#DearMantan Aku Mimpiin Kamu Semalam Dua Kali

Categories:Cerpen
Tags:, ,
admin

Ilustrasi oleh : Nidandadelion


Emosi. Pagi buta begini, aku terbangun dalam keadaan E-M-O-S-I!

Aku lampiaskan emosiku dengan membangunkan ponsel yang berbaring di sebelah bantal. Telunjuk kananku menekan tombol tipis di pojok atas ponsel. Sekejap layar ponsel menyala dengan garangnya.

Andai ponsel ini benda hidup, dia pasti memelototiku sambil berkata, “Sekarang jam 4 subuh ‘njing! Mata masih pada merem, siapa juga yang baca update-an status lo!”

Tapi kedua jempolku tak peduli, mereka bergerak lincah di layar sentuh ponsel. Sepertinya mereka ikutan emoasi karena subuh-subuh dipaksa mengetik ini, #DearMantan, mimpiin kamu bikin ponselku emosi berat karena subuh-subuh dipaksa update status. Paling yang bangun baru ayam. Aku bergumam dalam hati.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Tring. Tandanya ada notifikasi di Facebook-ku. Apa iya ada yang kasih komentar sesubuh ini?

Aku batalkan niat untuk minum dan kembali memaksa ponsel menyala. Layar ponsel langsung menampilkan halaman Facebook yang barusan ku buka. “Lo mimpiin siapa? Cek WA sekarang!”

Orang ini, mau di dunia nyata atau tidak, nadanya selalu memerintah. Tapi bodohnya, aku nurut saja.  Jemariku kembali beraksi di layar sentuh ponsel untuk membuka aplikasi pesan yang dimaksud si pemberi komentar. Benar saja namanya muncul di daftar paling atas. Ada angka lima tertulis di sebelah kanan. Artinya ada lima pesan beruntun darinya.

“Mimpiin siapa? Mimpinya gimana? Cerita dong! Pasti Lo ngga bisa tidur lagi kan? Haduh lama banget sih balesnya!”

Aku pun mengikuti jejaknya, membalas dengan lima pesan sekaligus! ”Mantan! Ngga serulah, bikin emosi! Bahkan di mimpi aja gua malas ketemu dia! Malas ah ceritanya. Iya bangke banget jadi ngga bisa tidur.”

Tapi Lola bukan tipe orang yang mudah menyerah. Konsistensinya menemukan jawaban terasah dari pekerjaannya sebagai jurnalis. Sejurus kemudian Lola membuat ponselku meraung-raung disubuh buta.

“Astaga Lola. Gua bukan narasumber lo!” ucapku meski suara Lola belum sampai di telinga.

“Ha ha ha. Salah sendiri bikin gua penasaran. Ayo cerita!”

“Okey, nyalain alat perekamnya, gua ngga mau sampai salah kutip.”

“Ha ha ha. Udah ngga pake lama! Ngga usah pake minum segala, cepetan!”

Glek. Aku merasa seperti kepergok sedang menggelondongkan air di tenggorokan tanpa menunggu perintah darinya. “Kampret, kok bisa tahu gua lagi minum?”

“Jawab pertanyaan gua, lu mimpiin mantan yang mana?”

“Mantan gua ada berapa deh. Ya cuman si bangsat itu lah. Di mimpi itu dia ngerayu-ngerayu minta balikan”

“Trus lo mau?”

“Hah ngga lah! Dan di mimpi itu cewenya muncul.”

“Hah cewe yang mukanya kaya kantong kresek gorengan itu ada? Ngapain?”

“Minta maaf. Katanya, sorry sudah bikin kita putus?”

“Mimpinya detail banget. Lu ngga berharap tuh laki minta balik kan?”

Pertanyaan Lola membuat pita suaraku membatu.

“Ria…Lo masih bangun kan?”

“Kampret, ngga mungkinlah gua balik sama tuh laki.”

“Ya gua tanya aja. Mastiin mimpi itu bukan alam bawah sadar lo yang meletup-letup karena kangen.”

Status subuh tentang mantan itu ternyata membangunkan banyak orang. Puluhan notifikasi masuk membuat ponselku bising seharian. Demi ketenangan jiwa, ponsel kumatikan. Dan demi menenangkan diri, aku pergi ki kafe langgananku mencari minuman bergula yang dingin.

“Menu biasa?” barista menyapaku dengan ramah.

Na. I want something sweet for today. Kayanya Nuttela Blast bakalan netralin mood swing gua.”

“Ok. Eh iya, Facebook lo ramai banget. Gua sampe takut mau komentar. Takut ngga kebaca sama lo,” ucap Dio, barista yang sudah jadi teman dekat karena intensitasku ke kafe ini.

“Gua ke sini buat hindarin itu, eh lo ikutan komentar.” Emosiku meletup.

Sorry…sorry. Ok I will give extra whipped cream on your drink.

“Nah gitu baru barista favoritku,” jawabku sambil membayar.

“Minumannya nanti gua yang antar langsung.”

Aku tersenyum dan menikmati perlakuan spesial yang diberikan Dio. Kakiku terus melangkah ke dalam kafe. Tempat favoritku sebenarnya di pojok kanan dekat piano, tapi sudah terisi.

Mataku mencakari sudut-sudut yang lain. Sama saja semua sudut sudah berpenunggu. Tak ada pilihan laih, aku terjebak di area tengah yang bangku-bangkunya hanya untuk dua orang. Aku duduk membelakangi arah masuk agar misi menenangkan diri tidak terdistraksi lalu-lalang orang.

Lima menit berselang, Dio datang dengan pesananku. Gelas berbentuk jar itu terlihat menggoda dengan busa putih meliuk-liuk di atasnya. Bungkus sedotan kurobek. Kepala sedotan kubengkokan dan bagian bawahnya kutancap menerobos whipped cream nan lembut. Seruputan pertama menyesap dan  mataku berpendar. Sepertinya rasa manis telah menjinakkan otakku.

Minuman bergula punya sifat kamuflase yang sama dengan ganja, sekali sesap semua masalah seperti  hilang. Jadi tak ada alasan untuk berhenti menyeruput, karena aku ingin cokelat yang berlimpah ruah itu terus memainkan perannya sebagai penetral emosi.

Sampai tiba-tiba seseorang menepuk punggungku. “Ria?” Suaranya berat tapi terdengar familiar. Aku pun menoleh ke sumber suara.

“Eh benar sayang, ini Ria,” ucap suara itu lagi.

“Loh kalian lagi di sini?” tanyaku sambil coba mengingat siapa mereka.

Ya mereka, berdua. Satu orang laki-laki berkulit putih dengan hidup mancung dan tulang pipi yang menonjol. Dan satunya lagi perempuan dengan plester menutupi hidungnya. Semakin aku menatap mereka, semakin jelas otakku berkata tak ada memori tentang mereka berdua.

“Apa kabar? Kok tumben siang-siang di sini?” tanya si laki-laki yang berkemeja denim ini sambil mencium kedua pipiku.

Setiap kali lupa nama orang, trik andalanku adalah mengenalkan mereka ke orang di dekatku. Biar mereka menyebutkan nama dan otakku akan mencari petunjuk tentang si pemilik nama.

Seperti si pungguk yang berhasil menyentuh bulan, mataku menangkap Dio yang berjalan ke arah kami. Aku berteriak memintanya mendekat. Si perempuan sedikit melompat karena telinganya tertusuk teriakanku.

“Pas banget. Ini Dio, barista kesayangan semua pelanggan kafe ini.”  Selesai meletakkan minuman di meja sebelah, ia menjulurkan tangan, tanda perkenalan.

“Aku kenallah sama Dio. Aku dulu suka ke sini juga,” jawab si laki-laki sambil mengarahkan pundak kanannya ke pundak kiri Dio.

“Oh halo ‘Bro. Apa kabar?” Dio membalas ramah ajakan si laki-laki itu untuk saling menumbukkan pundak.

Mata Dio melemparkan tanya padaku. Who the hell is this guy? Dan aku hanya menjawab dengan pundak yang sedikit terangkat. I have no idea. Dio lanjut menyalami si perempuan dan menarik beberapa kursi kosong di dekat kami, lalu mempersilahkan keduanya duduk.

“Kalian jangan pura-pura kenal deh. Aku beda banget sekarang,” ucap laki-laki itu dengan tertawa lepas.

Aku dan Dio tertawa juga tapi sangat datar. Dio kemudian coba memancing percakapan, “Udah lama banget kayanya ngga ke sini ya?”

“Aku yang ngga suka kalau dia ke sini. Ya kaya begini ini, pasti ketemu trus jadi aneh.” Setelah lama tak bersuara, akhirnya si perempuan menunjukkan teritorinya sebagai pengendali.

Dio coba memecahkan misteri. “Jadi dulu sering ke sini. Coba sebutin minuman favoritnya. Siapa tahu aku ingat. Maklum barista biasa terima orderan.”

Si laki-laki menjawab antusias, “Kopi Vietnam! Dan aku selalu minta biar susu kental manisnya kutuang sendiri plus ngga pake es!”

“Astaga tampang lo berubah banget! Dioperasi?” tanya Dio bercanda.

Tapi yang ditanya malah menjawab sangat serius. “Iya, awalnya benerin hidung yang bengkok eh jadi ketagihan. Nih dia yang ngomporin.” Kalimat terakhir si laki-laki dibumbui pandangan mengarah ke si perempuan.

“Jadi kamu mimpiin mantan yang mana?” tanya si laki-laki setengah mengejek.

Aku kaget, bukan pada nada bertanyanya tapi pada pertanyaannya. Kok dia tahu? Apa kita temanan di Facebook?  Sumbu penasaranku semakin terbakar. “Loh kok….”

“Udah deh ngga usah mancing-mancing. Aku mau duduk di sini dan ngeliatin kalian ngobrol aja udah bagus.” Si perempuan memotong pertanyaanku.

“Ria, udah ingat belom ini siapa?” tanya Dio penasaran.

“Ya ingatlah, pake nanya lagi?” jawabku sekenanya sambil menyeruput Nutella Blast-ku yang krimnya mulai merosot ke dalam gelas karena mulai mencair.

Really Ria? Tampang aku kan beda banget sama yang dulu.”

“Haduh. Udahlah Ria, kalau ngga ngenali dia, bilang aja. Ngga usah menahan kita lebih lama di sini. Dia ini ngga cuman benerin hidung tapi juga tanam benang di pipi biar tirus sama lancipin dagu. Nih foto dia yang dulu.”

Perempuan menyebalkan ini pun mengarahkan layar ponselnya padaku. Sekejap otakku menemukan memori yang sedari tadi kucari. Ternyata otakku punya cerita tentang orang ini. Bukan sekadar cerita, malah ada satu folder khusus yang isinya tentang laki-laki ini.

Rasa kesal kembali menyembur dalam kepala. Inii rasa kesal yang sama  karena terbangun mimpiin ketemu mantan. Mantan! Iya dia mantan yang dalam mimpi aja bikin kesalnya setengah mati.

Situasi semakin aneh, seaneh pita suaraku yang malas bergetar untuk membalas omongan si perempuan itu. Tunggu dulu, berarti perempuan ini selingkuhannya mantanku dulu. Dan sekarang bukan hanya resmi jadi pacar tapi juga tukang kompor operasi plastik? Hubungan yang aneh sekali!

“Kok senyum-senyum sendiri?” Pertanyaan ketus dari si perempuan itu menyadarkanku kalau mereka masih duduk di depanku.

“Oh ya ampun. Sorry aku lupa kalau kalian di sini. Anyway lucu juga kita ketemu beneran tidak cuman di mimpi.”

“Tuh aku bilang juga apa, status itu pasti tentang kamu! Makanya aku ogah tadinya samperin dia.”

Melihat bagaimana perempuan yang di hidungnya menempel perban itu merasa tidak nyaman dengan keberadaanku, membuat aku sadar harusnya dari tadi aku pasang status lagi di Facebook. Begini statusnya: Ternyata mantanku yang masuk dalam mimpi kepengen banget ketemuan untuk nunjukkin hidung, tulang pipi dan dagu baru. Plus ternyata pacarnya mantan yang ikutan masuk ada di mimpi meski sudah berkali-kali operasi plastik tetap merasa aku, mantan dari pacarnya, sebagai ancaman!

Membayangkan menulis status begitu, aku tertawa lepas sampai-sampai tak menyadari apa yang terjadi hingga bruk!

“Astaga Ria, tidur aja ngga bisa diam sampe jatuh dari tempat tidur.”

Sambil mengumpulkan kesadaran, aku raih tangan mama dan kakak yang coba membantuku duduk. “Kamu mimpi apa sih sampai jatuh dari tempat tidur gitu?” tanya mama pelan.

“Iya mana pake ngakak kenceng lagi,” kakak pun tak ketinggalan memberi testimoni.

Sambil garuk-garuk kepala dan setengah tersenyum aku menjawab, “Mimpi mantan operasi plastik!”





Author:

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url