, dia bertemu saudagar buku di Kabul. Nama saudagar buku itu Sultan Khan. Jadi si Seierstad tinggal selama 4…

Kartu Matahari Pecandu Pagi

Tuhan Yang Maha Sempurna, Hari ini, seorang teman yang baru saja ku kenal,Kau ajak tinggal di rumahMu. Aku tertunduk.Memejamkan mata sambil meletakkan kedua tangan di dada. Raih tanganku Tuhan,tolong sampaikan hangatnya genggaman ini bagi teman baru itu. Norvan Hardian yang akrab menyebut dirinya sebagai PecanduPagi,sore ini menutup matanya. Perutnya membuncit. Tubuh yang menguning.Itu adalah kondisi…

Cukup 3 Suku Kata, BE-RA-HI!

Foto dari sini Belakangan otak saya tak mau berhenti merangkai kata-kata. Semua yang terjadi ingin dideskripsikan dengan analisa dan esai panjang. Dan kali ini, saya mau menyusup masuk ke dalam yang namanya berahi.     Kenapa berahi, karena beberapa waktu lalu saya mendiskusikan ini pada seorang sahabat. “Kenapa sih kita punya berahi?” Pertanyaan standar memang,…