Tahun (Hati) Baru

admin

selamat tahun baru 2018_3


Selamat tahun baru, teman-teman.

Sudah lama juga saya tidak nulis di sini, sekalinya nulis udah tahun baru aja.  Jadi gimana setelah empat hari punya kalender baru? Punya tema apa tahun ini?

Iya tema, saya kebiasaan bikin tema di tahun baru ketimbang resolusi. Kalau resolusi semangat bikin daftarnya aja tapi eksekusinya sering berujung pada ya udahlah ya biarkan mengalir saja.

Nah kalau tema, itu kaya tekad yang diucapkan dalam satu tarikan napas. Semacam benang merah dalam bentuk energi positif. Jadi tidak mentok pada pencapaian melainkan daya untuk menciptakan kebahagiaan diri. Hah bahasa gua.

Anyway bicara soal tema, biasanya saya mikir jauh-jauh hari mau punya tema apa di tahun baru. Seringnya tema itu muncul saat bikin wish ulang tahun, mungkin ini nikmatnya ulang tahun di bulan-bulan yang berakhiran -ber jadi bisa dirapel untuk menyambut tahun baru.

Tapi tahun ini, tema yang saya temukan cukup singkat yaitu di kebaktian akhir tahun di gereja. Bukan ini bukan pencitraan kalau saya religius tapi kebakitan akhir tahun itu semacam kencan mesra versi anak Tuhan hihi.

Jadi di kebaktian tutup tahun pada 31 Desember kemarin, gereja saya bikin satu hal yang menarik. Saat masuk ke gereja, usher atau penyambut jemaat memberikan sekeping potongan kertas berbentuk hati. Hatinya warna hitam.

Pas saya mau nanya eh di depan saya ada ibu-ibu yang nanya ke salah satu usher, “Ini buat apa ya?”

“Simpan aja dulu ya, Bu, nanti pas kebaktian akan diberitahu,” jawab si Usher sambil memberikan potongan hati berwarna hitam itu.

Lalu mulailah kebaktian tapi info soal potongan hati belum disuarakan. Akhirnya saya titip potongan hati berwarna hitam itu ke Daniel.

Sampai pertengahan kebaktian, ketika saya lupa soal potongan hati berwarna hitam itu, tiba-tiba sesaat sebelum doa pengakuan dosa, pendeta mulai memberi aba-aba. “Keluarkanlah hati hitam yang tadi sudah dibagikan.”

Lalu terdengar di samping saya berkomentar, “Aduh mana sih tadi hatinya. Jangan-jangan tadi kebuang lagi.” Untung saya titip ke Daniel, bukan masukin ke tas, jadi nggak ribet nyari-nyarinya.

“Saudara yang terkasih, mari keluarkan hati hitam kita itu dan peganglah dengan tangan kanan,” kata Pendeta sambil memberi contoh. Saya bisik ke Daniel, “Ish hati yang hitam, ngeri juga.”

“Lalu letakkanlah hati hitam itu di dada kiri kita. Hati yang hitam itu adalah simbol dari hati kita yang penuh dosa. Bawalah hati itu ke depan mimbar lalu tukarkanlah dengan hati yang baru.”

Ok its getting interesting, batin saya dalam hati.

“Hati adalah pusat segala kehendak. Jika hati kita penuh amarah maka perkataan kita penuh kebencian. Jika hati kita penuh ketakutan maka tindakan kita penuh kecurigaan. Dan jika hati kita penuh dengan rasa iri maka pikiran kita hanyalah ketidakpuasaan. Jadi marilah kita mengakui dosa kita untuk mendapat pengampunan dan melahirkan hati yang baru. Hati yang penuh cinta kasih.”

Ucapan pendeta itu mengiringi perjalanan saya dalam menukarkan hati ke depan mimbar. Hati yang baru itu ternyata disimbolkan dengan stiker kertas bentuk hati yang berwarna merah. Saya ambil hati baru itu lalu instruksi lanjutan pun terdengar. “Letakkan simbol hati baru itu di dada kiri saudara-saudara sambil berjalan kembali ke tempat duduk Anda. Setelah itu, tempelkan hati yang baru itu di dada kiri Anda dan biarkan itu jadi pengingat kita bersama bahwa pengakuan dosa selalu beriringan dengan pengampunan dosa yang memberikan hati baru untuk kita. Hati yang penuh cinta kasih.”

Tepat di saat itulah saya menemukan tema saya untuk tahun 2018. Yaitu menjalani tahun ini dengan pusat kehendak yang penuh cinta kasih alias berhati baru.

Karena rasanya akan lebih menyenangkan untuk memulai hari baru dengan hati yang penuh cinta kasih. Tidak membawa kebencian, kekecewaan, dan kekuatiran dari tahun sebelumnya ke tahun yang baru. Dengan begitu segala ketidakpastian di tahun baru bisa dihadapi dengan lebih berani karena pusat kehendak alias hati kita sudah terbebas dari kelamnya warna hitam.

Jadi warna hati apa yang kalian pilih tahun ini?

Author: