Jadi Mamak di Era Post Truth

admin


Ngeri-ngeri sedap yak judulnya hihihi. Ternyata tujuh bulan jadi Mamak newbie, hari-hari saya dijejali dengan kalimat tanya kaya begini: “Ini aman ngga ya buat anak gua?” ; “Ini boleh ngga sih buat anak gua?” ; “Kalau gua makan ini, ASI gua nambah ngga ya trus aman kan ya buat anak gua?” Segala rupa pertanyaan dari yang kritis sampe yang bikin pusing sendiri.

Habisnya belum ada kurikulum baku tentang membesarkan anak sih. Kalau ada kan saya bakal langsung daftar untuk ikut kelasnya plus dapat sertifikat. Apalagi Mudita anak pertama saya, jadi dikit-dikit panik…dikit-dikit nanya sana-sini..

Tapi enaknya jadi Mamak di era digital seperti sekarang adalah semua informasi betebaran persis siber optik yang numpuk di bawah tanah. Jadinya tiap kali kebingungan tentang anak pasti langsung berselancar di internet, lebih spesifik lagi sosial media.

Dan sosial media membuat semua orang bisa memberi pengaruh. Lihat saja betapa banyaknya influencer atau orang yang “curhat” sambil memengaruhi orang banyak alias followers. Kemampuan influencer dalam memengaruhi semakin bersinar karena secara psikologis kita lebih percaya sama omongan orang-orang yang sebaya atau senasib dan sepenanggungan. Ini istilah psikologisnya peer influence.

Lahirlah “tokoh-tokoh” baru yang menciptakan trend dalam pola pengasuhan anak di dunia sosial media. Perkara yang dilakukan itu benar secara medis dan psikologis, pokoknya selama “si tokoh” baru ini bisa menunjukkan apa yang dilakukan ternyata aplikatif maka akan banyak mamak-mamak yang mengikuti.

Kalau di awal-awal saya bilang, membesarkan anak itu ngga ada kurikulumnya nah sosial media menciptakan kurikulum kekinian. “Lu belum jadi Mamak kekinian kalau belum melakukan yang lagi rame di laman sosial media.”

Ya sebenarnya ini nama lain dari peer presure juga sih. Dan udah hapal dong gimana dasyatnya peer presure memengaruhi pandangan objektif kita. Inget masa-masa ababil ketika lagi nge-trend rambut keriting papan trus minta capster salon menyulap rambut yang super lemes dan lurus untuk keriting papan. Bisa sih tapi ya cuman bertahan dua jam padahal bikin obatnya udah empat jam sendiri hahaha.

Oke kembali ke soal jadi mamak di jaman now. Sebenarnya dengan adanya “curhat” para mamak-mamak di sosmed ini ada untungnya juga. Apalagi buat mamak-mamak newbie kaya saya.

Keuntungannya, cukup ngetik apa yang menjadi kegelisahan dalam kalimat tanya di ponsel maka keluarlah berbaris-baris jawaban. Bisa jadi tidak selalu menjawab kegelisahan sih tapi minimal bisa menciptakan rasa, “Eh gua ternyata ngga sendiri, ada yang ngalamin juga.” Dan perasaan ini sangatlah menenangkan.

Ketika perasaan tenang sudah datang, maka bisikan-bisikan pun mulai menyusup. “Udah ikutin aja trik dia aja, toh anak dia baik-baik aja.”

Sebagai mamak newbie, saya tidak menutup mata atas rasa senasib dan sepenanggungan yang dibagikan para influencer. Mulai dari nyari tahu manajemen mompa ASI yang maksimal, milih ASI booster, menu MPASI, cara nyimpen bahan MPASI, beli bahan MPASI, sampe belanja baju anak yang murah di mana itu sangat terjawab di postingan-postingan mereka.

Tapi dasarnya saya orangnya curigaan, tiap kali baca postingan para influencer saya pasti konfirmasi. Konfirmasi ke mana?

Pertama ke dokter anak tentunya, sekarang kan rata-rata dokter bisa dihubungi via whatsapp. Memang sih mereka ngga langsung jawab, tapi setidaknya kita sekarang beruntung dibanding mamak-mamak kita jaman dulu yang kudu bayar jasa konsultasi kalau mau nanya ke dokter hehe. Jadi dimanfaatkanlah secara optimal kemudahan mengakses dokternya.

Malah sekarang banyak juga dokter-dokter yang punya akun media sosialnya. Mereka bukan sekadar bikin cuitan tentang topik kesehatan tertentu tapi juga suka bikin tanya-jawab yang bikin bahagia karena langsung dijawab sama ahlinya.

Kedua, saya juga cari tahu dari media-media mainstream yang kredibilitasnya sudah diakuilah. Kelebihan media mainstream ini adalah mereka bisa wawancara dokter atau praktisi kesehatan yang emang punya kapasitas untuk menjawab. Ibaratnya mereka “perpanjangan tangan” kitalah untuk bertanya kepada para pakar.

Dan ketiga saya menjelajah juga di website resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), WHO, plus jurnal-jurnal kesehatan yang terbuka umum. Tujuannya apa? Untuk melengkapi konfirmasi-konfirmasi dari dokter dan media dengan pengetahuan terbaru.

Iya saya serius banget orangnya kalau soal konfirmasi informasi. Katanya emang kudu gitu di era post truth ini. Apa dah itu era post truth?

Kalau kata Oxford dictionary, post truth is relating to or denoting circumstances in which objective facts are less influential in shaping public opinion than appeals to emotion and personal belief. Arti sederhananya, situasi dimana perasaan pribadi atau keyakinan lebih berpengaruh ketimbang fakta-fakta objektif. Atau bahasa awamnya, Gua percaya yang gua mau percaya aja lah, persetan itu fakta atau data objektif.

Ya wajar dong, namanya juga orangtua pasti mencari yang terbaik untuk anaknya karena itu kudu percaya kiat-kiat yang dipilih pasti udah yang terbaik. Mana ada orangtua yang mau mencelakakan anaknya. Itu juga pasti yang dikerjain sama si influencer-influencer itu saat bikin postingan, jadi ya ngga salah jugalah kalau gua ngikutin.”

Bisa jadi komentar itu muncul pas gua ngaitin antara pola pengasuhan anak dengan sosial media, influencer, dan post truth. Iya perspektif ini bisa dimengerti banget kok. Kadang saya berkata begitu juga ke diri sendiri. Tapi lagi-lagi saya kembali diingatkan pentingnya konfirmasi atas informasi yang berseliweran sosial media. Karena kalau sampai terjebak pada pemahaman pribadi dan mengabaikan fakta objektif, risikonya terlalu besar untuk ditelan.

Contoh sederhana aja, soal menu MPASI, ada yang menjalankan menu tunggal dan ada yang menu empat bintang. Menu tunggal itu kaya polos atau puree dengan satu komposisi gizi saja. Sedangkan menu empat bintang itu, memasukkan 4 komposisi gizi (karbohidrat, lemak, protein, buah/sayur) harus diberikan ke bayi ketika mulai makanan padat.

Untuk yang menjalankan menu tunggal, salah satu dasarnya adalah biar lebih cepat mendeteksi anak alergi apa aja. Plus kalau langsung beragam komposisinya, nanti dia kaget dengan rasa yang beragam itu. Ntar kalau kaget, bisa jadi malah malas makan. Sedangkan untuk menu empat bintang, ini sebenarnya direkomendasikan oleh WHO. Iya WHO bilang, MPASI komposisinya harus seperti ASI yang terdiri dari nutrisi makro dan mikro. Jadi kudu ada karbohidrat, lemak, protein hewani, protein nabati, serat.

Nah soal menu tunggal dan menu empat bintang ini, lumayan bikin polarisasi di antara para mamak-mamak. Apalagi kalau lihat ada influencer yang memberi makanan menu tunggal atau puree sayur dan buah sambil bilang, “Biar anaknya kalau udah gede akan lebih suka makan buah dan sayur.”

Padahal kalau kata Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K), bayi lebih perlu banyak lemak ketimbang banyak buah dan sayur. Kenapa? Karena kata dokter yang pakarnya nutrisi serta penyakit metabolik pada anak ini, otak bayi 85 persen terdiri dari lemak. Bahkan ASI saja 60 persennya adalah lemak.

Di acara diskusi Forum Ngobras yang saya datangin beberapa waktu lalu, Doktor Damayanti jelasin lagi kalau lemak dipakai untuk membantu pertumbuhan sel-sel otak yang begitu pesat di golden periode anak-anak yang berlangsung sampai umur 2 tahun. Selain lemak, otak juga perlu karbohidrat dan protein, khususnya protein hewani. Karena protein hewani punya asam amino esensial yang lebih lengkap ketimbang asam amino yang ada di protein nabati.

Nah kebayangkan kalau pas MPASI kita justru ngasihnya hanya puree buah atau sayur tanpa dilengkapi dengan protein hewani atau karbohidrat. Risikonya anak kita bisa kurang gizi atau gagal tumbuh.

Itu kenapa saya gatel banget mau nulis soal ini. Biar mamak-mamak tidak mudah percaya atas informasi yang beredar di sosial media. Rasanya kita emang harus jadi mamak-mamak yang strong menahan godaan terlihat kekinian biar mirip kaya “tokoh-tokoh” di sosial media, tanpa mencari tahu apakah yang mereka posting itu aman dan tepat untuk diaplikasikan. Ya begitulah di era post truth ini napas utamanya emang konfirmasi, konfirmasi, dan konfirmasi.Jadi selamat mencari kebenaran ditumpukan kabel optik hihihihi.

Author: