Tentang Ke(bencian) Tuhanan

admin

jangan-cepat-marah-pengkotbah-7-ayat-9

Malam kemarin bersama Nida dan Daniel sambil mengunyah ramen yang gurih, kita membahas tentang betapa Tuhan itu hebat banget. Awalnya saya bercerita ke sahabat dan suami saya itu tentang Cendrawasih dan Papua. Saya baru saja membaca buku tentang Cendrawasih yang disebut sebagai burung surga itu.

“Ternyata Cendrawasih itu cuman bisa berkembang biak di Papua. Peneliti pernah nyoba melakukan itu di Hong Kong bahkan Jerman tapi nggak berhasil.” Saya membuka percakapan sambil memindahkan sebagian ramen dari mangkok jumbo ke mangkok kecil yang ada di depan saya.

“Tuhan itu hebat banget ya. Bisa banget nyiptain mahluk dengan keindahan dan keunikan masing-masing,” lanjut saya dengan berapi-api.

Nida yang selalu suka ngobrolin tentang hewan dan tumbuhan menggangguk antusias. “Untung yang jadi Tuhan bukan gua. Bayangin kan kalau gua abis nyiptain lu eh trus gua lupa, lu gua ciptain lagi. Lah kok Priska ada dua ya?” Sedetik kemudian tawa lepas berloncatan dari mulut kami.

“Atau gimana kalau Tuhan salah naro otak. Otak buaya yang sekelingking dimasukin ke kepala manusia. Kopong dah otaknya,” timpal saya berimajinasi.

Bicara soal imajinasi, Nida bilang kalau imajinasi Tuhan luar biasa indahnya. Kesimpulan ini muncul setelah kita membahas keunikan cara bertahan hidup mahluk hidup.

Seperti komodo ketika musim kawin. Jadi setelah berhasil berkelahi untuk meraih hati betinanya, komodo jantan bakal ngeluarin feromon atau aroma khas yang bikin betina makin deg-deg ser untuk bercinta. Dan feromon itu bakalan keluar kalau si komodo jantan bersentuhan dengan kulit betina. “Gilakan imajinasinya Tuhan indah banget kan,” ucap Nida semangat.

“Bukan cuman indah tapi juga presisi. Semuanya serba pas. Sel-sel tubuh kita aja dibuat saling berkesesuaian dengan organ-organ tubuh biar bisa hidup” timpal saya nggak kalah semangat.

“Emang cuman Tuhan deh yang bisa bikin semua itu.” Itulah kesimpulan kami, dua orang sahabat yang memiliki cara beribadah yang berbeda.

Potongan percakapan sambil makan ramen itu membuat saya semakin menyadari betapa sebenarnya kita tak pernah bisa punya nada kebencian ketika bercerita tentang Tuhan. Karena tidak ada caci maki ketika Tuhan menciptakan semua isi dunia. Tuhan memberkati semua ciptaannya setelah  Dia melihat semuanya itu baik.

Lalu mengapa belakangan kita lebih sering membela Tuhan dengan kebencian? Pertanyaan ini semakin muncul ketika saya membaca berita tentang acara Natal yang dilakukan di gedung umum, memiliki ijin tapi kemudian dibubarkan?

Saya kemudian punya pertanyaan yang saya ajukan dengan sangat nyinyir. “Jadi sekarang kalau Natalan ancamannya kalau nggak dibom ya dibubarin gitu yak?”

Lalu saya menahan diri untuk tidak menulis apa-apa di laman sosial media sampai kemudian salah seorang teman men-share cerita salah seorang jemaat yang ada dalam ibadah yang dibubarkan itu. “Baru sekali ini menyanyikan lagu malam kudus dengan penuh emosional karena di belakang diteriakin TIDAK BOLEH NYANYI!” Tulis jemaat itu.

Saya membayangkan betapa tegangnya situasi dalam ibadah Natal yang digelar di Sabuga Bandung itu kemarin malam. Lalu otak saya kembali melontarkan tanya, Apa bangganya sih membela Tuhan dengan menghalang-halangi orang lain beribadah? Level keimanan seperti apa yang coba ditegaskan dari tindakan mengintimidasi orang yang sedang bercerita tentang kebaikan-kebaikan Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan itu adalah kebuntuan otak saya karena tidak bisa menemukan alasan yang paling masuk akal kenapa orang yang percaya Tuhan justru punya nyali untuk melarang orang lain beribadah? Buat saya, semakin dalam kita percaya Tuhan harusnya kita semakin tidak bisa mencaci apalagi membenci orang lain. Karena Tuhan tidak pernah menciptakan akal dan rasa manusia dengan kata-kata kotor yang menakut-nakuti, lalu mengapa kita membela Dia dengan caci maki?

Ah tapi inikan oknum Priska, tidak semua begitu. Iya betul ini oknum. Hanya segelintir saja. Tapi saya terus bertanya-tanya mengapa kita tidak pernah menjadi lebih matang dalam mengartikan perbedaan. Sekarang kondisinya semakin parah. Kalau lo nggak sepaham dengan pemikiran mayoritas meski lo seagama maka lo bertentangan dengan kita. Nah apa jadinya dengan mereka yang ngga seagama dan ngga sepaham dengan pemikiran mayoritas?

Situasi ini membuat saya tersadar bahwa ternyata kebencian itu lebih mudah dikembangbiakkan ketimbang memenuhi kebutuhan dasar manusia untuk saling menghargai.

Iya loh menurut saya, kebutuhan untuk saling menghargai adalah insting dasar mahluk hidup, apalagi mahluk hidup yang beriman. Gimana jalannya sampai begitu?

Tuhan itu mencipta dengan makna bukan sekadar memenuhi berambisi untuk memenuhi bumi. Karena itu Dia mencipta dengan keindahan dan memberkati semua ciptaanya dengan penuh cinta kasih. Rasanya saya tak pernah dengar atau baca ada kitab suci yang bilang Tuhan menciptakan sesuatu dengan marah-marah. Nafas kehidupan tidak ditiupkan Tuhan dalam keadaan marah kan.

Trus dari mana para manusia yang mengaku diciptakan Tuhan punya kemampuan untuk membenci? Kalau kata Buya Hamka, iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera di tangan pencuri.

Jadi jangan cuman puas hapal kitab suci tapi juga bijaksanalah dalam menghargai manusia. Karena kitab suci membentuk iman sedangkan pengetahuan membentuk akal sehat agar hidup kita ngga jadi buta saat menegakkan kedaulatan Tuhan dan biar kita  nggak jadi pencuri kedaulatan Tuhan juga.

Tulisan ini bikin saya terdengar sangat religius. Tapi kadar religius saya ngga penting dan ngga menarik sama sekali lah. Sebenarnya saya cuman penasaran saja ada di ruang iman atau ilmu yang mana ketika memaki-maki dan membenci orang yang tengah beribadah menjadi aksi martir dalam berkeyakinan?

Semoga siapa saja yang hadir pada ibadah Natal yang dibubarkan itu tetap memelihara cinta kasih dalam hatinya karena Tuhan hanya hadir dalam hati yang penuh cinta kasih.



Author:

2 Comments

  1. Nida
    NidaReply
    December 7, 2016 at 12:27 pm

    Dari kecil, aku selalu dibilangin kalau shalat otu tiang agama. Belakangan aku baru sadar, maknanya dalem banget. Tiang2 ini harusnya jadi penopang yg kuat utk ngejaga tingkah laku kita. Dan aku gak bisa ngerti, orang yg shalat lima waktu tapi habis itu mengoarkan kebencian. Tiang macam apa yg mereka bangun?
    Aku sedih bgt baca pembubaran acaa di sabuga itu. Lalu aku mbayangin seandainya situasniya tebalik; pengajian yg dibubarin. Bakal kayak apa tuh kira2 kemarahan yg muncul? Pdhl selama ini dgn gampangnya bikin ceramah di ruang publik sampai nutup jalan dan ngerugiin pengguna jalan. Mungkin level keimananku sebagai muslim terlampau tipis untuk bisa respek sama hal ini.

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      December 7, 2016 at 5:25 pm

      Semoga level keimanan kita tidak pernah menghilangkan rasa kemanusiaan ya beib.

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url