Menyapih Dengan Penuh Cinta

admin



Sudah 2 minggu ini Si Jabrix mulai disapih. Seminggu pertama dicoba dengan tidak menyusui hanya di siang hari, lalu seminggu berikutnya tidak menyusui di siang dan malam hari. Hasilnya gimana, full drama atau no drama?


Puji Tuhan, si Jabrix terbilang anak yang sangat bisa dibilangin. Jauh sebelum usianya genap 2 tahun, gw udah nyiapin strategi untuk mempersiapkan dia. Sekitar umurnya 18 bulan, gua bikin cerita ala-ala.


Gua cerita kalo ada kupu-kupu Jingga yang biasanya minum madu dari bunga matahari tiba-tiba harus terima kenyataan kalo bunga mataharinya “pindah rumah” ke kota. Lalu kupu-kupu Jingga galau plus ngamuk karena dia ngga dikasih tahu apa2 soal kepergian bunga matahari.


Trus dia dikasih tahu ibunya kalo sudah waktunya dia terbang lebih tinggi untuk minum madu dari bunga pohon mangga. Ternyata kupu-kupu Jingga bisa terbang lebih tinggi dan madu bunga pohon mangga ternyata lebih enak.


Haha jangan tanya gimana gua dapat ide cerita itu. Muncul gitu aja.


Nah sesekali gua ceritain dongeng ala-ala itu sambil bilang kalo si Jabrix udah 2 tahun artinya harus berhenti nenen. Pesan soal berhenti nenen ini hampir tiap malam kita ulang-ulang.


Sampai tiba dia 2 tahun, persisnya seminggu setelah dia ultah, di mulailah masa menyapihnya.


Selain strategi dongeng kupu-kupu Jingga itu, kita udah siapin strategi juga kalo dia menolak kita akan apa? Strateginya gua akan pisah tidur selama dia menyapih dan kalo masih drama juga maka opsi ngolesin minyak kayu putih di area payudara juga masuk kantong strategi.


Puji Tuhan anaknya ngga drama. Seminggu pertama, tiap kali dia mau tidur siang, adalah Kapten yang menemani dia untuk tidur. Gendong bobo kalo istilah si Jabrix. Dan seminggu berlalu dengan aman.


Masuk minggu kedua, dia sempat gusar karena malamnya ngga dikasih nenen. Tapi pas hari ke 8, dia mulai ngerti kalo bener-bener harus berhenti nenen. Sesekali dia masih coba-coba minta, tapi baik gua maupun Kapten selalu bilang dengan tenang, kalau dia sudah 2 tahun, sudah besar dan sudah tidak boleh nenen lagi. Kalau dibilangin begini, dia akan berhenti minta dan mengalihkan perhatiannya sendiri, entah dengan nyanyi-nyanyi atau minta gendong bobo.


She surprisingly mature enough. Kuncinya selama dia “dibriefing” di awal, dia akan mengikuti dengan tenang. Anak baik emang.


Anak ngga drama malah Mimanya yang drama. Gua kalo dia udah tidur suka ngeliatin sambil mikir, kaga “bergantung” lagi dah dia ama gua. Malah di hari-hari terakhir menyusui, gua sering banget peluk-peluk dia erat. Rasa kangen sudah datang justru sebelum berhenti menyusui dilakukan.


Gua sangat menikmati sekali momen-momen menyusui ini. Tapi bukan berarti gua berhak menghakimi mereka yang punya tantangan tersendiri selama menyusui dan kemudian memilih untuk menyelesaikannya dengan cepat. Karena gua percaya setiap ibu akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan menyusui bukan satu-satunya alat ukur cinta ibu kepada anaknya. Menyusui atau tidak menyusui tidak akan mengurangi insting ibu untuk mencintai serta melindungi anak-anaknya.


Postingan ini juga bukan untuk meng-glorify durasi 2 tahun menyusui si Jabrix secara penuh. Tapi lebih kepada menghargai proses yang sudah kami jalanin. Yang dimaksud dengan kami adalah Mima, Kapten, Mudita dan semua support system yang membuat menyusui selama 2 tahun jadi bisa terealisasi. Ini adalah pencapaian pribadi dan pencapaian bersama.


Atas nama pencapaian pribadi, gua ingin mengapresiasi diri sendiri. Narsis amat apresiasi diri sendiri. Terserah orang mau merespon apa soal postingan ini. Tapi gua hanya ingin mengapresiasi diri sendiri karena kita sering kali lupa berterima kasih pada tubuh atas segala perubahan yang dilakukannya untuk mewujudkan mimpi kita. Jadi postingan ini adalah untuk rasa haru atas proses menyusui dengan segala rasa sakitnya kalau tidak dipompa, rasa ngantuk yang harus ditahan ketika kudu mompa tengah malam, rasa eneg karena harus makan dan minum berbagai “ramuan” yang bikin produksi ASI tetap lancar, dan rasa ribet karena kudu bawa pompa serta peralatan perangnya ke mana aja bahkan saat liburan bareng sahabat ke Bali hahaha. Yup setiap pilihan datang dengan konsekuensinya masing-masing.


Dan atas nama pencapaian bersama, gua berharap jika satu hari nanti si Jabrix membaca postingan ini, dia bisa mengapresiasi dirinya sendiri. Dia sudah mau belajar untuk menyusui dengan benar, bahkan secara konsisten menyemangati dengan memberikan tatapan penuh cinta kepada Mima, plus membuat proses menyapih jadi penuh dengan cinta.


Postingan ini juga untuk mengapresiasi Kapten yang menjadikan ini sebagai kesepakatan bersama. Dia yang selalu sabar menghadapi mood Mima yang naik-turun karena kurang tidur, lalu sesekali pulang bawa makanan-makanan atau minuman-minuman enak yang bikin mood selalu happy dan produksi ASI pun tetap cukup. Plus Kapten yang juga membuat proses menyapih ini lebih mudah karena membuat banyak cara agar si Jabrix teralih dari keinginannya menyusui.


Dan tentu postingan ini juga untuk mengapresiasi Mama gua. Mama selalu memasak sayur bangun-bangun dan bubur kacang hijau di awal-awal menyusui dan yang memberikan selamat kepada gua karena berhasil mewujudkan mimpi untuk menyusui si Jabrix selama 2 tahun.


Gua juga berterima kasih kepada keluarga besar serta teman-teman tentunya yang selalu memudahkan gua untuk menemukan tempat yang nyaman untuk menyusui si Jabrix atau memompa di tengah-tengah bekerja di luar rumah. Ketika harus mompa di luar rumah, tidak selalu ada ruang menyusui memang. Tapi gua beruntung karena tidak pernah ditawarkan untuk kemudian menyusui di kamar mandi. Para petugasnya malah mencari tempat nyaman untuk gua menyusui dan ini sangat membantu sekali karena sesi mompa tetap bisa dilakukan dan menyelamatkan gua dari rasa sakit kalau batal mompa.


So yes….menyusui dan menyapih bukanlah hanya misi pribadi tapi juga misi bersama. Dan gua berterima kasih karena bisa mengawalinya serta mengakhirinya dengan penuh cinta.


Author: