Sekeping Ingatan Cinta Dari Mama

admin

“Mama, Mentari hamil!”
Mama yang tadinya duduk bersandar di sofa dengan mata kosong menerawang, langsung lompat mendengar kabar baik itu. Kedua pupil matanya membesar dan warna merah pecah di kedua tulang pipinya.
“Puji Tuhan Mentari, sudah berapa bulan?” tanya Mama sambil mengusap-usap perutku.
“Baru dua bulan, Ma,” jawabku terbata-bata karena melihat kedua mata Mama begitu terisi. Aku rindu melihat Mama yang begitu sadar akan keberadaanya.

“Kamu jangan terlalu capek. Tunggu di sini Mama buatkan bubur kacang hijau ya,” ucapnya sambil menuntun pundakku agar terduduk tenang di atas sofa yang selalu jadi tempatnya mengumpulkan ingatan.

Ia lalu melangkah gesit ke dapur. Bahkan sambil bersenandung. Oh Tuhan sudah lama tak ku lihat Mama seperti ini. Ia seperti mendapatkan kembali instingnya untuk merawat anaknya. Sudah sembuhkah Mama?
“Ma…af…maaf…sepertinya Anda menduduki bangkuku.”

Hanya dalam lima menit, Mama kembali ke kamarnya. Tatapannya kembali asing. Memorinya persis dibakar matahari ludes tak berjejak.

Kedua mataku terasa panas. Ada air mata yang siap-siap terjun bebas, tapi ku tahan. Kalau mama melihatku menangis, dia pasti ketakutan lalu teriak histeris.

Mama makin terlihat kikuk. Ia tak berani menatapku. “Mama ngga kenal Aku?” tanyaku lembut, berharap jalinan memorinya bisa cepat terbentuk.
“Maaf, Kamu siapa? Boleh aku duduk lagi di sofaku?”
Aku tertunduk layu. Ku usap perutku sambil berkata dalam hati, sabar Nak, Ompung1 masih berjuang melawan Alzhameirnya. Kita tidak boleh lelah untuk ingatkan Ompung kalau kamu akan hadir, meski mungkin ingatan itu hanya bertahan beberapa detik.

Esok paginya, giliran Bene yang menuntun Mama ke meja makan karena serangan mual di pagi hari membuatku lebih nyaman berbaring di tempat tidur sambil mencuri dengar percakapan di ruang makan.

“Mama, pagi ini Mentari tidak bisa menemani kita sarapan bersama.” Bene membuka percakapan. Mengawali percakapan dengan pasien Alzhameir ibarat membuka kotak pandora, kita tidak pernah tahu memori mana yang terpanggil.

Sepi, tak ada balasan. Jika mama tidak membalas artinya dia tengah memanggil memori tentang siapa lawan bicaranya. “Ini Bene, Ma, menantu Mama, suami Mentari,” ucap Bene tenang.

“Hari ini, kita sarapan bubur kacang hijau Ma. Aku sekalian buatkan untuk Mentari.”

Mama masih saja diam. Butuh waktu memang untuk menyakinkan Mama kalau kami bukanlah orang asing. Ini adalah ritual yang paling menyayat hati, mengingatkan mama kalau kita adalah anak-anaknya.

“Kata Mentari, dulu setiap kali ada ibu hamil periksa pasti Mama suruh suaminya untuk memasakkan bubur kacang hijau buat istrinya. Mulai hari ini aku akan masakkan bubur kacang hijau untuk Mentari, biar janin di perut Mentari bisa sehat terus dan rambutnya tebal persis kaya Mama.”

“Mentari hamil? Astaga, kenapa kamu baru kasih tahu Mama? Apa kalian tidak menghargai Mama lagi?” Tiba-tiba tangis Mama pecah di ruang makan.

Aku yang sedari tadi berbaring langsung punya tenaga untuk bangkit dari tempat tidur dan menghampiri mama yang terisak di meja makan. Bene terlihat bingung mengendalikan situasi. Tangan kananku memberi aba-aba, meminta Bene untuk tetap duduk.

“Loh kok Mama nangis? Tadinya kami mau kasih surprise buat Mama, eh Bene cerita duluan,” ucapku lembut sambil menghapus satu per satu bulir air matanya.

Sedetik mata yang tadinya berhamburan air mata itu tetiba kebingungan. Dia pasti bertanya-tanya, siapa perempuan yang mengusap air matanya ini.

“Ini Mentari, Mama. Anak Mama. Lihat nih, hidungnya mirip kan dengan hidung Mama,” ucapku sambil menunjuk ke hidungnya. “Nih warna matanya sama-sama cokelat.” Aku terus saja berusaha memanggil memori-memori dasar mama.

Kini matanya berbinar-binar. Tulang pipinya menyembul dan garis tawanya tertarik lebar sekali. “Astaga Mentari, kamu masih ingat sama Mama,” ucap Mama sambil memelukku erat-erat.

Sekarang giliran air mataku yang minta ijin untuk berhamburan, tapi kuseka cepat sebelum ia membasahi punggung mama.

Setiap hari berita tentang kehamilanku selalu terdengar baru di telinga Mama. Berkali-kali sudah kutunjukkan kertas-kertas USG bahkan seringnya juga mama mendengar rekaman detak jantung si janin. Ini semua demi memberitahu mama kalau anak perempuan satu-satunya ini tengah dipersiapkan untuk menghadirkan kehidupan baru di dunia.

Pernah aku beri tahu mama dengan menunjukkan baju-baju bayi yang sudah ku beli. Tapi mama justru marah. “Mama ini dokter kandungan, Mentari, kenapa kamu baru kasih tahu sekarang? Apa kamu tidak percaya Mama?” ucap Mama ketika itu sambil menunjuk-nunjuk mukaku dan kemudian masuk ke kamarnya sambil membanting pintu.

Emosiku akhirnya pecah. Aku menangis sejadi-jadinya dan mengutuki alzhameir mama yang selalu menolak untuk menyimpan secuil memori tentang kehamilanku. Bulat sudah, aku tak mau lagi mengulang ritual memberi tahu mama kalau aku hamil. Percuma, mama tidak akan pernah ingat!

Hari-hari pun berlangsung biasa, meski perutku terus saja membesar tapi mama tidak pernah bertanya apa-apa. Kadang memang matanya seolah bertanya-tanya, tapi kubiarkan saja. Aku takut kalau reaksi mama justru seperti waktu itu, kecewa karena mengira aku tak pernah memberitahunya tentang kehamilan ini.

Hingga malam ini, mama tiba-tiba bertanya. “Mentari, kamu sedang apa?”

Sebelum menjawab, aku menarik napas panjang karena perut yang semakin besar ini membuat energiku tak cukup banyak untuk meladeni mama. “Sebentar lagi Mama dijemput Abang. Dion dan Mario sudah kangen sekali dengan Ompungnya,” jawabku datar sambil terus memasukkan baju-bajunya ke koper.

“Ke rumah Abang? Siapa itu Dion dan Mario?”

Aku kembali tarik napas panjang, berharap paru-paruku dapat terpenuhi oksigen dengan maksimal sehingga dapat meredam sedikit rasa kesal di dadaku. “Dion dan Mario itu anak-anaknya Abang, cucu-cucu Mama,” jelasku sambil berjalan ke arahnya untuk mengambil selimut kesayangan mama dari tempat tidurnya.

“Astaga Mentari, hamilmu sudah besar sekali!” Mama malah antusias berkomentar sambil kedua tangannya meraba-raba perutku.

Aduh…jangan sampai dia emosi lagi. Gerutuku dalam hati sambil menutup keran emosiku agar tidak meletup-letup seperti air mendidih.

“Bayimu sepertinya sudah di jalan lahir ini. Kamu akan lahiran sebentar lagi boruku hasian2. Apa sudah makan bubur kacang hijau kau?”

Aku terdiam. Mendengarnya memanggilku boru hasian seolah mengembalikan mamaku yang dulu, jauh sebelum Alzhameir itu merampasnya dariku.

“Mama masakkan buatmu. Biar kalian kuat.” Mama berlari semangat ke dapur.

Aku tak tahu apakah harus menghentikannya atau membiarkannya. Ah paling tak lama mama kembali ke kamar dan bertanya aku ini siapa dan sedang apa di kamarnya. Jadi aku duduk saja di tempat tidurnya sambil meluruskan kedua kakiku.

Lima menit berlalu, mama masih belum muncul. Aku masih membiarkan. Sepuluh menit berlalu, masih belum ada gelagat Mama masuk ke kamar. Ah mungkin Mama sedang duduk di bangku kesayangannya di depan. Dia pasti sempat melirik ke kamar dan melihat ada orang asing jadi dia takut untuk mengubrisku. Jadi ya sudahlah.

“Mentari….Mentari, boru hasian.”

Aku terbangun, entah sudah berapa lama aku tertidur.

“Maaf kelamaan boru. Ini Mama buatkan bubur kacang hijau.”

Mama berjalan hati-hati ke arahku. Tangannya membawa nampan yang di atasnya ada mangkuk dengan asap yang mengepul.

“Maaf ya kalau Mama selalu lupa buatkan untukmu, boru hasian.” Melihat kedua mata mama begitu berbinar penuh cinta ketika mengucapkan semua itu membuatku merasa sebagai pemenang.

“Mama doakan persalinanmu lancar. Bawa pulang cucuku dengan sehat ya,” lanjut Mama sambil menyuapkan bubur kacang hijaunya padaku yang tak bisa menahan air matanya berhamburan.

“Mentari akan selalu mencintai Mama dalam keadaan apapun,” ucapku sambil menikmati kepingan keteduhan di mata mama. Rasanya hanya kepingan ini yang tidak berhasil diredupkan oleh Alzhameir dalam ruang memori kepala mama.

1 Ompung = Panggilan untuk kakek dan nenek dalam bahasa Batak.

2 Boruku hasian = anak perempuanku sayang

Author: