Petualangan Pada Dunia Kertas

Menjelang 2011, saya menengok kembali apa saja yang sudah saya kumpulkan selama 2010. Di saat orang merangkum dengan cantik resolusi mereka, saya justru asik membersihkan debu dari rak buku saya. Sebenarnya saya lagi rajin aja.  Membersihkan debu buku, bukanlah ritual saya setiap kali tahun baru. Di kamar saya ada 1 lemari buku dengan 3 tingkat…

Lagu-lagu Pengumpul Wangsit

Disaat deadline memburu di depan mata, saya malah membuat postingan ini 😀 Setiap pagi menuju siang, karena saya sampai kantor sekitar jam 10.30, ada rangkaian ritual yang saya lakukan untuk memanggil segala wangsit merangkai kata. Menyapa teman-teman di sekitar cubicle sambil mengeluarkan laptop dari tas. Menunggu laptop menyala, menatap Jakarta dari lantai 14 melalui kaca…

Ritual Bercinta

Saat ini kita makan Setelah itu, kita minum Lalu kita berjalan mengitari rutinitas kedagingan. Jantung yang berdegup Wajah yang merona Senyum yang melintas Hingga tawa yang menetaskan kepekatan. Dan kita pun membiarkan semuanya terjadi Merebahkan kesadaran Melucuti keberadaan Demi sebuah rasa yang kita sebut, BERCINTA. Iya cinta, sebentar lagi kita melakukan itu semua Menggenggam tangan…

Renungan Natal : Ego Cinta Saya untuk Tuhan

Beberapa hari ini ada 3 hal yang selalu saya lakukan. Membaca buku, menulis, dan menonton pertunjukan musik. Hampir ketiganya sudah saya tulis di blog ini. Tapi kali ini saya ingin menggandengkan ketiganya dengan kebakitan malam natal. Semua saya kawinkan demi satu warna yaitu ego saya sebagai individu utuh. Jadi begini jalan ceritanya (biasanya kalau diawali…

Migrasi ke WordPress

Belakangan, saya memang menemukan kendala setiap kali ingin posting atau comment di blog kesayangan saya ini. Bahkan sering kali untuk sekadar membaca di smartphone yang saya punya, loadingnya lambat sekali. Akhirnya terlinat pikiran untuk beralih ke wordpress. Saya dulu memang punya blog di wordpress. Ini blog serius buat saya, membahas segala sesuatu yang serius. Benar-benar…

Forget Jakarta with Adhitia Sofyan

Dengan mengenakan kaos V neck rendah berwarna hitam dan celana pendek bunga-bunga cerah, saya menerobos Jakarta yang sepi. Dari Proklamasi 41, menuju Epicentrum Walk Kuningan. Tak ada aura kemacetan apalagi tampilan wajah kemalasan, saya senyum berseri bahkan nyaris deg-degan. Saya hendak bertemu seseorang, mendengarkannya bernyanyi. Setelah sekian lama saya hanya memintanya bernyanyi di laptop saya,…