Jodoh

admin

ohana means family

“Kenapa ya Tuhan menjodohkan dan menikahkan kita?” Begitu saya bertanya ke Daniel pada salah satu momen pillow talk kita sebelum tidur.

Dan beginilah Daniel menjawab, “Ngga tahu aku.”

Teman tidur saya itu memang bukan tipe laki-laki yang menjawab dengan berbunga-bunga. Tipe programmer yang menyelesaikan masalah sesuai kebutuhan. Dan karena kebutuhannya saat itu adalah tidur jadi dia coba gerak cepat menjawab pertanyaan saya.

Tapi sebagai orang yang suka sekali ngobrol, saya tentu tidak puas dengan percakapan yang hanya berlangsung dalam hitungan menit itu. “Kalau dipikir-pikir ya, jangan-jangan kita sudah dijodohkan jauh sebelum kita lahir.” Mendengar saya berkata begini, teman tidur pun paham kalau diskusi panjang akan terjadi ha ha ha.

Mungkin kalian juga bertanya, apa maksudnya pernikahan kita sudah dirancang jauh sebelum kita lahir?

Awalnya sih saya belum pernah berpikir begitu sampai pada satu arisan keluarga besar topik ini terangkat. Jadi di arisan keluarga besar bapak saya, salah satu agendanya adalah mendengarkan kotbah, pembacaan Alkitab atau kesaksian dari tuan rumah. Tapi saya dan abang saya bukan tipe yang pintar berbicara di ranah sana. Akhirnya secara kebetulan saat kami dapat giliran jadi tuan rumah, sesi itu diganti dengan diskusi.

Dan ketika yang jadi tuan rumah abang saya, topik itu sempat disinggung. Berawal dari cerita dia di masa kecil yang pernah bertanya begini ke bapak saya, “Pak, kalau bapak ngga nikah sama mama, saya ada ngga?” Ha ha ha…iya abang saya emang begitu dari kecil pertanyaanya suka bikin bapak saya berpikir keras.

Sewaktu saya masih kuliah, bapak pernah cerita soal pertanyaan abang yang ini dan kami berdiskusi panjang soal keluarga, manusia dan Tuhan. Tapi mendengar kembali pertanyaan itu di saat saya berstatus teman tidur seorang laki-laki bernama Daniel, membuat saya punya nuansa baru atas pertanyaan itu.

Kebetulan saat itu, mertua saya, orangtua Daniel, ikut hadir dalam arisan keluarga saya. Lalu saya memandangi mereka. Kalau saja Tuhan tidak menjodohkan mereka berdua, mungkin Daniel tidak ada dan kalau tidak ada Daniel, trus saya nikah sama siapa?

Bukan, saya bukannya takut tidak akan menikah kalau Daniel tidak dilahirkan. Poinnya bukan distatus pernikahan yang ditanda-tangani di akta pernikahan, tapi lebih kepada siapa kira-kira yang akan dinikahkan Tuhan kepada saya.

Seketika itu juga saya bersyukur karena Tuhan menjodohkan mama mertua saya dengan papa mertua saya. Bukan hanya karena mereka kemudian melahirkan Daniel yang menjadi jodoh saya, tapi juga karena mereka orangtua terbaik untuk teman hidup saya itu.

Bayangan saya begini. Pernikahan itu adalah pertemanan seumur hidup yang tidak bisa diputus. Karena itu teman hidup memang harus dipilih banget-banget. Seumur hidup bow dan tidak bisa dikembalikan kalau ternyata tidak pas hahaha.

Ini artinya kita harus memilih teman hidup yang karakternya bisa menyenangkan seumur hidup. Nah pada saat saya sampai pada pemikiran ini, saya bersyukur sekali Tuhan menjodohkan mertua saya untuk melahirkan Daniel. Karena mereka berhasil membentuk karakter Daniel menjadi teman hidup yang sangat menyenangkan untuk saya.

Kalau saja mereka tidak berjodoh, mungkin Daniel akan tetap lahir tapi dengan karakter yang berbeda. Dan bisa jadi saya ilfil kalau kenal si Daniel yang versi ini lalu uring-uringan kalau Tuhan tetap menggariskan saya berjodoh dengan dia.

Pemikiran nyeleneh ini justru membuat saya tersenyum. Bahwa ternyata, ini menurut saya loh ya, perjodohan saya dengan Daniel sudah dirancang jauh sebelum kita lahir. Mulai dari kedua ompung doli dan ompung boru saya yang berjodoh untuk melahirkan bapak dan mama saya. Lalu orangtua saya yang berjodoh untuk melahirkan saya dan sampai saya yang berjodoh dengan Daniel.

Jodoh. Kata ini kemudian punya makna baru buat saya. Bukan sekadar kepada siapa saya berbagi tempat tidur sekarang tapi juga siapa-siapa saja yang berperan membuat saya bertemu dengan laki-laki semenyenangkan Daniel.

Dan rasanya kalau kita sampai pada pemahaman itu, rasanya sangat masuk akal untuk merawat hubungan baik dengan the inlaws atau keluarga suami, khususnya mertua. Karena atas cinta kasih dan didikan merekalah saya bisa jatuh cinta dengan sosok yang sudah mereka rawat dan didik hingga ketika sesi pilih-pilih teman hidup, saya yakin memilih dia.

Maka saat seorang teman bertanya bagaimana biar dekat dengan mertua, saya sekarang menjawabnya dengan cerita “perjodohan” itu. Buat saya, itu sangat romantis. Dan atas cerita romantis yang sudah dibuat Tuhan jauh sebelum kita saling jatuh cinta, kita sebagai seorang anak harus punya hati yang terbuka untuk mencintai orangtua dari pasangan kita. Karena orang yang setiap hari bekerja keras untuk membahagiakan kita itu adalah hasil didikan dari orangtuanya.

Pemahaman itu akan melahirkan pilihan untuk juga jatuh cinta pada orangtua pasangan. Prosesnya sama kok dengan masa-masa kita pilih pasagan. Kita pasti mengawalinya dengan membuka hati. Lalu saat ada yang menarik hati, kita belajar untuk mengenal karakternya. Hingga kemudian tibalah pada keputusan untuk bersama dialah cerita kehidupan baru akan dibentuk.

Saat sampai pada keputusan, bersama dialah cerita kehidupan akan dibentuk, kita akan bertanya bekal cerita apa yang saya bawa dan bekal cerita apa yang dia bawa. Ketika masing-masing bekal diyakini dapat menambah rasa pada mimpi cerita kehidupan yang menyenangkan, bukankah kita harusnya berterimakasih pada mereka yang sudah membekali kita? Ya orangtua kita maupun orangtua pasangan. Dari kebaikan merekalah lahir kebaikan teman hidup kita.

Prosesnya bisa jadi berliku atau sangat mulus seperti saya dan Daniel. Tapi dalam membentuk cerita kehidupan, pelajarannya hanya satu yaitu jangan pernah berhenti untuk membuka diri kepada kekurangan orang-orang yang terlibat dalam cerita kita berdua. Iya orang-orang yang terlibat itu artinya banyak, tapi percayalah kekuatan suatu keluarga itu dibentuk dari banyak cinta kasih yang mengelilingi mereka. Karena cerita keluarga yang tengah kita bentuk bukan hanya tentang saya dan teman hidup tapi juga tentang mereka yang dijodohkan untuk menorehkan arsiran dalam perjalanan hidup kita.

Author:

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url