admin

Catatan Hati Pejuang Kanker

Belakangan saya merasa kanker semakin mendekati lingkaran keluarga dan pertemanan. Kalau dulu cerita kanker yang saya terima biasanya diawali dengan, “Temannya teman saya” atau “Saudara jauhnya si mama.” Tapi sekarang cerita saya adalah “Dua sahabat dan bapak saya terkena kanker.”

Bukan hanya lingkaran sumber cerita yang semakin memendek, usia yang terkena kanker juga semakin muda. Seperti kedua sahabat saya yang terkena kanker, mereka berada di usia 30an. Muda sekali. Apakah ini berarti kanker semakin menggila atau orang sekarang yang semakin cepat memeriksakan dirinya ke dokter?

Buat saya, kenapa kanker sekarang begitu banyak ditemukan. Banyak faktor yang bisa memicu, mulai dari gaya hidup orang sekarang yang memang lebih mudah mengonsumsi daging dan lemak serta makanan yang digoreng, lingkungan dan udara yang semakin kotor, sampai orang yang semakin sadar untuk memeriksakan diri adalah hal-hal yang membuat kanker semakin mudah ditemukan.

Tapi semakin mudah ditemukan tidak otomatis berarti orang semakin siap untuk menjalani pengobatan. Tidak ada orang yang mempersiapkan diri untuk terkena kanker atau mendampingi keluarga menjalani pengobatan kanker. Penyakit ini masih dipenuhi cerita proses pengobatan kanker yang menyakitkan. Karena itu ketika FUDA Cancer Hospital kembali mengajak saya untuk membuat buku tentang para penyintas kanker, saya menerimanya dengan antusias.

Dan kali ini spesifik, saya mau bercerita tentang penyintas kanker perempuan. Kenapa perempuan? Karena data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menyebutkan, prevalensi kanker tertinggi di Indonesia adalah kanker serviks yang mencapai 98.692 orang dan kanker payudara yang mencapai 61.682 orang. Pasien kanker perempuan sangat banyak di Indonesia.

Angka-angka itu semakin lantang berbicara ketika dua sahabat saya yang terkena kanker itu adalah perempuan. Hormon perempuan yang fluktuatif memang jadi salah satu pemicu kenapa kanker lebih banyak terjadi pada perempuan.

Ditambah lagi kalau perempuan-perempuan yang kena kanker itu adalah ibu. Coba deh perhatikan di keluarga kita saja. Bagaimana kebiasaan para ibu kita kalau suami atau anak-anaknya sakit, mereka akan jadi orang yang paling berisik untuk menyuruh ke dokter. Tapi begitu mereka yang sakit, selalu ada alasan atau cara untuk mengabaikan tanda protes tubuh itu. Alhasil vonis kanker diterima ketika status penyakitnya sudah masuk stadium lanjut.

Buku Catatan Hati Pejuang Kanker oleh Priska Siagian

Inilah buku baru saya, Catatan Hati Pejuang Kanker

Inilah yang kemudian mendorong saya untuk spesifik bercerita tentang semangat perempuan dalam melawan kanker. Dan kesembilan perempuan yang ada dalam buku Catatan Hati Pejuang Kanker adalah perempuan-perempuan yang melawan kanker dengan keteguhan hati. Kesembilan perempuan itu adalah Halida, Litasari Karwita, Machditiari, Setiawati Susanto, Shelly Mahara, Hj. T. Sarifah Salmi, Verita Poerbasari, Yenny Anwar (Tjie Ngut Yu), dan Yohana.

Rentang usia mereka ketika menghadapi kanker ada yang pada saat berusia 18 tahun dan ada yang berusia 60 tahun. Meski kena kanker di usia muda atau saat masuk usia lanjut, para perempuan ini tidak hanya punya keberanian dan keteguhan hati untuk melawan kanker. Kesembilannya juga punya kekuatan cinta dari keluarga dan sahabat untuk terus percaya bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan sel kanker kepada mereka. Bahwa ternyata kebersamaan cinta itu menyembuhkan!

Bicara soal kebersamaan cinta, tepat ketika saya tengah membuat buku ini, bapak saya didiagnosa kanker. Saya benar-benar harus bisa membagi konsentrasi antara membuat buku dan mendampingi bapak berobat. Jika sebelumnya sebagai penulis saya bisa sedikit membayangkan apa yang dirasakan keluarga ketika mengetahui orang terdekat mereka terkena kanker, tapi dibuku kedua ini saya mengalaminya sendiri.

Menjadi keluarga pendamping pasien kanker ternyata butuh lebih dari kesiapan mental tapi juga ketenangan hati untuk menghadapi setiap proses pengobatan. Karena tidak jarang, keluarga yang mendampingi jauh lebih stres ketimbang pasien kankernya sendiri. Ah kanker ini memang selalu datang dengan perasaan campur aduk tidak hanya di pasien tapi juga keluarga yang mendampingi.

Tapi saya belajar langsung dari keluarga kesembilan penyintas kanker perempuan yang ada di buku ini. Saya tidak hanya memotret bagaimana mereka saling menguatkan melalui cerita dalam buku tapi saya mengaplikasikannya langsung ketika mendampingi bapak saya berobat. Iya dalam buku ini, saya juga mewawancarai beberapa anggota keluarga pasien kanker untuk membagikan apa momen terberat mereka dan bagaimana mereka menghadapinya. Terkadang kita suka lupa untuk juga menguatkan keluarga pendamping pasien kanker karena berpikir bukan mereka yang sakit.

Memang secara psikis mereka tidak sakit, tapi percayalah ketika vonis kanker dijatuhkan, keluarga pendamping pasien juga menelan pil pahit yang sama. Sering kali keluarga pendamping pasien kanker tidak boleh terlihat sedih di depan pasien, walau jauh di lubuk hatinya selalu ada pertanyaan getir yang susah dijawab, “Akankah dia bertahan menghadapi semua ini?”

Tapi pada akhirnya saya dan kesembilan penyintas kanker perempuan yang ada di buku keempat saya ini membuktikan, kebersamaan cinta itu mengalahkan agresifitas sel kanker. Ada banyak hal yang tidak bisa dilakukan sel kanker. Apa saja itu? Temukan inspirasi kekuatannya pada kesembilan penyintas kanker perempuan yang ada di buku Catatan Hati Pejuang Kanker. Dan setelah membaca bukunya, mari terus membagikan energi positif kepada pasien dan keluarga pendamping pasien kanker di mana pun juga.





Author:

One Comment

  1. isb
    isbReply
    October 30, 2017 at 5:47 am

    Priss, rindu tulisan tulisan baru mu..

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url