Narasi Tentang Kebahagiaan

admin


Saat saya menulis ini, saya tengah memasuki fase kebangun tiap dua jam sekali karena ada bayi yang minta susu. Iya bayi.

Puji Tuhan, mendekati usia pernikahan keenam tahun, anak baik itu pun datang.

Kami menamai dia, Mudita. Daniel yang memilih dipanggil Kapten ketimbang Bapak ini, sudah punya ide menamai anak perempuannya dengan Mudita di awal-awal pernikahan. Mudita adalah kata dari bahasa Sansekerta. Begini kira-kira artinya, Mudita is a pure joy unadulterated by self-interest. Arti dalam pengertian yang lebih serius; Mudita adalah kebahagiaan yang berasal dari dalam diri sendiri yang dapat menghilangkan rasa iri hati.

Ketika si Kapten mengajukan nama itu saya setuju karena membayangkan anak baik ini akan punya kemampuan untuk selalu merasa bahagia dalam setiap keadaan tanpa iri hati. Lalu kalau dipikir-pikir cara Tuhan menghadirkan Mudita juga cukup mengajarkan kami untuk tetap bisa memiliki rasa bahagia dalam setiap tahapan yang harus di hadapi. A pure joy.

Mudita, Tabungan Embrio Yang Terakhir

Mudita hadir melalui proses bayi tabung. Dia adalah “tabungan” embrio kami yang terakhir. Saya pernah bercerita di sini tentang proses bayi tabung pertama yang hanya berhasil menghadirkan janin dalam  dalam rahim saya selama enam minggu. Diproses yang kedua, “tabungan” embrio kami yang dibekukan tinggal tiga dan semuanya dimasukkan ke dalam rahim. Tadinya saya mau embrionya dimasukkan satu-satu saja, berharap bisa memperpanjang kesempatan untuk selalu mencoba. Tapi cost-nya terlalu mahal, baik secara finansial maupun secara fisik dan psikis.

Maka dilakukanlah proses bayi tabung yang kedua yang secara manusia biasa tetap bikin tegang dan trauma. Sulit menemukan pure joy dalam kondisi begini. Tapi saat masa pemulihan dari proses kegagalan bayi tabung yang pertama, saya dan Kapten berjanji untuk tetap setia serta taat kepada Sang Pemberi Kehidupan.

Secara prosedur proses bayi tabung yang kedua lebih pendek karena tidak perlu stimulasi sel telur lagi. Ya tetap disuntik-suntik sih tapi tidak sebanyak yang pertama. Bahkan di proses yang kedua ini saya memberanikan diri untuk suntik sendiri. Entah karena saya benar-benar siap atau berusaha menganggap semua prosedurnya biasa saja jadi tidak perlu takut salah seperti yang pertama, sampai meminta tolong kenalan Mama yang perawat untuk menyuntik. Atau jangan-jangan saya coba menekan biaya dengan suntik sendiri hahaha…apapun itu rasanya ketiga alasan ini cukup membuat saya percaya diri untuk suntik tiap hari di perut.

Bagaimana secara mental? Saya lebih berserah aja, sambil belajar untuk tidak menargetkan banyak hal. Mungkin terkesan kok kaya malah ngga excited ya? Percayalah saya selalu excited jika bicara tentang usaha punya anak, hanya saja kali ini porsinya lebih banyak mengumpulkan kebahagiaan dari diri sendiri agar kuat menghadapi hasil akhirnya nanti.

Lalu saya kembali dinyatakan hamil. Kami bahagia tapi masih berjaga-jaga. Bahagia yang berjaga-jaga itu rasanya janggal buat orang yang sangat ekspresif seperti saya. Tapi lagi-lagi saya kembali melihat kalau saya tengah diajarkan untuk menemukan definisi kebahagiaan dari sisi yang lain.

Tapi namanya trauma dentuman rasanya selalu lebih kuat ketimbang kemampuan diri untuk berpikir positif. Saya sampai bilang ke si Kapten, “Kira-kira nanti layar USG-nya kasih gambar apa ya?”

Jantung saya kembali berdetak teratur ketika layar USG tak hanya menunjukkan bulatan kecil seperti proses bayi tabung yang pertama, tapi ia juga berkedip-kedip cepat serta mengeluarkan suara ketukan yang teratur dan kencang. “Wah hidup nih…hidup,” kata dokternya antusias.

Saya dengan lugunya bertanya, “Apanya yang hidup, Dok?”

“Janinnya. Ini suara detak jantungnya kencang banget, nah yang kedip-kedip ini jantungnya. Selamat ya Bu, janinnya berkembang.”

Saya hanya memandangi si Kapten dengan isi kepala yang dipenuhi segala rasa bahagia yang sesekali bertabrakan dengan pertanyaan-pertanyaan tidak percaya.

Tapi kan kehamilan bukan hanya enam minggu. Masih ada sekitar 34 minggu lagi yang harus dilalui. Setiap kali jadwal periksa, jantung saya sesekali menyelipkan nada-nada kuatir. Dan setiap kali nada-nada kuatir itu berdentang, saya mengumpulkan stok momen-momen bahagia.

Dan Persalinan Itu Pun Tiba

Tuhan pun membolehkan kami memasuki awal masa kehamilan dengan sangat lancar. Saat usia kehamilan empat bulan, Kapten sudah mulai memanggil janin dalam perut saya dengan Mudita. Sedikit banyak ini memengaruhi saya untuk mulai berani membentuk rasa bahagia. Apalagi ketika layar USG semakin jelas menampakkan wujud janin yang telah menjadi bayi dalam rahim, saya jadi mengerti bagaimana rasa cinta seorang calon ibu kepada janin yang tengah tumbuh dalam rahimnya.

Puji Tuhan semuanya lancar sampai di proses persalinan, bahkan boleh dibilang Tuhan mengabulkan semua permintaan saya dan Kapten. Kami ingin sekali Mudita melalui proses Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sesaat setelah dilahirkan. Kami juga ingin Mudita bisa rooming in atau bayi dan ibu dirawat dalam satu kamar sepanjang masa pemulihan pasca persalinan. Dan Tuhan mengabulkan itu semua. Kita bahkan bisa dengan mudah pindah ke rumah sakit yang memang dikenal menjalankan standar pelayanan IMD serta rooming in. Bahkan tanpa perlu pusing-pusing Tuhan juga mengatur agar dokter yang membantu proses persalinan adalah dokter yang memeriksa saya di awal pernikahan. Jadi kami ganti dokter bukan karena dokter yang mendampingi proses bayi tabung tidak cocok tapi lebih kepada kondisi teknis saja.

Maka tibalah pada proses persalinan. Yang mengantar saya ke kamar operasi banyak, ada Mama, Abang, Adik, Mama Papa Mertua, Uda serta Inang Uda Ine dengan dua adik sepupu saya. Apalagi beberapa teman saya, Ika, Rizka dan Hendra pun kemudian ikut datang menunggu di luar ruang operasi. Jadi bisa dibilang nyaris satu RT yak yang nganterin hehe. Tapi saat masuk kamar operasi tidak boleh ada yang ikut, bahkan si Kapten sekalipun. Ini rada sedih sih karena rasanya kaya mau masuk wahana misterius sendirian.

Rasanya semakin campur aduk ketika saya dipersiapkan untuk masuk ke ruang operasi. Untuk membuat pikiran saya tidak terlalu tegang saya nyanyi-nyanyi saja, kalau berdoa sudah pastilah. Dan ada saat di mana saya tiba-tiba teringat Bapak. Karena hari itu tepat tiga bulan lewat sehari dari kepulangan Bapak ke surga. Sempat nangis juga, tapi hati kecil saya bilang,Sudah jangan nangis, percayalah Bapak juga ikut melihat semua prosesnya kok.

Akhirnya pikiran saya teralihkan karena beberapa perawat menanyakan persiapan saya. “Bagaimana Ibu, ada keluhan yang dirasakan? Ibu punya riwayat hipertensi atau diabetes?” Pikiran saya semakin teralihkan ketika beberapa diantara mereka juga penasaran sekali dengan proses bayi tabung saya. Belakangan saya tahu dari salah satu perawat kalau dokter kandungan saya menekankan timnya untuk lebih teliti. “Ini bayinya bayi tabung, high value baby.” Saya jadi makin diingatkan bagaimana perjalanan kami sampai pada titik ini. Titik di mana dalam hitungan jam, bayi yang sudah lama kami tunggu-tunggu hadir juga. Apakah dia sehat? Mirip siapa dia ya?

Lalu dokter anastesi pun menyuntikkan obat bius dari sela-sela tulang punggung saya. Bius epidural. Beberapa teman saya yang melalui proses persalinan yang sama cerita kalau bius ini lumayan sakit ketika disuntikkan, tapi saya beruntung karena tidak merasa begitu. Entah mungkin rasa deg-degan dan tak sabaran untuk ketemu Mudita menutupi rasa sakit itu.

Saya merasa biasa saja sampai pinggang hingga ujung kaki terasa kebas. Aneh rasanya. Saya seperti tahu kalau mereka sedang membentangkan kain di atas perut saya tapi kulit saya tidak merasakan apa-apa. Saya tidak bisa melihat bagaimana persisnya mereka mempersiapkan perut saya untuk dioperasi, karena ada kain hijau menghalangi pandangan.

Dokter kandungan saya pun akhirnya masuk. Dokter dan tim kemudian berdoa, saya ikut-ikutan memejamkan mata juga meski tidak diajak berdoa hihihi. Dokter lalu menyemangati saya dan memberi aba-aba kepada timnya untuk memulai proses operasi.

Hal yang tidak menyenangkan dari proses operasi dengan bius yang tidak full adalah kita bisa dengar apa yang dikatakan dokter kepada timnya. Setiap kali dia memerintahkan sesuatu dengan istilah medis yang saya tidak mengerti, langsung pikiran saya bertanya-tanya, Apa abis ini Mudita keluar ya? Oh belum…perut gua lagi diapain ya? Abis ini kali Mudita keluar. Eh kok belum ada suara tangisnya. Udah keluar apa belum sih?

Sampai dokter anastesi yang berdiri di belakang saya tiba-tiba menjulurkan tangannya masuk dari sela-sela dada saya, tepat di ulu hati sambil menunggu instruksi dari dokter kandungan. “Oke dorong….”

Dan terdengarlah suara tangisan yang kencang. “Wih nangisnya kencang sekali. Halo Mama ini anaknya.”

Saya tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasanya ketika itu. Saya merasa sangat bahagia. Rasa bahagia yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Mudita terlihat sangat putih meski wajahnya masih ada lendir-lendir. “Wah dia cantik sekali.” Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut saya. Saat itu rasanya pengen nyubit lengan sendiri tapi tidak bisa karena kedua tangan saya tengah ditempel berbagai macam alat.

Mudita kemudian diberikan kepada dokter anak dan timnya. Mata saya mengikuti ke mana dia pergi, saya sudah tidak peduli apa yang dilakukan dokter dengan perut saya. Saya hanya mau peluk anak saya. Kapan dia ditempelin ke dada saya untuk IMD ya?

Saat sedang bertanya-tanya penasaran begitu, tiba-tiba dokter kandungan menunjukkan sesuatu. “Ibu lihat deh ini tali pusarnya.”

Saya memandang tali pusar itu sambil menunggu keterangan tambahan dari dokternya. “Duh ini nyaris banget. Waktunya memang pas kita tindakan sekarang. Sedikit aja bayi bergerak, tali pusarnya ketarik trus ngga ada makanan serta oksigen ke bayinya.”

Saya lalu memelototi tali pusar itu. Jedanya memang tipis sekali. Bayangkan saja seperti tali yang kelibet dan hanya menyisahkan jeda beberapa sentimeter hingga benar-benar menjadi simpul mati. “Ini karena tali pusarnya kepanjangan dan bayinya aktif bergerak jadinya kelibet sendiri,” dokter kembali menjelaskan. “Kita beruntung banget, Bu. Yang kaya begini biasanya yang bikin kasus bayi meninggal di dalam perut tanpa ketahuan.”

Dan seketika itu juga saya menangis. Saya bersyukur sekali Tuhan mengatur semuanya dengan sempurna. Pemilihan tanggal yang hanya karena alasan teknis, pertengahan minggu biar tidak kepotong weekend yang bisa jadi membuat dokternya tidak visit, ternyata menjadi waktu yang paling baik yang Tuhan tetapkan.

Tidak berhenti sampai di sana. Semalam sebelum operasi, para perawat memeriksa denyut jantung Mudita yang masih dalam rahim saya. Perawat menduga mungkin karena saya lapar membuat Mudita kurang tenaga untuk bergerak. Alhasil saya diberi segelas teh manis hangat dengan harapan bisa menambah tenaga dan membuat Mudita aktif bergerak. Segelas teh manis sudah diminum, para perawat kembali memeriksa, gerak Mudita masih dianggap kurang lincah. Mereka pun minta ijin untuk menekan-nekan perut saya sebagai cara untuk memancing Mudita bergerak. Masih sama. Mudita malas bergerak. Sedikit banyak situasi itu membuat saya kuatir, meski saya coba menyakinkan para perawat dan diri sendiri kalau Mudita memang lebih lincah bergerak ketika larut malam.

Ketika saya mengingat peristiwa malam sebelum operasi itu, rasa haru kembali membasahi kedua mata saya. Bayangkan kalau pada saat perut saya ditekan-tekan untuk memancing Mudita bergerak dan Mudita merespon dengan bergerak lincah, maka tali pusatnya akan tertarik kencang hingga membentuk simpul mati yang kuat. Malam itu bisa jadi kami kehilangan Mudita.

Setiap kali mengingat dan menceritakan momen itu, saya tidak bisa menutupi rasa haru. Jantung saya selalu gemetar dan napas saya berakhir lega ketika saya menceritakan hampir ke setiap orang yang melihat Mudita semua prosesnya. Kenapa saya selalu menceritakan bagian itu? Karena saya menuturkan bagaimana indahnya narasi yang Tuhan buat ketika menghadirkan Mudita.

Dan kini Mudita tepat berumur sebulan. Saya kurang tidur, ini sudah pasti. Saya masih kuatir setiap kali melihat seperti ada yang tidak beres dengan Mudita. Bahkan saat berumur 18 hari, Mudita sudah saya larikan ke UGD karena dia muntah banyak sekali. Sampai di UGD semuanya diperiksa dan Mudita dinyatakan baik-baik saja. Malah di UGD itu saya tahu kalau berat badan Mudita sudah melebihi berat badannya ketika lahir. Ini pertanda baik, karena menurut dokter anaknya, berat badan bayi baru lahir ketika memasuki minggu kedua minimal kembali ke berat badan pada saat lahir.

Seketika definisi kebahagiaan saya berubah, ya berat badan anak yang terus naik, ya intensitas buang air kecil dan besar anak yang lebih dari lima kali sehari (lagi-lagi menurut dokter ini adalah indikasi anak mendapatkan ASI yang cukup), sampai anak berhasil untuk sendawa. Pencapaian-pencapaian yang sangat sederhana tapi rasa bahagianya luar biasa.

Saya dan Kapten masih harus banyak belajar bersama Mudita. Karena itu doakan kami agar selalu bisa menemukan banyak kebahagiaan dalam proses pembelajaran ini. Dan untuk Mudita, harapan Kapten serta Mima, Mudita bisa menjadi anak yang takut akan Tuhan dan penuh cinta kasih. Hanya dua hal ini Nak, setidaknya menurut Kapten dan Mima, yang bisa membuat hidupmu penuh rasa bahagia. Terima kasih Tuhan sudah memberikan kami, khususnya saya kemampuan untuk merasakan cinta yang begitu memperkaya batin.


Author: