Holong Mangalap Holong

admin

Ada satu filosofi orang Batak yang belakangan menancap kuat di kepala saya. Filosofi itu saya temukan tanpa sengaja di saat-saat mendekati tahun baru. Buat orang Batak, tahun baru punya nilai sakral yang penting karena bukan saja diisi dengan refleksi bersama satu keluarga inti tapi juga dengan ritual mengunjungi keluarga besar.

Bapak saya kemudian bilang, salah satu energi yang membuat orang Batak antusias mengunjungi keluarga saat suasana tahun baru adalah karena filosofi holong mangalap holong. Pas dengar kalimat itu, saya merinding. Meski kemampuan translasi bahasa Batak saya terbata-bata tapi saya bisa merasakan kekuatan makna yang ada dalam kata holong mangalap holong.

Kata itu artinya rasa kasih menjemput rasa kasih. Orang Batak memang punya skill khusus dalam meramu kata sedalam itu.

Saya kemudian penasaran persisnya bagaimana holong mangalap holong ini bisa memperkaya interaksi kekeluargaan dari orang Batak. Alhasil saya pun mencari tahu dan dengan kekuatan mesin pencari Google saya menemukan lagu pop Batak yang judulnya sama persis dengan kata dasyat itu.

Di lagu itu digambarkan bukan hanya tangan kita saja yang harus saling bergandengan tapi juga hati kita yang harus saling mengasihi dalam berkeluarga. Karena ketika kita punya keinginan untuk menjemput rasa kasih maka segala tantangan hidup bisa dihadapi bersama.

Ngomong-ngomong soal keluarga, orang Batak juga punya filosofi penting dalam interaksi kekeluargaan. Kebetulan saat ini saya sedang membaca buku Filsafat Batak yang ditulis oleh TM Sihombing. Di buku ini dibahas tentang konsep kekeluargaan orang Batak yang begitu tersohor itu, Dalihan Na Tolu.

Dalihan Na Tolu sendiri sebenarnya adalah tungku tempat memasak yang diletakkan di atas tiga batu. Sedikit ringkih memang menaruh tungku di atas tiga batu. Karena tungku yang dipakai untuk memasak jaman dulu cenderung bundar jadi ketiga batu itu harus diletakkan pada posisi yang tepat biar bisa menjaga tungku bisa bertengger dengan kokoh, plus membuat masakan matang dengan merata.

Konsep Dalihan Na Tolu ini kemudian diturunkan dalam sistem kekeluargaan orang Batak yang punya tiga unsur untuk menguatkan interaksi kekerabatan. Tiga unsur utama itu adalah Hula-hula (keluarga laki-laki dari pihak istri), Boru (keluarga saudara perempuan) dan Dongan sabutuha (teman semarga). Bagaimana interaksi ketiganya dalam menjaga kekokohan “tungku” kekeluargaan?

Orang Batak Toba biasanya akan mengeluarkan umpasa atau perumpamaan ini tentang Dalihan Na Tolu, “Somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru.” Yang artinya sederhananya begini, hormat kepada hula-hula, bijaklah kepada saudara semarga, dan lemah lembutlah kepada boru.

Dulu saya melihat Dalihan Na Tolu itu sebagai hal yang biasa saja, tapi begitu Bapak saya bilang bahwa interaksi kekeluargaan yang terkadang terkesan ribet itu sebenarnya sangat didasari oleh semangat menjemput rasa kasih alias holong mangalap holong. .

Tungku kekeluargaan akan terus menghasilkan makanan kehidupan yang matang jika ketiga batu penyokong tungku bekerja aktif untuk menjemput rasa kasih atau mangalap holong. Dan mangalap holong itu adalah kalimat aktif, jadi tindakan itu dilakukan atas kesadaran diri sendiri. Yang menariknya lagi, saya juga disadarkan betapa holong itu hanya bisa dijemput dengan holong juga, tidak dengan emosi apalagi ego.

Jadi rasa kasih atau holong itulah yang menjadi dasar mengapa Dalihan Na Tolu bisa menopang tungku kekeluargaan dengan kuat. Ketiga unsur dalam Dalihan Na Tolu itu juga harus secara aktif menjaga kehangatan interaksi dalam kekeluargaan agar ketiganya mendapatkan tingkat kematangan rasa kasih yang sama.

Bapak dan Mama saya punya cara yang menyenangkan sekaligus menohok ketika membekali anak-anaknya dengan nilai-nilai filosofi Batak yang baik. Mereka sesekali menjelaskan dengan kata-kata tapi lebih sering memberikan contoh nyata sebagai modal agar anak-anaknya belajar menghidupi filosofi orang Batak itu.

Tepat di momen tahun baru ini saya disadarkan betapa energi terbesar dalam sebuah interaksi keluarga adalah menjemput rasa kasih. Menyadari ini membuat saya menjadi sangat terharu. Karena apa yang sudah dicontohkan Bapak dan Mama selama ini telah memperkaya batin saya. Semoga di 2017 kita semakin mampu untuk menjemput rasa kasih dalam setiap interaksi yang terjadi. Dan ketika satuan terkecil dari masyarakat sudah terbiasa memilihara kasih untuk menjemput rasa kasih, bisa dibayangkan bagaimana energinya bisa berlipat ganda pada interaksi yang lebih besar seperti negara. Jadi sudah siap mangalap holong hari ini?


Author:

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url