Pergumulan dan Peluang Untuk Dikuatkan

admin


Saat mandok hata di malam tahun baru kemarin, ada refleksi Daniel yang bikin saya terharu. Begini katanya, “Tahun 2017 kemarin adalah tahun yang mengajarkan kita banyak hal. Saat program bayi tabung gagal sampai Priska harus dikuretase, kita benar-benar bergumul.

“Bahkan saat mau mulai program lagi, diskusinya juga panjang dan dalam sekali. Sampai akhirnya kita yakin untuk mulai lagi. Pada proses itu, saya pribadi belajar kalau ternyata dalam kegagalan atau pergumulan, Tuhan selalu berikan peluang untuk saling menguatkan.

“Bahwa itu adalah momen kita untuk semakin kuat mendukung dan makin sayang. Jadi seharusnya kita tidak usah takut kalau Tuhan kasih pergumulan karena itu peluang untuk menjadi semakin kuat.”

Betul sekali yang dibilang Daniel, 2017 benar-benar tahun luar biasa buat kami berdua. Di tahun itu, usia pernikahan kami genap 5 tahun.

Kata orang, 5 tahun pertama adalah masa-masa krisis pernikahan. Penyesuaian diri, mencari keseimbangan ego dengan pasangan, sampai adaptasi dengan orang tua dan keluarga pasangan bisa jadi memercikkan ketegangan di lima tahun pertama pernikahan.

Saya sendiri sering juga mendengar dan melihat tantangan-tantangan yang katanya jadi masa krisis di lima tahun pertama di pernikahan itu. Tapi untuk saya dan Daniel, tantangan kami bukan itu. Kami berdua cukup beruntung karena bisa melalui proses perkenalan karakter, menemukan titik keseimbangan ego satu dengan lain dan beradaptasi baik dengan orang tua maupun keluarga dari pasangan. Bahasa singkatnya, untuk wilayah ini kita cukup bisalah melaluinya.

Tantangan terbesar kami di lima tahun pernikahan adalah memiliki anak. Program bayi tabung yang pertama hanya sukses membuat janinnya bertahan enam minggu. Hingga akhirnya kami mencoba lagi dengan tabungan embrio yang disimpan di rumah sakit. Tapi namanya trauma kehilangan cukup bikin kita berdua, khususnya saya, harus bersabar menemukan kata siap untuk mulai lagi.

Tabungan embrio kita ada tiga. Awalnya saya bilang, gimana kalau yang kedua dicoba masukan satu embrio dulu, jadi kalau gagal masih ada tabungannya. Tapi Daniel berpendapat itu tidak efektif.

Mendengar dia menjawab dengan kata tidak efektif saya tersinggung. Berasa kaya jadi objek hitung-hitungan ekonomis, saya emosi. Lalu saya bilang, saya takut kalau langsung semua embrio dimasukin trus gagal, kita ngga punya tabungan embrio lagi. Artinya kita ngga punya peluang untuk nyoba lagi. Ternyata menyadari tidak punya kesempatan itu mengkerutkan nyali.

Saya yang ngotot karena emosi kemudian dijawab tenang oleh Daniel. Menurut Daniel, efektif yang dia maksud adalah proses berkali-kali bayi tabung juga berisiko untuk kesehatan tubuh saya pasca stimulasi hormon berkali-kali. Karena meski proses embrio transfer dari embrio yang dibekukan tidak diawali dengan suntik-suntik perbanyak sel telur, tapi saya harus tetap konsumsi obat-obatan dan disuntik juga untuk menekan hormon kesuburan sambil memancing hormon untuk menguatkan rahim.

Jadi ada risikonyalah kalau berkali-kali melakukan prosedur bayi tabung. Karena berkali-kali hormon tubuhnya “dikondisikan” untuk bekerja di luar sistemnya.

“Aku kan sudah bilang dari awal sayang, your health is my concern. I dont want you get sick because we keep inject you with some hormones just to make you pregnant,” jelas Daniel.

Saya kaget juga sebenarnya mendengar dia menjawab begitu sambil matanya berkaca-kaca. Tapi saya tak kalah emosional. “Tapi kalau kita ngga punya anak gimana? Kalau embrionya langsung dimasukin tiga dan gagal. Berat tahu sayang, untuk tahu kamu ngga punya kesempatan lagi untuk mencoba karena jatah kamu udah habis.”

“Aku juga berat dan sedih kok pas Dokternya kasih lihat janinnya setelah kamu dikuretase. Trus aku lihat kamu harus bedrest. Rasanya pengen ikut nangis, tapi kalau aku ngga kuat kamu pasti akan lebih terpuruk lagi. Ini juga meninggalkan trauma untuk aku. Tapi buat aku, kesehatan kamu jauh lebih penting dari apapun.

“Aku rasa kamu juga akan kecapekan kalau masukin satu trus coba lagi, trus coba lagi. Justru ini peluangnya kecil tapi usaha di awalnya sama-sama berat. Makanya kurang tepat kalau kita pilih cara itu. Udahlah tubuh kamu kecapekan trus ada risikonya kalau berkali-kali suntik hormon gitu.”

“Jadi bayi tabung yang kedua ini, langsung masukin tiga embrionya?” tanya saya sambil berharap Daniel berubah pikiran.

“Iya Sayang. Itu lebih aman buat tubuhmu.”

“Trus kalau gagal?” tanya saya menggantung, “Ah sudahlah nanti aja diomongin lagi.”

Semenjak itu saya menghindar dan terus mengulur waktu untuk menghapus rasa trauma. Bahkan beberapa minggu setelah kuretase, kami berdua memutuskan untuk liburan ke Bali selama seminggu penuh. Menyusuri Legian, Ubud dan Seminyak demi mengejar matahari terbit dan terbenam. Saya juga menyibukkan diri dengan menikmati tantangan yang dikasih teman-teman dekat saya untuk jadi MC diskusi kesehatan.

Sampai kemudian tibalah waktunya untuk perpanjang penyimpanan embrio karena masa simpan pertama yang enam bulan sudah habis. Situasi ini mau tidak mau mempertemukan saya pada pertanyaan pamungkas, sudah siap belom untuk jalanin bayi tabung lagi? Dan pertanyaan ini tentunya diikuti dengan pertanyaan turunan. Jadi mau masukin satu dulu atau tiga embrio sekaligus?

Bahkan ketika saya menanyakan itu pada diri sendiri, saya tak langsung menjawab, ya bayar perpanjangan penyimpanan embrionya dulu saja. Tapi saya sadar, tidak bisa lama-lama juga mengulur waktu, makanya diputuskan untuk memperpanjang dua bulan. Kenapa dua bulan? Nggak ingat juga alasan persisnya kenapa.

Tapi batasan dua bulan itu secara tidak sadar menjadi semacam pengingat buat saya sendiri, kalau tidak boleh lama-lama menunda. Kenapa? Karena embrio yang dibekukan bukan berarti akan selalu bertahan dengan kualitas yang sama ketika dia pertama kali dibuat. Pada proses pencairannya bisa jadi embrionya tidak kuat dan rusak. Jadi ya begitulah sebenarnya proses bayi tabung yang tahap pertama atau yang frozen embrio, tingkat keberhasilannya tidak terlalu tinggi, banyak hal yang bisa membuatnya gagal. Kesempurnaan memang hanya milik Tuhan tapi bukankah selalu ada keajaiban dalam setiap harapan.

Maka di masa-masa saya mencari kekuatan diri untuk memulai program lagi, saya coba mendefinisikan rasa trauma saya. Karena katanya, trauma itu lebih mudah dihadapi ketika kita tahu wujudnya kaya apa.

Beginilah proses saya mendefinisikan trauma itu. Proses bayi tabung yang pertama membuat saya bertemu dengan rasa bahagia. Bahagia ketika setelah disuntik-suntik dan menunggu, akhirnya dinyatakan positif hamil. Apalagi ketika di-USG, sudah terlihat ada kantong dalam rahim saya dengan satu titik hitam yang katanya itu calon janin saya. Hasil pemeriksaan itu secara alamiah membuat saya jatuh cinta pada titik hitam dalam kantong rahim saya. Cinta tak bersyarat dan ternyata saya mampu untuk punya rasa itu.

Itukah trauma saya? Rasa bahagia saat tahu ada mahluk hidup berkembang di rahim saya? Apa iya rasa bahagia bisa menimbulkan traumatis yang mendalam?

Tapi bukan hanya rasa bahagia yang bisa saja menjadi traumatis, rasa kehilangannya juga traumatis. Saya ingat, kabar tentang janin saya yang tidak berkembang itu terjadi di hari Selasa. Dan beberapa kali tiap Selasa datang, saya sedih tanpa sebab atau minimal ngga semangat mengerjakan apapun. Lubang hitam di hati saya seolah menganga lebar-lebar di tiap Selasa.

Apa ini artinya trauma saya sumbernya dari rasa bahagia dan kehilangan sekaligus? Nampak rumit sekali ya karena bagaimana pun juga program bayi tabung selalu datang dengan 50 persen kemungkinan berhasil, yang artinya bertemu dengan rasa bahagia, dan 50 persen gagal, yang artinya bertemu dengan rasa kehilangan. Dua sisi mata uang yang berujung pada definisi trauma yang saya punya.

Durasi dua bulan makin mendekati masa akhir tapi saya masih belum cukup mantap untuk memulai program lagi. Di suatu siang saat saya lagi menunggu taksi online di lobi rumah sakit bersama Mama, bertemulah saya dengan sepasang orang asing yang membantu saya menghadapi trauma itu. Rumah sakit ini memang tempat saya melakukan program bayi tabung tapi saat itu saya lagi mengantar Mama yang periksa rutin ke dokter.

Tiba-tiba ibu yang duduk di sebelah saya mengajak bicara. “Mbak mau bayi tabung ya?”

Saya tentu kaget mendengar pertanyaan itu. “Oh nggak, saya baru antar Mama saya ke dokter.”

“Oh kirain mau program Mbak. Ini anak saya juga program di sini Mbak,” jelas Ibu itu sambil menunjuk anak perempuannya yang sedang digendong suaminya.

“Oh iya, dengan dokter siapa?” tanya saya sambil senyum gemas lihat anak perempuannya. Umur anaknya sekitar dua tahunan.

Ibu itu kemudian menyebutkan satu nama sambil bercerita, “Anak saya ini hasil nyoba bayi tabung yang kedua mbak, pake tabungan embrio yang terakhir.”

Jantung saya berdentum kencang saat mendengar Ibu itu bercerita. Saya seperti dihubungkan dengan rasa yang sama dengan dia.

“Pas ngejalanin yang kedua, saya ngga yakin Mbak. Karena trauma sama pengalaman pertama.”

“Kenapa memang pengalaman yang pertama?” tanya saya hati-hati.

“Gagal Mbak. Cuman bertahan enam minggu, trus janinnya tidak berkembang.”

Jantung saya kembali berdentum kencang. Saya seperti dihubungkan dengan gelombang rasa yang sama.

“Tapi suami saya semangatin terus dan mikir juga, mau tidak mau tabungan embrio itu kan harus dipakai. Akhirnya saya jalanin deh frozen embrio transfernya. Semangatnya cuman, ya udahlah biar cepat selesai aja.” Ibu itu lalu melanjutkan kalau setelah embrio transfer dia malah tidak menerapkan aturan seketat proses yang pertama. Di proses yang kedua, dia justru tetap beraktifitas seperti biasa.

“Cuman istirahat tiga hari setelah embrio transfer, trus malah sering keluar kota, kita terima semua undangan jadi pembicara.” Kali ini suaminya ikut bercerita.

“Iya Mbak, saya ngga mau stres, benar-benar ikhlas. Kalau Tuhan mau kasih, pasti jadi,” si Ibu melengkapi cerita suaminya.

Maka setelah lewat masa dua minggu setelah embrio transfer, si Ibu pun dinyatakan hamil, tapi dia tidak mau langsung senang karena di proses yang pertama dia sudah tahu bagaimana rasanya dinyatakan positif hamil. Dua minggu kemudian periksa lagi, janinnya berkembang tapi dia tidak mau terlalu senang juga. “Saya bersyukur, tapi tidak mau terlalu senang juga yang ada malah deg-degan karena takut kalau janinnya tidak berkembang lagi.”

Saya mengangguk cepat mendengar pernyataan itu. Ibu itu seperti suara kegusaran saya. Saya seperti mendengar ketakutan dalam diri saya tengah bernarasi.

“Tapi Alhamdulillah, Allah kasih semuanya lancar, anak saya lahir. Proses bayi tabung yang kedua berhasil ternyata. Ya inilah hasil frozen embrio kami, Mbak”

Mendengar kalimat itu, saya mulai berkaca-kaca sambil melihat anak cantik yang sedang digendong-gendong Bapaknya.

“Mbak sudah punya anak?” tanya Ibu itu hati-hati.

“Belum,” jawab saya tersenyum. “Awal tahun ini, saya sempat program bayi tabung, tapi gagal. Sama persis kaya Ibu, cuman bertahan enam minggu.” Nada bicara saya sedikit bergetar di ujung kalimat.

“Trauma ya Mbak?” tanya Ibu itu lagi masih dengan nada hati-hati.

Saya tidak langsung menjawab, hanya menggangguk.

“Saya doakan, semoga Mbak bisa semangat lagi ya Mbak. Traumanya emang bikin maju-mundur mau coba lagi. Nanti kalau mau coba lagi jangan stres, ikhlas saja. Kalau Tuhan ijinkan pasti jadi, kalau pun tidak pasti ada jalan terbaik yang dikasih.”

Saya tersenyum lebar mendapat semangat begitu. “Saya senang bisa ketemu Ibu. Dari kemarin saya masih takut untuk konsul lagi dan mulai, tapi Ibu bikin saya semangat. Makasih ya Bu dan Pak.”

“Maaf ya Mbak kalau tadi saya main tanya-tanya, saya mau cerita saja.”

“Nggak papa kok Bu, saya malah senang bisa ketemu Ibu dan Bapak. Makasih saya sudah diberi semangat.”

Tak lama setelah itu, mereka pun pergi. Seketika saya bilang dalam hati, Tuhan ini ya paling bisa kalau mau ngeyakinin gua. Di saat gua lagi ragu-ragunya, langsung dikirim dua orang asing untuk bilang, tenang aja semuanya udah disiapkan sempurna.

Satu hal yang juga menarik dari pertemuan dengan sepasang suami-istri dengan anak perempuan yang cantik itu adalah, mereka benar-benar orang yang tidak saya kenal. Bahkan secara penampilan kami sangat berbeda jauh. Mereka adalah pasangan muslim yang sangat syarii, sedangkan saya Kristen yang biasa aja hihihi.

Tapi cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan kita memang unik. Dia malah terus kirimkan kekuatan di tengah pergumulan yang dasyat. Dan perantara kekuatan yang dikirimkan itu, bisa jadi dari orang-orang terdekat kita, atau malah dari orang asing yang tidak pernah kita sangka-sangka. Siapapun yang Dia pilih untuk menguatkan kita ketika takut dan dalam pergumulan, bahasa cinta Tuhan selalu indah.

Jadi apakah saya sudah berani untuk memulai program lagi? Puji Tuhan sudah. Saya dan Daniel sudah menjalaninya lagi. Puji Tuhan semuanya berjalan lancar dan tolong doakan semuanya akan terus lancar sampai hari indah itu tiba. Karena kami percaya, jauh sebelum semua hal terjadi dalam kehidupan kami berdua, Tuhan sudah menyiapkan semuanya SEMPURNA.


PS : Refleksi ini dibuat bukan untuk menyombongkan diri atas apa yang Tuhan sudah berikan kepada kami berdua. Refleksi ini adalah cara saya membagikan betapa bahasa cinta Tuhan selalu indah meski disampaikan oleh orang yang berbeda dengan kita. Karena pada dasarnya setiap kali kita sedang bergumul, Tuhan akan selalu menemukan cara untuk menguatkan kita.


Author: