Untuk Bapak Terbaik di Dunia

admin

Halo Pak,

Apa kabar di surga? Sudah baca surat yang Priska selipkan di kantong jasmu? Selain Priska, cucumu, Kaka Yeye juga bikin surat. Sederhana tapi sangat penuh makna.

Pesannya hanya, “Opung Doli, sehat selalu di surga.” Lalu dia buat gambar Bapak dan Kaka Yeye lagi makan di restoran. Hihihi pintar cucumu, Pak.

Kalau suratku, panjang! Aku tulis tangan sebanyak lima lembar, bolak-balik! Hahaha maklum borumu ini paling lancar kalau nulis.

Pak, kami masih belajar menyesuaikan diri dengan perubahan situasi yang cepat ini. Selasa kemarin, tepat seminggu kau berpulang. Aku masih ingat betul bagaimana gejolak emosi di Selasa subuh, 20 Maret itu.

Di hari Seninnya Priska pulang dari rumah sakit sekitar jam 9 atau 10 malam karena sudah seharian di rumah sakit sama Abang. Saudara-saudara yang jenguk Bapak malam itu ramai sekali. Semuanya menyuruh aku pulang cepat karena kasihan melihat kehamilanku yang semakin membesar harus berlama-lama di rumah sakit.

Kadang Priska kesal sih, aku kan pengen jagain kamu ya. Tapi kamu juga beberapa kali bilang, disaat kesadaranmu masih baik, biar Priska jangan lama-lama di rumah sakit. Kamu mau aku tetap sehat biar bayi dalam kandunganku juga sehat. Kita tunggu bayi ini lama ya Pak, 5 tahun, baru dia ada di rahimku.

Kesedihanku adalah, Bapak ngga bisa lihat bayiku lahir, padahal tinggal 3 bulan lagi kalau semuanya lancar. Tapi aku juga ngga boleh egois dengan minta Bapak untuk terus ada sampai bayiku lahir meski itu berarti Bapak harus berjuang melawan sakit lebih lama. Aku ngga tega lihat Bapak bergulat dengan rasa sakit itu. Jadi ketika dokter menceritakan kondisi Bapak, kita belajar untuk mendampingi Bapak dengan memberikan momen-momen terbaik di sisa waktu Bapak.

Kok aku jadi sedih ya, Pak.

Ah tapi kan sekarang Bapak udah ngga kesakitan. Itu yang penting. Bapak udah ketemu sama Angela kan, anak Bapak yang cantik itu ❤

Pak, Priska juga masih ingat bagaimana ketika kami dijemput ke rumah oleh Uda dan Inang Uda Nadya setelah Mama bilang kalau kondisi Bapak kritis. Tadinya aku diminta untuk ngga ikut ke rumah sakit, tapi aku menolak. Maklum aku selalu membangkang memang. Bapak pasti hapal sifat Priska yang ini kan.

Di mobil ketiga anakmu berpegangan tangan, Pak. Priska nangis, karena dijemput jam 12 malam untuk ke rumah sakit bukanlah pertanda baik.

Sampai di rumah sakit, tensi Bapak semakin ngedrop. Perawat lalu memasukkan dopamin melalui infus untuk menaikkan tekanan darah Bapak, dan mereka mulai memasang kabel-kabel di dada Bapak untuk mengukur detak jantung dan kadar oksigen dalam darah.

Begitu semua terpasang, angka di monitor hanya dalam hitungan puluhan. Rendah sekali. Meski Priska tidak tahu cara membacanya secara medis tapi angka puluhan itu bukan pertanda baik.

Lalu kami menangis. Sambil menunggu dopamin bisa menaikkan tekanan darah Bapak, Mama meminta kami untuk memberikan aek sitio-tio (air jernih). Priska tidak mengerti ini apa, tapi aku percaya pasti Mama melakukan yang terbaik untuk Bapak.

Air dari gelas kemudian diteteskan Mama ke mulut Bapak. Beginilah kira-kira Mama berucap, “On ma aek sitio-tio da Pak, asa tio pardalanannmu.”

Secara sederhana, ucapan Mama itu berarti, Inilah air jernih untukmu ya Pak, biar jernih atau lancar perjalananmu. Dari sini Priska menyadari, bahwa pemberian aek sitio-tio itu juga menjadi cara kami untuk menyiapkan diri jika Bapak memang harus melanjutkan perjalanan bersama Tuhan ke surga. Kami ingin Bapak tahu bahwa semua anak dan menantu serta cucumu, menyerahkan Bapak kepada Tuhan dengan hati yang jernih.

Berat sih Pak sebenarnya tapi semenjak para dokter menyatakan penyakit Bapak semakin berat, kami sepakat untuk menggantikan rasa sakit Bapak dengan kualitas kebersamaan. Semoga kebersamaan itulah yang lebih Bapak ingat ketimbang rasa sakit yang mendera.

Maka pemberian aek sitio-tio pun digilir. Setelah dari Mama, lalu ke Raymonth. Dia meneteskan tiga kali karena dua tetesan terakhir adalah mewakili menantumu yang juga sedang hamil dan cucumu. Lalu tibalah giliran aku, Daniel dan Marshal.

Priska ingat sekali ketika Mama bilang akan memberikan aek sitio-tio ke Bapak, Bapak merespon dengan mengangguk dan berkata, “Ya,” dengan suara yang tersisa. Respon ini buat Priska menandakan kalau Bapak juga sudah siap.

Tapi apakah rasa siap itu berarti tidak berharap Bapak bisa membaik? Entahlah, tapi Priska memilih mengajak semua yang menemani Bapak malam itu untuk berdoa. Doa yang penuh air mata karena di situasi seperti itu kita ternyata tidak pernah tahu bagaimana mendefinisikan mujizat yang kita minta.

Dan akhirnya doa itu hanya berisi tentang keberserahan. Iya Pak, keberserahan.

Kami menyerahkan semuanya pada Tuhan. Apapun hal yang terjadi nantinya, Tuhan pasti sudah siapkan yang terbaik untuk kami, terlebih untuk Bapak. Lalu kami mengakhiri doa itu dengan Doa Bapak Kami, doa yang selalu Bapak suka.

Setelah berdoa monitor masih saja menampilkan angka-angka yang menurun. Detak jantung yang menurun. Kadar oksigen yang menurun. Semua angka-angka yang berkurang itu seolah jadi penanda betapa dibatasinya waktu kebersamaan kita, Pak.

Akhirnya Priska memilih untuk duduk di samping Bapak. Priska genggam tangan kiri Bapak sambil mengusap-usap punggung tangan Bapak. Melihat angka-angka itu kadang naik tapi sedetik kemudian turun, akhirnya Priska pilih bersenandung. Mulai dari lagu-lagu gereja yang terlintas di kepala sampai lagu-lagu Beatles.

Iya Bapak kan suka sekali sama lagu-lagu Beatles. Sebelumnya, di siang harinya, Priska juga pasang lagu Beatles dan Bee Gees saat jagain Bapak yang sesekali tertidur ketika rasa sakit sedang diredam oleh pil penghilang rasa sakit. Ini Priska lakukan demi menambah momen-momen bahagia yang bisa Bapak ingat.

Priska terus bersenandung sampai kemudian monitor berkali-kali mengedipkan lampu merah, lalu dokter jaga serta suster masuk ke kamar dengan pergerakan yang terburu-buru. Priska masih usap-usap terus tangan Bapak, dan sesekali Priska bilang, “Bapak jangan takut ya, kita semua di sini temanin Bapak, kita semua sayang Bapak. Sebentar lagi Bapak udah ngga sakit, pegang tangan Tuhan ya Pak.”

Terdengar berani sekali ya Pak, Priska bilang gitu. Seolah-olah Priska siap dan kuat. Padahal dalam hati, Priska luluh lantak. Tapi membayangkan Bapak tidak harus kesakitan lagi, membuat Priska percaya that you are in a good hand.

Dan kemudian situasi kamar jadi sangat chaos. Priska diminta untuk berdiri. Dokter dan perawat bekerja serba cepat. Lalu terdengar suara, “Code blue…code blue…kamar 314 code blue…”


Setelah itu kami semua di suruh keluar. Dan begitu keluar dari kamar, Priska ngga kuat, Pak. Priska peluk abang erat-erat. We cry together. Priska cuman bilang, “We did our best right? We already give our best buat Bapak.”

Tak lama setelah itu dokter jaga menghampiri kami. Bertanya apakah keluarga setuju untuk tidak dilakukan resutasi. Sekilas menyetujui ini seolah tidak memberikan Bapak kesempatan untuk diselamatkan. Jika kami menyetujui ini apakah itu artinya we are not fight for your life? Seumur hidup kami, Bapak berjuang untuk kami dan sekarang kami harus dihadapkan pada pilihan seolah tidak bisa melakukan apa-apa. Ah berat sekali pilihan ini Pak.

Tapi lagi-lagi kami ingat kesepakatan di awal, kalau kami tidak tega membiarkan Bapak terlalu kesakitan. Resutasi itu bisa berisiko banyak hal terhadap organ dalam Bapak dan ini artinya Bapak akan merasa semakin kesakitan.

Berat sekali Pak. Keputusan berat yang harus dibuat begitu cepat. Raymonth sampai tidak berani berkata. Dia hanya masuk ke kamar. Mencium Bapak, berbisik, mencium, menangis, lalu keluar kamar. Mama juga begitu dan Marshall, lalu Daniel. Ketika giliran Priska, aku hanya bilang, “I love you, Pak. You will always be my hero. Thank you for everything you have done for us. Priska sayang Bapak.”

Setelah itu, Priska berikan persetujuan secara lisan untuk Do Not Resuscitate. Semoga dengan demikian, kerinduan terbesar kami untuk memberikan momen-momen indah untuk Bapak dalam waktu yang begitu dibatasi bisa menghapus semua rasa sakit yang Bapak rasakan selama di rumah sakit.

Banyak orang yang tidak percaya Bapak sudah tidak ada. Mereka kaget mendengar kabar dukanya. Karena beberapa dari mereka masih menjenguk Bapak di rumah sakit. Bapak masih bisa diajak diskusi, meski sesekali obat penghilang nyeri bikin Bapak tertidur. Bahkan Bapak masih bisa diajak bercanda ketika awal-awal Bapak balik dari Guangzhou.

Priska jadi ingat sewaktu Bapak sampai di Jakarta selesai perjalanan berobat di Guangzhou, hal yang pertama Bapak bilang adalah, “Konsistensi. Apapun yang kau kerjakan harus konsisten.” Priska senyum aja saat itu, karena Bapak masih bisa kasih kata-kata bijak kok jadi ya dia masih sehatlah.


Lalu kita bercandain juga Bapak soal Bapak yang dijemput dengan voorijder dari bandara ke rumah sakit karena kebaikan saudara yang begitu sayang sama Bapak. “Udah kaya mentri nih, Abang, dijemput vooridjer dari bandara” Uda Bangun menggoda Bapak malam itu.

Dan respon Bapak, “Yang saya pelajari dalam hidup, berteman itu dasarnya bukanlah uang tapi kepedulian.” Lalu kita bertiga tertawa. Priska ingat betul Bapak tersenyum lebar juga saat itu.

Tuh kan Bapak masih tetap ajarin kami tentang filosofi hidup meski malam itu UGD rumah sakit yang kami datangi tidak melakukan banyak hal untuk membantu Bapak. Bahkan stateskop dan selang oksigen saja tidak diberikan, walau mereka lihat Bapak begitu semangat menjelaskan penyakit Bapak meski dengan napas yang satu-dua.

Tapi benar Pak, pertemanan itu memang dasarnya kepedulian. Karena setelah semalaman Bapak di rumah tanpa bantuan oksigen, Bapak masih mencoba untuk kuat. Dan pagi harinya salah satu dokter yang begitu peduli sama Bapak, membuka tangan untuk merawat Bapak. Kita selalu punya cerita sendiri tentang dokter ini, dan dia konsisten Pak, konsisten peduli sama Bapak.

Priska menulis semua cerita ini adalah sebagai cara untuk mengubah rasa kehilangan menjadi rasa cinta yang terus tumbuh. Karena sebenarnya kami masih belajar dengan segala situasi baru ini.

Rumah jadi sepi, Pak. Karena biasanya pagi-pagi Bapak pasti nonton berita di ruang tamu. Banyak memori di ruang tamu kita ya Pak. Kita sering diskusi sampai larut malam di ruang tamu. Diskusi soal filsafat, adat, sesekali politik, dan hal-hal ringan lain yang bikin ruang tamu selalu ramai. Atau ritual tiup lilin setiap ada yang ulang tahun juga kita lakukan di ruang tamu. Menyenangkan sekali momen-momen itu ya Pak.

Sekarang, kami masih belajar memaknai ketidakhadiran Bapak di tengah-tengah kami. Mama masih suka menangis. Dapat dimengerti, dia telah kehilangan teman hidupnya. Ini pasti berat buat Mama, setelah 40 tahun berbagi hidup bersama, kini dia harus belajar untuk memaknai kehadiran Bapak dalam ingatan.

Teman hidupmu itu hebat, Pak. Sehari sebelum Bapak pergi, Mama tiba-tiba minta digantikan untuk menjaga Bapak di rumah sakit. Alasannya, dia mau istirahat sebentar. Tapi di rumah, Mama bukannya istirahat, dia malah merapikan rumah. Kursi-kursi dia tata dan beberapa meja dia pindahkan ke atas. Ruang tamu jadi terlihat lebih beruang. Bukan cuma itu, Mama bahkan menyiapkan jas, kemeja, celana, dan dasi untuk Bapak. Dia seperti merasakan sesuatu meski tak ada pertanda jelas yang menghampiri. Begitulah teman hidupmu, Pak. Dia konsisten merawat dan mendampingi Bapak meski sekarang dia masih belajar untuk menyimpan rindunya dalam tangisan yang tak bersuara.

Kami juga masih merasa timpang sebenarnya, Pak. Karena Bapak selalu jadi poros yang mengajari kami akan banyak hal. Apalagi Priska yang keras kepala ini. Meski dulu kita sering tidak sepaham tapi makin lama kita makin cocok ketika berdiskusi. Ah ngga ada lagi teman Priska nanti yang ngabisin babi panggang, saksang dan ikan asin. Kebersamaan kita sederhana ya Pak tapi mampu menumbuhkan cinta yang luar biasa.

Priska ingin sekali Bapak datang ke mimpi Priska, lalu bisikkan nama yang bagus untuk bayi dalam kandungan Priska. Biar nanti Priska bisa mengawali cerita tentang Bapak begini, “Sayang, salah satu yang kasih namamu itu adalah Ompung Doli, Bapak terbaik di dunia.” Lalu Priska akan cerita banyak hal hebat yang sudah Bapak lakukan dan ajarkan untuk kami.

Beristirahatlah dengan penuh cinta dari kami semua ya Pak. Bibit cinta yang telah Bapak tanam bersama Mama akan terus tumbuh menjadi pohon kehidupan yang baik untuk keturunan-keturunan Bapak dan Mama selanjutnya.

Priska pasti akan kangen Bapak terus. Karena itu Priska akan selalu letakkan Bapak di dalam hati. Katanya hati itu adalah pusat kendali rasa dan logika. Karena Priska mengingat Bapak dengan penuh cinta di dalam hati, semoga segala rasa dan logika yang akan nampak adalah mencerminkan segala ajaran kebaikan tentang Bapak.

Sekarang kita dihubungkan dalam doa dan tulisan-tulisan dulu ya, Pak. Tapi nanti kita akan bertemu lagi dalam kebersamaan dan kebahagiaan yang tak berujung. Priska sayang Bapak ❤


Author: