Taat dan Percaya

admin

couples that pray together stay together


Menuliskan cerita ini bukanlah perkara mudah untuk saya, karena sampai saat ini saya masih mencari cara untuk memberi kekuatan pada diri sendiri. Tapi saya harus menuliskan cerita ini. Menulis adalah salah satu cara saya untuk memulihkan luka, menghapus kesedihan, merangkum kekuatan serta merangkai kembali harapan. 

Kemarin, Selasa 28 Februari, tepat ketika hari terakhir di bulan yang katanya penuh cinta itu, saya dan Daniel harus merelakan janin dalam rahim saya untuk dikeluarkan. Saya menjalani kuretase hisap karena janinnya tidak berkembang. Janin itu bertahan enam minggu di rahim saya.

Tuhan menggariskan kami sebagai pasangan yang harus menjalani perjuangan yang lebih panjang untuk memiliki anak. Doa dalam hari-hari perjuangan kami selalu meminta agar usahanya diberkati dan berhasil. Tapi Tuhan bilang, tunggu sebentar lagi ya. Dan kami setia menunggu.

Saya beruntung punya suami seperti Daniel. Meski emosinya tidak pernah naik atau turun secara berlebihan tapi keteguhan imannya selalu menguatkan saya.  “Sabar ya sayang, kita pasti bisa lewatin ini semua.” Sederhana sekali ucapannya, tapi itu menyakinkan saya kalau Daniel tidak akan pernah membiarkan saya berjuang sendirian dalam hal apapun. Tuhan memang tahu sekali pasangan yang tepat untuk saya. I love you so much, teman tidurku 😀

Setiap usaha sudah kami lalui sampai kemudian pilihannya adalah bayi tabung. Kami harus menyiapkan banyak hal untuk ini, tidak hanya secara finansial tapi juga emosional dan mental. Karena program bayi tabung bukan sekadar menyiapkan materi untuk menghadirkan seorang bayi tapi lebih dari itu. Penelitian mengungkapkan program bayi tabung memiliki tingkat keberhasilan hanya 40 persen dan untuk kami, ini adalah pilihan terbaik untuk dicoba.

Salah seorang sahabat saya, Tetty, pernah bilang begini, “Kita beruntung Pris, masih bisa berusaha. Selama kesempatan untuk berusaha itu terbuka maka teruslah berusaha.” Tetty bilang ini karena dia pernah bertemu dengan pasangan yang secara usia dan finansial keberhasilan mereka untuk punya anak sangat tipis tapi mereka tidak pernah berhenti berharap dan berusaha. Malah mereka sampai menabung meski penghasilan pas-pasan demi mencoba usaha kedokteran yang paling muktahir yaitu bayi tabung. Cerita Tetty adalah salah satu energi yang menyemangati saya. 

Maka tibalah giliran kami memasuki proses bayi tabung. Bukan proses yang mudah juga sebenarnya karena sempat tertunda beberapa kali karena cuti panjang dan karena tiba-tiba harus minum obat dulu sebulan sampai benar-benar siap untuk mulai bayi tabung. Bisa dibilang mental saya cukup naik-turun ketika itu tapi secara kebetulan, kalau boleh dibilang begitu, saat kembali memupuk mental kami mendengar khotbah di gereja tentang taat dan percaya. 

Analogi pendeta untuk bercerita tentang taat dan percaya diambil dari kisah Yusuf dan Maria yang tetap taat dan percaya meski nalar orang banyak mencemooh proses kehamilan mereka. Pendeta juga cerita tentang Daud yang tetap bisa bernyanyi riang meski dia tengah dalam masa pelarian karena mau dibunuh oleh Saul. Di dalam ketakutannya, Daud tetap taat dan percaya hingga tetap bisa bernyanyi riang. Judul lagunya Janji Yang Manis, 

Kata taat dan percaya yang diucapkan pendeta berkali-kali itu ternyata menjadi penguat saya dan Daniel untuk memulai programnya. Maka berjalanlah setiap prosesnya, mulai dari suntik hormon, ovum pick up, embrio transfer. Saat embrio transfer, dokter memperlihatkan kepada saya dan Daniel kedua embrio yang akan dimasukkan ke dalam rahim saya. Saat itu kami tersenyum, sel bulat kecil yang sedang membelah itu adalah calon anak-anak saya dan Daniel. Perasaanya campur aduk ketika menyaksikan bagaimana kedua embrio itu dimasukkan ke dalam rahim saya. Diantara perasaan yang campur aduk itu ada satu rasa yang begitu kuat memenuhi seluruh sendi kesadaran saya yaitu perasaan jatuh cinta!

Iya saya langsung jatuh cinta pada sel bulat yang tengah membelah itu yang mencoba menempel di rahim saya. Maka menunggulah kami selama dua minggu sebelum dinyatakan hamil atau tidak. Selama menunggu itu  saya membatasi gerak jadi lebih banyak di atas tempat tidur. Tak hanya itu, saya juga mencoba untuk tidak terlalu stres kalau ini caranya adalah dengan menonton banyak film, serial, dan acara televisi yang lucu-lucu. 

Hingga tibalah waktunya untuk menerima hasil, apakah saya hamil atau tidak. Saya sampai tidak berani membuka amplop hasil laboratoriumnya sebelum bertemu dokternya. Begitu nama saya dipanggil, jantung saya berdetak lebih nyaring dan dokter menyambut saya dengan uluran tangan. “Selamat dulu dong, hasilnya positif.”

Saya teriak dan Daniel pun senyum lebar. Semua suster yang berpapasan dengan kami pun mengucapkan selamat. Mereka hapal betul sudah seberapa sering kami mengunjungi rumah sakit itu untuk konsultasi agar punya anak. Kami pulang dengan perasaan yang luar biasa bahagia! Hari itu tepat hari ulang tahun keponakan kami, maka banyak ucapan syukur memenuhi rumah. 

Semenjak hari itu setiap malam kami mendengarkan lagu-lagu rohani untuk janin yang tengah memasuki babak kehidupan baru. Setiap malam kami juga berdoa agar janinnya semakin kuat menempel dan bisa tumbuh jadi bayi yang sehat serta ketika dilahirkan menjadi anak yang takut akan Tuhan yang penuh cinta kasih. Daniel pun sesekali mengajak bicara janinnya sambil mengusap-usap perut saya. Saat itu kami belajar mempersiapkan diri menjadi orang tua.

Semenjak embrio transfer saya membuat tulisan khusus untuk janin yang ada di dalam perut. Saya bercerita tentang kami berdua kepada janin itu melalui tulisan. Tulisan adalah cara saya menunjukkan rasa cinta saya pada janin yang ada dalam rahim. Iya saya jatuh cinta pada janin yang bentuknya masih belum jelas itu. Yang saya tahu, tubuh saya dengan senang hati berubah demi membuat janin yang sudah bikin saya jatuh cinta itu bisa terbentuk dengan perasaan cinta yang utuh. Oh begini toh rasanya jatuh cinta tanpa alasan. I know i love you before i met you. Saya sangat bersyukur Tuhan mempercayakan saya dan Daniel dengan perasaan jatuh cinta yang seperti ini.

Maka ketika tiba waktunya untuk konsultasi, saya kembali deg-degan. Deg-degan karena tidak sabaran untuk melihat sudah seperti apa perkembangannya. Kalau menurut aplikasi yang saya unduh, tepat di enam minggu periksa itu, harusnya saya dan Daniel bisa mendengar detak jantungnya. Membayangkan saya akan mendengar detak jantungnya membuat jantung saya bahagia bukan kepalang. 

Tapi irama detak jantung saya berubah menjadi panik ketika dokter melihat ada cairan aneh di dalam rahim saya. Dokter bilang, saya memang betul hamil tapi seharusnya rahim saya tidak dipenuhi cairan begitu. “Ibu tidak pernah pendarahan kan?” tanya dokternya hati-hati. “Tidak,” jawab saya. 

Keringat saya mulai dingin, air muka saya mulai kuyu. Saya tidak berani melihat ke Daniel. Suasana di ruang periksa itu berbeda 360 derajat dari ketika dua minggu lalu saya berteriak bahagia karena dinyatakan positif hamil. Kami kemudian dijadwalkan untuk menjalani USG ke dokter fetomaternal esok harinya. Konsultasi ini demi memastikan cairan itu apa. Saya mencoba tenang. Saya bahkan masih mencoba biasa saja ketika membalas sapaan salah satu suster. Saya tidak mau terlalu kuatir dengan keadaan tidak jelas ini.

Hingga akhirnya kami masuk taksi dan seketika itu juga benteng pertahanan saya runtuh. Air mata jadi bendungan jebol dan napas saya jadi sesak, saya menangis sesengukan. Mama yang ikut menemani kami ke rumah sakit langsung memeluk saya erat-erat. Daniel yang duduk di bangku depan coba mengulurkan tangannya ke belakang tapi saya tidak bisa meraihnya karena kedua tangan saya menutup muka saya demi menampung air mata yang jatuhnya berhamburan.

Berjuta-juta pertanyaan kemudian memburu kepala saya. Derasnya pertanyaan itu sama dengan derasnya air mata yang entah kenapa tidak bisa ditahan barang sedetik pun. “Tenang ‘Dek, kita berdoa saja, semoga cairan itu bisa diatasi,” Mama coba menenangkan. 

Berdoa. Sedetik itu saya teringat dengan khotbah pendeta tentang taat dan percaya. Tuhan apa ini seperti ini jalan orang yang taat dan percaya? Saya bertanya dalam hati dan pelan-pelan air mata saya berhenti berhamburan. Saya lalu ingat cerita Yusuf, Maria, dan Daud yang diceritakan pendeta itu. Lalu saya ingat lagi lagu Janji Yang Manis. Saya coba menyanyikannya tapi terputus-putus karena rasa sedih terlalu merajam kesadaran saya sampai yang tersisa hanya pikiran-pikiran jelek yang menakutkan.

Saya bingung harus apa. Apa yang saya bisa lakukan untuk memastikan cairan itu apa? Apa yang saya bisa perbuat untuk mencari tahu apakah janinnya baik-baik saja atau tidak? Ah menuliskan ini dan mengingat itu saja membuat saya kembali kalut. Napas saya sesak karena sesenggukan. Kepala saya terus bertanya-tanya, Nak, apa kamu baik-baik saja di dalam sana?

Waktu rasanya lambat sekali berputar. Saat itu saya ingin cepat-cepat hari berganti agar bisa periksa ke dokter dan mendapat jawaban apakah anak kami baik-baik saja di dalam sana. Tapi bukan waktu yang berdetak cepat melainkan rasa cemas saya yang memburu seluruh batas kesadaran. Hingga pada akhirnya saya tak kuasa lagi, saya pun mengajak Daniel berdoa.

Sebelum berdoa, kami mendengarkan satu lagu rohani sambil duduk berhadapan dan bergandengan tangan. Saya semakin rapuh, air mata saya menetes sebesar batu dan melubangi pori-pori tangan kami berdua. Daniel menggenggam jemari saya semakin kuat dan semakin kuat juga air mata yang jatuh. Lalu kami berdoa bergantian.

Daniel mulai berdoa. Doanya banyak terhenti karena dia berusaha menahan rasa sedih. Kalimatnya terbata-bata dan pelan-pelan saya membuka mata saya. Kelopak mata Daniel tertutup dan terlihat menahan bulir air mata keluar dari baliknya. Saya kembali menutup mata saya. Astaga Tuhan, Daniel yang selalu tenang pun menjadi emosional. Saya pegang jemarinya kuat-kuat sambil mendengarkan doa yang terbata-bata itu disampaikan Daniel dengan penuh perasaan. Saya mencoba untuk tenang karena giliran saya berdoa akan tiba.

Kami kemudian mengakhiri doa penuh air mata itu dengan Doa Bapa Kami. Selesai berdoa saya melihat mata Daniel yang masih berkaca-kaca lalu kami kembali menangis sambil berpelukan. Saat itu saya merasa hubungan kami tengah memasuki tahap yang lebih kuat, meski hati kami hancur berantakan tapi rasa cinta itu semakin kuat terasa. Rasa cinta yang menguatkan itulah yang membuat kami berdua kemudian berani berkata pada Tuhan, “Tuhan kalau memang menjadi taat dan percaya artinya harus melalui semua ini, kami siap! Kami mau menjadi semakin taat dan percaya kepada Tuhan dengan segala apapun yang terjadi besok.”

Menjelang tidur, Daniel berkali-kali bilang kalau semua ini pasti bisa kita lalui. Tapi menjadi taat dan percaya bukanlah perkara mudah. Meski secara fisik saya mencoba tidur tapi sepanjang malam itu, hati kecil saya terus meminta kepada Tuhan untuk memberi keajaiban dan membuat janinnya kuat bertahan.

Tapi di pagi hari saya bangun dalam keadaan berbeda. Saya merasa lebih tenang atau mencoba untuk tetap tenang, entahlah. Saat menunggu giliran dipanggil oleh dokter fetomaternal, perasaan saya perlahan-lahan menjadi lebih siap. Pasien sebelum saya, diperiksa lama sekali dan sesekali kami menangkap ada tawa dari dalam ruangan. Sepertinya suasananya akan berbeda jauh ketika kami masuk ke dalam. 

Dan betul saja, raut wajah dokternya bukanlah raut bahagia ketika melihat layar monitor USG. Dahinya memang tidak mengkerut tapi matanya terus saja mencari penasaran. Beberapa kali ia memperbesar tampilan USG dan kemudian berpikir keras. Saat itu saya tidak meminta lagi agar janinnya kuat bertahan, saya meminta agar kami tetap bisa menjadi taat dan percaya.

Lalu apa yang terjadi dengan janinnya? Dia tidak berkembang dan karena itu tubuh coba meluruhkannya tapi peluruhannya tidak berlangsung sempurna. Peluruhan tidak sempurna inilah yang membuat ada gumpalan darah dalam rahim, jadi cairan itu adalah darah. Dokter obgin saya bilang, ini terbilang kejadian yang jarang terjadi. Tapi memang janinnya sudah tidak bertahan lagi jadi selain harus mengeluarkan gumpalan darah itu, janinnya juga harus dikeluarkan alias di kuretase.

Saat mendengar ini semua entah mengapa saya dan Daniel sangat tenang. Kami percaya ini yang terbaik yang Tuhan berikan. Kami lega meski masih ada banyak rasa sedih menggumpal di dalam hati. Keluar dari rumah sakit kami sudah bisa tertawa dan memilih melepaskan penat dengan makan enak. Berhasil tapi hanya sesaat, setidaknya untuk saya. Karena setelah mengetahui kondisinya, semua obat-obat penguat rahim pun dihentikan dan ini membuat saya mengalami flek. Saya kembali memakai pembalut dan setiap kali membersihkan pembalut itu, saya pasti nangis. Saya semakin disadarkan kalau janin yang biasa saya dengarkan lagu-lagu rohani itu, yang biasa saya ajak nonton Friends dan ketawa-ketawa itu, yang biasa saya ajak bicara dan saya buatkan surat cinta itu sudah tidak ada. 

Daniel selalu memeluk saya dan bilang kita pasti bisa melalui semua ini. Walau ketika bilang itu Daniel matanya berkaca-kaca tapi dia selalu menguatkan saya. Dia kemudian menyanyikan lagu This Too Shall Pass-nya Yolanda Adams. Lirik lagunya bagus sekali sangat menggambarkan perasaan saya saat itu. Daniel juga bercerita tentang raja yang bijak yang membuat cincin dengan tulisan This Too Shall Pass untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa segala situasi pada akhirnya akan berlalu. Bahwa situasi sulit tidak selamanya menjadi sulit, bahwa kesedihan dan kebahagiaan pada akhirnya juga akan berlalu. 

Daniel memang suami yang luar biasa. Dia selalu tahu bagaimana membuat saya menjadi kuat. Saya tidak bisa bayangkan kalau semua ini harus saya lalui tanpa Daniel mungkin saya akan terus menyalahkan diri saya. Kalau saya bertanya, “Aku salah di mana ya sayang? Apa aku makannya kurang sehat? Atau aku kurang apa ya sampai janinnya tidak berkembang?” Daniel pasti menjawab, “Sayang, aku tahu kamu pasti menyalahkan dirimu karena bayi itu ada di dalam tubuh kamu. Kamu yang menjalani disuntik-suntik, harus dibius untuk ambil telurnya sampai harus total bed rest selama nunggu positif bahkan sampai dinyatakan hamil. Tapi ini bukan salah kamu. Ibarat melempar koin, cara tangan kita melempar tidak akan memengaruhi koinnya untuk keluar sesuai keinginan kita. Kita kan mau jadi taat dan percaya, kita berdoa saja supaya Tuhan selalu kasih kekuatan.”

Dulu sekali saat awal memulai program, dokter obgin menjelaskan begini, “Sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa membuat dan menjamin janinnya akan menempel seratus persen setelah semua tahapan-tahapan bayi tabung dilakukan. Celah itu belum ada yang nemu  rumusannya karena itu kuasanya Tuhan. Jangan-jangan kalau kita sampai ketemu bagaimana menutup celah itu, kita jadi ngga perlu Tuhan lagi.”

Tapi rasa bersalah itu memang tidak bisa dihindarkan. Seperti saya tidak bisa meredam atau menghindar ketika rasa cinta itu muncul begitu saja saat janinnya mulai ada di dalam rahim. Rasa cinta itu mendatangkan rasa memiliki dan rasa memiliki itu jadinya sangat getir ketika tiba-tiba dia hilang tanpa kita diberi kesempatan untuk memperjuangkannya. Kenapa saya bilang tidak diberi kesempatan untuk memperjuangkannya? Karena saya tidak merasakan apa-apa yang menandakan janinnya tidak berkembang. Ini adalah salah satu momen paling sedih dalam hidup saya. 

Tapi cara kerja Tuhan memang selalu misterius. Tuhan juga sepertinya tidak ingin lama-lama saya bersedih atau menyalahkan diri. Begitu banyak orang yang tergerak untuk mendoakan serta menyemangati kami. Hari minggu kemarin atau dua hari sebelum kuretase, kebetulan mama dan bapak saya jadi tuan rumah untuk arisan keluarga. Layaknya arisan orang Batak pasti selalu ada kebaktiannya dan kami berdua pun dimasukkan dalam daftar doa syafaat. Sampai di situ kami sudah merasa dikuatkan karena doa syafaat punya makna yang dalam.  Tapi ternyata tidak berhenti sampai di sana, secara tiba-tiba salah satu dari keluarga yang hadir terpanggil untuk mendoakan kami secara khusus. Kami lalu didudukkan di tengah ruangan dan kemudian dikelilingi orang-orang yang mendoakan dengan tulus. Kami sangat terharu dan itu sangat menambah kekuatan saya untuk menghadapi kuretase. 

Tak cuman itu, teman-teman yang tahu nggak berhenti-hentinya memberikan kekuatan dan doa. Bahkan salah satu orang tua dari sahabat saya, Mami dan Papinya Athied, menuliskan surat yang berisi doa khusus untuk saya dan Daniel. Doanya ditulis tangan lalu dilipat rapi dalam sebuah amplop.

Menjadi kuat memang butuh waktu, sebagai calon ibu yang rahimnya merasakan ada kehidupan baru, saya kembali menangis. Tepatnya semalam sebelum kuretase dilakukan. Saat itu saya berpikir, saat janinnya dikeluarkan itu artinya dia akan benar-benar tidak ada lagi di rahim saya. Menceritakan sedihnya keguguran memang tidak mudah karena mungkin sebagian orang berpikir, ah itu kan masih kecil banget harusnya ngga usah terlalu sedih. Tapi rasa kehilangan akibat keguguran tidak pernah diukur dari seberapa lama janin itu tinggal dalam rahim kita, karena ceruk lubang hitam yang menganga dalam hati ini tetap mengeluarkan kekosongan. 

Tibalah waktunya kuretase. Saya memasuki lagi ruangan yang dulunya saya masuki untuk ovum pick up dan embrio transfer. Tempat yang sama tapi kali ini menghadirkan rasa yang berbeda. Lalu seorang suster menghampiri saya dengan membawa gelang nama sambil bilang, “Sudah siap ya, Bu untuk tindakannya. Sudah ikhlas ya, Bu?” Iya saya ikhlas, jawab saya pelan ketika itu.

Dalam hati saya bergumam, pagi-pagi begini pertanyaanya berat banget. Tapi saya ikhlas kok Tuhan, karena itu saya siap. Meski terkadang saya tak bisa menahan pikiran saya untuk tiba-tiba mengingat bagaimana rasanya ketika janinnya masih ada di situ. Saat kuretase selesai, saya spontan memegang perut saya, buncitnya sudah sedikit berkurang karena gumpalan darahnya sudah keluar dan janinnya sudah tidak ada. Di tengah kesadaran saya yang masih belum pulih karena efek obat bius, saya berucap dalam hati, Tuhan pasti akan berikan pelangi yang sangat indah setelah ini. 

Saya bertanya pada Daniel apakah susternya memperlihatkan janinnya? Daniel bilang iya. Lalu saya tanya lagi, bagaimana bentuknya? Mata Daniel berkaca-kaca lagi, tapi tidak seterang kemarin kilatannya. “Aku sempat sedih sih sayang pas lihatnya, karena seperti sudah berbentuk. Tapi memang masih kecil banget.” Untuk hal ini saya sedikit beruntung karena tidak harus melihat janinnya. Pasti momen itu berat untuk Daniel. 

Sampai hari ini kami masih belajar untuk menjadi kuat. Kata orang, waktu juga yang akan menyembuhkan duka, ya itu benar. Dan semoga ketika duka ini sudah benar-benar selesai, saya dan Daniel tidak akan pernah lupa untuk terus menjadi taat dan percaya. Karena itu kami akan terus berdoa dalam setiap perjuangan kami mendapatkan anak. 

Tuhan, saya percaya enam minggu kemarin adalah waktu terindah buat saya, Daniel dan janinnya.
Terima kasih, karena rahim saya sempat merasakan indahnya menyambut kehidupan baru.
Meski hanya enam minggu, tapi janin yang Tuhan berikan itu telah membuat saya dan Daniel jatuh cinta lagi.
Jatuh cinta pada janin yang kami doakan setiap malam dalam niatan menjadi taat dan percaya.
Dan jika memang untuk menjadi taat dan percaya secara sempurna itu berarti harus melepaskannya, kami siap Tuhan.
Tuhan, meski janin itu secara fisik sudah tidak ada di rahim saya, tapi saya tidak akan pernah menghapus kenangan atau rasa yang ada selama enam minggu kami bersama.
Rasa cinta kami kepada dia tidak akan pernah tergantikan oleh apapun juga.
Dia akan selalu menempati ruang yang indah di hati kami berdua, karena dia telah mengajarkan kami untuk
mencintai dengan tulus.
Terima kasih Tuhan karena kau mengajarkan kami tentang menjadi taat dan percaya dengan proses yang begitu indah yang menyadarkan kami betapa kami begitu spesial untuk Tuhan.
Terima kasih untuk tak henti-hentinya mengirimkan kekuatan pada kami melalui orang-orang yang begitu semangat mendoakan kami berdua.
Ini semua membuat kami ingin terus menjalani prosesnya, karena meski perjuangannya harus melalui banyak rintangan tapi Tuhan tidak pernah membiarkan kami sendirian menghadapinya.
Biarkanlah pergumulan ini semakin mendekatkan kami kepada Tuhan, semakin membuat kami bergantung pada Tuhan.
Karena kami percaya setelah awan gelap ini  berlalu, Tuhan akan mengantar kami pada pelangi yang sangat indah.
Dan buat janin mungil yang sekarang sudah bersama Tuhan, terima kasih dan we love you so much!



Author:

13 Comments

  1. JenSen
    March 5, 2017 at 1:39 am

    Pris, saya benar2 turut sedih. Semoga Tuhan memberimu lebih banyak lagi kesehatan, kekuatan, penghiburan, dan harapan. 😥

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      March 6, 2017 at 5:38 am

      Amin…amin…amin. Makasih ya Jensen 🙂

  2. iin ganda
    iin gandaReply
    March 5, 2017 at 8:59 am

    This too shall pass … Yesaus pasti sediakan yg terbaik … jangan bosan berdoa dan berusaha ya …
    Salam, tt iin ganda di bandung, sobat mamanya Daniel.

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      March 6, 2017 at 5:41 am

      Halo Tante Iin, terima kasih sudah mau baca curhatan kami hihihi. Salam kenal ya Tante. Amin, kami percaya Tuhan itu super baik, Dia pasti sediakan yang terbaik pada waktu yang terindah. Doakan kami selalu ya Tante 😀

  3. Neny
    March 5, 2017 at 2:18 pm

    Ikut sedih sekali membacanya. Doa saya untukmu dan Daniel.

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      March 6, 2017 at 5:41 am

      Iya, aku baca beberapa kali masih suka sedih hihii. Terima kasih untuk doa penguatannya Mbak @Neny 😀

  4. tree
    treeReply
    March 6, 2017 at 2:09 pm

    Priskaa…yg sabar n kuat y..setelah kesulitan pasti ad kemudahan..miss u much

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      March 7, 2017 at 3:28 am

      Trrrriiiiii….astaga udah lama banget ngga ngobrol sama Tri. Amin…amin…amin….pasti Tuhan selalu kasih yang terbaik untuk kita ya Tri. Miss you so much Tri #PELUK

  5. Fifia
    FifiaReply
    March 7, 2017 at 1:47 am

    Tetap semangat priska!! Kamu wanita kuat, kamu wanita tangguh… Selalu ada hikmah di balik semua peristiwa… Setidaknya cinta semakin tumbuh antara Priska dan Tuhan, Priska dan suami, dan Priska juga harus bisa mencintai diri sendiri.. Meski kita sudah lama tidak bersua… Doaku selalu menyertaimu pris… Bahagiamu bahagiaku juga, sedihmu sedihku juga… i hope God always bless you dear…

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      March 7, 2017 at 3:30 am

      Fffffiiiiiffffiiiaaaa…..kata-katamu menguatkan sekali…Iya betul banyak cinta tumbuh dari pergumulan ini. Amin…amin…amin….Tuhan berkati kita selalu ya Fifia. Mamacih ya neng 🙂

  6. Astri Setyaningsih
    Astri SetyaningsihReply
    March 29, 2017 at 7:42 am

    Hai Mbak… Salam kenal, aku Astri. Udah nikah setahun lebih 3 bulan. Setelah nikah 5 bulan, aku hamil mbak, tp cuma bertahan sampe kehamilan umur 5 bulan karena kata dokter serviksku ga bisa nahan bobot bayinya dan aku melahirkan tapi anakku ga selamat. Sedih banget, sampe sekarang tetep sedih, hati hancur. Mau program lagi masih takut tapi kok ya males dengar slentingan orang-orang sekitar. Sedihnya adalah teman-teman kantorku ini lagi pada hamil dan tiap hari harus menghadapi obrolan seputar hamil dan melahirkan. Kadang tahan tapi sering banget abis pulang ke rumah nangis, dan bertanya apa aku yang lebay ya atau mereka yang ga peka…
    Untung suamiku sabar, dan santai orangnya. Dia bilang anak itu bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Tapi rasanya sakit kalau lihat postingan temen-temen di sosmed ngabarin mereka hamil atau lagi share bayinya lagi ngapain! Ahahahaha, seneng campur iri rasanya. Tapi ya balik lagi, emang disuruh pacaran dulu mungkin sama Tuhan. Mari kita saling mendoakan!

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      April 1, 2017 at 6:00 am

      Hi Astri,

      #peluk Astri….mari menjadi kuat bersama dengan selalu menyampaikan harapan dalam doa. Seeemmaanggaattt, Tuhan memberkati 😀

  7. Liely
    LielyReply
    April 24, 2017 at 1:49 pm

    Halo… nama saya Liely, br ngikutin baca pas iseng2 cari2 di internet. Saya sdh menikah 3 th, dan belum dikaruniai anak. Wkt baca blognya, nangis bombay. Saya n suami sdh bbrp kali ke dr, alternatif, herbal, dan belum ada yg membuahkan hasil. Terakhir suami ngajak inseminasi atau bayi tabung, dan rencananya mau coba insem dl. Suami saya jg baik bgt, selalu mendukung, ngajarin pasrah krn anak itu anugerah, ga bisa diminta ga bisa ditolak, apapun keadaannya tetep bersyukur. Rasanya berat, kenapa kox susah banget u dapetin anak, sering iri jg lihat temen2 n org2 sekitar begitu mudahnya dpt anak. Tp baca blog nya kak Priska, nambah semangat. Saya berdoa, buat kita semua yg belum dapet kesempatan itu, bisa cepet dianugerahi, Tuhan pasti kasi yg terbaik… amien

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url