Mungkinkah Anak Saya Kelak Bisa Jadi Presiden?

Categories:Curhat
admin

photo from doublequote.netBeberapa waktu lalu ramai beredar di sosial media, soal tulisan dari tim sukses yang bilang isu agama dalam konstentasi politik itu hal yang biasa. Jadi jangan cengeng soal isu agama! Menggunakan isu agama dalam konstentasi politik, sama biasanya katanya dengan menggunakan isu gender ketika kandidatnya laki-laki VS perempuan. Jadi jangan cengeng soal isu agama!

Saya sih tidak cengeng, tapi muak!

Memakai isu agama maupun gender dalam kompetisi apapun adalah bentuk diskriminasi. Adalah cara-cara orang yang tidak punya gagasan kuat untuk memenangkan persaingan.

Saat tulisan itu beredar, yang terlintas di kepala saya adalah, satu hari nanti ketika anak atau keponakan-keponakan saya punya cita-cita mau jadi kepala desa, walikota, bupati, gubernur, atau presiden, mereka harus meredam perlahan-lahan api mimpinya hanya karena agama atau golongan mereka bukan mayoritas. Tidak peduli mau mereka cerdas, jujur, dan bersih.

Cengeng? Apa iya ini cengeng?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan salah satu arti dari cengeng adalah mudah tersinggung. Lalu Tesaurus Bahasa Indonesia memasukkan kata cengeng sama dengan gembeng, penangis, lemah, lembek, payah, rapuh, dan ringkih.

Artinya saya yang merasa tidak terima jika satu hari nanti anak atau keponakan saya gagal jadi pemimpin hanya karena identitas agamanya adalah sifat yang mudah tersinggung, lemah, lembek, atau bahkan payah. Bahasa sederhananya konstentasi politik mah biasa begitu, don’t take it personally. Tapi identitas adalah urusan personal. Ketika kita diperlakukan berbeda hanya karena identitas kita, itu namanya diskriminasi! Dan diskriminasi selalu berbicara tentang ketidakadilan.

Awalnya saya berharap konstentasi politik yang berlangsung di Jakarta dengan aroma SARA yang menyengat akan berlalu begitu saja. Sampai kemudian ada istilah jangan cengeng soal isu agama dan berita ini, Pilkada DKI Dikhawatirkan Timbulkan Intoleransi di Lingkungan Sekolah.

Ternyata konstentasi politik dengan isu agama itu menuai buah intoleransi dengan cepat! Ini saya kutipkan dari isi beritanya, Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kemendikbud, ada potensi intoleransi terjadi di sekolah karena ada 8,2 persen yang menolak Ketua OSIS dengan agama yang berbeda. Selain itu, ada pula 23 persen yang merasa nyaman dipimpin oleh seseorang yang satu agama.

Potensi intoleransinya bisa jadi baru 8,2 persen tapi intoleransi tidak akan pernah menjadi bibit yang bagus dalam kehidupan bermasyarakat. Dan pada 2019 nanti kita akan memasuki konstentasi politik yang lebih besar lagi, pemilihan presiden! Ah boro-boro mau jadi presiden, jadi Ketua OSIS aja mentok di isu agama. Padahal katanya pendidikan itu adalah senjata ampuh untuk membentuk toleransi. Karena pendidikan itu harusnya memberdayakan pikiran, bukan malah menjebak kita pada persepsi-persepsi primtif yang membuat kita terus-terusan menjadi katak dalam tempurung!

Ada juga yang suka bilang, menggoreng isu agama itu biasa dilakukan. Biasa bukan berarti benar kan? Lah itu Amerika aja mendapatkan presidennya dengan menggoreng isu agama kok, trus kenapa kita nggak? Lah kenapa kita harus jadi sama bodohnya dengan mereka?

Mungkin awalnya tidak terbayangkan isu SARA yang dijadikan cara instan mendapatkan kekuasaan ini akan mengelinding cepat menjadi persepsi kewajaran dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Apa buah dari ini semua? Perlakuan diskriminatif akan mewarnai setiap interaksi keseharian kita. 

Ketika 10 tahun lagi negara-negara di luar sana semakin banyak yang masuk kategori negara dengan penduduk paling bahagia di dunia karena pemimpinnya dipilih berdasarkan kemampuannya, dan negara kita masih aja muter di isu-isu diskriminatif dalam setiap ajang pemilihan kepala daerah atau kepala negara. Jangan-jangan nanti milih admin grup chat kayak WA juga berdasarkan isu agama?

Duh…amit-amit…dah jangan sampai anak-anak atau keponakan kita nantinya masih terus menuai perlakukan diskriminatif. Karena saya nggak bisa bayangin setiap kali bertanya kalau besar nanti mau jadi apa dan dengan lantang mereka bilang, “Mau jadi presiden!” Lalu dengan terpaksa saya harus bilang, “Jangan Nak, kamu ngga bisa jadi Presiden di sini karena agamamu membolehkanmu makan babi.”

Semoga tebaran bibit diskriminasi dalam hal apapun tidak tumbuh subur biar anak-anak kita tidak perlu menuai pahitnya buah intoleransi.

Author:

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url