Jam Bundar Untuk Ibu

                    “Buatkan aku jam yang angkanya hanya sampai enam.” pinta Sri ke Anwar, si pembuat jam. Pembuat jam yang baru dikenalnya itu pun mengerutkan dahi.           Sri mempertegas maksudnya. “Angka jamnya hanya satu sampai enam, angka lainnya simpan saja.”      …

Jodoh

“Kenapa ya Tuhan menjodohkan dan menikahkan kita?” Begitu saya bertanya ke Daniel pada salah satu momen pillow talk kita sebelum tidur. Dan beginilah Daniel menjawab, “Ngga tahu aku.” Teman tidur saya itu memang bukan tipe laki-laki yang menjawab dengan berbunga-bunga. Tipe programmer yang menyelesaikan masalah sesuai kebutuhan. Dan karena kebutuhannya saat itu adalah tidur jadi…

Anak Dalam Doa

        “Maaf Ibu, sepertinya Ibu keguguran.” Meski itu kelima kalinya aku mendengar dokter mengurai penyebab darah segar yang mengalir dari selangkangan itu sebagai keguguran, tapi air mataku selalu tak kuasa menjadi tegar. Dan ia lebih suka bergelimpangan di depan dokter dan suamiku. Lalu yang tersisa kemudian hanyalah suasana yang jadi begitu hening….

Dua Jari Perusak Cita-Cita

           Esthi Bhakti Warapsari sudah sedari kecil ingin jadi polwan. Cita-cita yang muncul karena ketidaksengajaan sebenarnya. Ia jatuh cinta dengan seragam polwan ketika ibunya tak berhasil menemukan kebaya pada hari Kartini.            Entah apa kaitannya, tapi seluruh sekolah, khususnya sekolah taman kanak-kanak merayakan Kartini dengan menyuruh anak…

Senja Si Phallus Kecil

Cerpen ini untuk orang dewasa jadi yang baca harus yang sudah dewasa secara umur dan pikiran. “Pada suatu malam, aku berharap Matahari tidak pernah bangun dan membiarkan Langit jadi hitam pekat.”          “Kau gila! Matahari dan Langit itu sejoli abadi. Tak ada yang bisa memisahkan mereka,” ucap Angin padaku.      …

Rinduku Pada Kata-Kata

Kala saya merindukan bermesraan dengan kata-kata adalah saat saya kehabisan ide untuk menghidupinya. Ada banyak energi mengepul di kepala tapi tetap saja kata-kata tak mau jadi nyata. Entahlah mungkin dia sedang bergumul dalam kesusahaannya sendiri atau rutinitas yang mematikan batu api di semburat pikiran. Saya rindu sekali dengan kata-kata. Saya ingin dia menjelma menjadi gairah…

Yitno Sugianto, Kalahkan Kanker Dengan Keberanian

Malam itu saya berdiri lama di depan peti. Perasaan saya campur aduk. Baru kali itu saya datang ke rumah duka salah seorang narasumber, orang yang saya wawancara untuk buku kedua saya, Kami Berani Melawan Kanker. Saya datang bersama cici Fanny Surdjono dan dokter Liu Zhengping. Mereka berdua adalah perwakilan FUDA Cancer Hospital yang ada di…