Anak Dalam Doa

admin

Ilustrasi by Nidandandelion

        “Maaf Ibu, sepertinya Ibu keguguran.” Meski itu kelima kalinya aku mendengar dokter mengurai penyebab darah segar yang mengalir dari selangkangan itu sebagai keguguran, tapi air mataku selalu tak kuasa menjadi tegar. Dan ia lebih suka bergelimpangan di depan dokter dan suamiku. Lalu yang tersisa kemudian hanyalah suasana yang jadi begitu hening. Air mata memang sihir yang bisa membuat lidah lupa bagaimana mengungkapkan kata-kata

          Tapi aku tak sama dengan air mataku. Aku jauh lebih tegar dari dia. Aku hanya perlu diam selama dua hari, lalu membiarkan tangan-tanganku mencakari informasi dari kutipan-kutipan artikel, cerita sukses hamil, sampai iklan-iklan obat serta jamu penguat rahim.

          Pencarian tak hanya dari internet, aku juga jadikan kedua telinga sebagai radar penangkap informasi. Aku bertanya kepada banyak orang bagaimana caranya mempertahankan kehamilan. Mereka kemudian memberikan banyak nama dokter kandungan. Dan sebagai seorang petarung, mataku haruslah jadi indera penciuman yang tajam untuk memilih nama dokter kandungan bertangan dingin hanya dalam sekali endusan.

          Nama dokter terbaik sudah ditangan, aku langsung pakai baju perang dan bersiap-siap untuk diperiksa di ruang dokter kandungan. Meski sudah berkali-kali kududuki singasana di ruang dokter kandungan itu, tapi tidak pernah ada rasa nyaman bertengger di sana.

          Dokter tidak menemukan ada keganjilan dari rahimku, sama seperti delapan dokter kandungan yang sudah kutemui sebelumnya. Tapi dokter mengendus sesuatu dari riwayat keguguran berulangku. Ia kemudian meminta aku dan suami, Bima, untuk periksa rhesus darah.

          “Untuk apa?” tanyaku penasaran karena tidak biasa aku mendengar dokter kandungan meminta periksa rhesus darah.

          “Keguguran berulang bisa jadi karena masalah ketidakcocokan rhesus ibu dengan janinnya. “

          Hah sejak kapan, imun bisa sebodoh itu? Masa sel imun tak bisa membedakan mana virus, mana bakteri, dan mana janin?

          Meski setengah tak percaya, tapi aku ikuti saja saran dokter kandungan itu. Pemeriksaannya pun singkat, hanya ambil darah aku dan Bima. Beberapa menit kemudian, kami kembali masuk kamar periksa.

          “Persis dugaan saya, keguguran berulang ibu karena perbedaan rhesus.”

          “Maksudnya?”

          “Rhesus darah ibu negatif dan bapak positif. Ada kemungkinan rhesus janinnya positif sehingga tidak cocok dengan rhesus ibu. Darah ibu melihat kepingan darah janin yang sebagai benda asing dan membuat tubuh ibu menciptakan antibodi untuk itu.”

          Pelan-pelan aku menangkap ke mana arah penjelasan dokter kandungan ini. “Antibodi untuk membunuhnya?”

          “Bukan…bukan begitu maksudnya. Karena perbedaan rhesus, imun ibu kemudian membacanya sebagai tanda bahaya.”

          Dokter terlihat berusaha membuang rasa bersalahku. Tapi kepalaku terus berkata kalau aku membunuh janinku sendiri. Karena insting imunku yang begitu buas kemudian menghabisi janin-janin itu hingga tak mampu bertahan hdup.

          Astaga Tuhan, tubuhku membunuh janinku sendiri!

          Air mataku pecah. Bulir-bulirnya kali ini membesar. Jantungku berlari seperti diburu malaikat pencabut nyawa. Tanganku gemetar dan tubuhku seolah tak berjejak.

          Bima memelukku erat. Wajah Bima memang tenang tapi bola matanya tak biasa berbohong. Ada gelayut awan kelabu di sana dan rasanya hujan air mata juga akan membanjiri pipi Bima.

          “Dok, kami tidak pernah mengira hal seperti ini dapat terjadi. Kami coba cerna dulu semua, nanti temui dokter lagi.” Bima coba meredam suara tangisku dengan pernyataan untuk keluar kamar pemeriksaan.

          Di dalam mobil aku diam. Air mataku juga ikut membisu. Ia seperti tak punya cadangan lagi, meski hanya setetes. Bima juga ikut tak mengeluarkan suara. Apakah ia menangis bisu sepertiku?

          Kepalaku memberanikan diri menoleh pada kedua mata Bima. Ia tersenyum. Senyumnya getir dan awan kelabu itu masih menumpuk di kedua bola matanya.

          “Aku sayang kamu, Dira,” ucap Bima memecah keheningan.

          Wajahku tertunduk karena lidahku masih tak tahu bagaimana menggetarkan suara untuk merangkaikan kata. Mataku terasa perih meski terpejam. Jejak air mata yang menempel pada kedua pipi seolah luka mengganga yang menyeruakkan kepedihan. Tubuhku membunuh anak-anak kita, Bima. Ucapan hatiku tak dapat menembus telinga Bima.

          Melihat aku tak membalas ucapannya, tubuh Bima mendekat. Ia kemudian mengecup keningku. Terasa basah. Air mata Bima akhirnya bergulir. Pelan sekali tapi sangat menyayat. “Maafkan jika rhesus positifku telah jadi tanda bahaya dalam rahimmu,” ucap Bima sambil coba menatap mataku. Tapi aku hanya bisa tertunduk.

          Mungkin seharusnya kita tidak menikah, Bima. Aku hanya berani berbisik pada diri sendiri.

          “Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, Dira.” Bima kembali berbicara sambil coba mengangkat daguku yang tertunduk.

          Tapi darah kita tidak! Mereka musuh bubuyutan. Kerjanya menghabisi satu sama lain dan korbannya janin-janin itu. Ucap pikiran akar duri yang menusuk-nusuk hati pada mulutku yang masih saja terkunci.

          “Kau masih mau menenangkan diri ya? Tak apa, aku mengerti. Kita pulang saja ya, sayang.”

          Aku masih tak memberi Bima sepatah kata pun. Ia kemudian menyalakan mobil dan mulai menatap jalanan. Semakin lancar roda mobil meluncur, daguku semakin dalam menyentuh leherku. Kepalaku tertunduk tajam.

          “Kau mau mendengarkan musik?” tanya Bima memancingku untuk berbicara.

          Tapi bukan mulut yang menjawab, melainkan ekor mataku yang menangkap kedua tangan Bima mencengkram setir mobil semakin kuat. Jika ia sudah melakukan ini, tandanya ada emosi yang menumpuk di ujung dada. Bukan amarah tapi gelayut emosi yang lain karena matanya kelihatan berkilatan. Persis petir yang menggelegar untuk menandakan hujan besar kembali akan datang.

          “Kita harus semakin kuat, Dira. Karena kita saling mencintai.”

          Iya Bima, tapi imunku berkhianat! Sebelumnya kerjasama kami selalu baik. Aku jarang sakit sehingga dia tak perlu ku bombardir dengan segala macam obat. Tapi kali ini, imun tubuhku memilih menjadi malaikat pencabut nyaman dalam rahimku. Apakah kau tetap mau mempertahankan pernikahan ini, Bima? Tanyaku tanpa suara.

          Oh Tuhan, apa yang Kau pikirkan. Kau pasti tahu ketidakcocokan rhesus bisa membunuh janin, lantas mengapa Kau nikahkan aku dengan Bima?

          “Kita menikah bukan hanya agar punya anak, Dira. Aku percaya Tuhan jodohkan kita karena sulur kebahagiaan yang kita untai akan menambah warna-warni kehidupan.” Nada bicara Bima mulai tegar.

          Percikan rasa percaya diriku mulai muncul. Aku pun memberanikan diri mengangkat dagu dan menoleh ke arah Bima. Mataku menangkap telapak tangan Bima bergerak cepat. Ia berusaha menghilangkan jejak air mata pada sekali usapan.

          Melihat itu membuat daguku persis putri malu. Ia merunduk cepat sesaat mata ini menangkap air mata Bima yang menyerah tanpa syarat.

          “Aku sayang kamu, Dira,” ucap Bima tenang dan perlahan ia melonggarkan cengkraman tangannya pada setir mobil.

          Aku yang terus merunduk ini pun memenjamkan kedua mata. Dalam kesesakan hati aku pun melantunkan larik doa.

          Tuhan, hari ini Kau berikan kami berita luar biasa. Janin-janinku mati oleh imunku sendiri! Aku tak tahu harus berkata apa, Tuhan. Tapi rahim ini begitu ingin melahirkan kehidupan. Seperti Kau membiarkan Ibuku mengandungku dan menjadikanku perempuan pengejar mimpi. Aku ingin melahirkan anak-anak yang kemampuan terbaiknya adalah mewujudkan mimpi. Apakah ini permintaan yang sulit?

          Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku sekarang, Tuhan. Aku tahu, Kau juga perlu mencerna semuanya. Malam ini, aku hanya ingin mendoakan janin-janin kami yang kalah bertarung. Mereka bisa jadi tak berhasil mewujudkan mimpi mereka untuk hidup bersama kami, tapi mereka tetap petarung terbaik kami. Meski kami berdua belum pernah melihat rupa mereka semua, tapi rasa cinta ini tak bersyarat.

          Rasa cinta ini, hadir tanpa perlu dihitung atau bahkan ditimbang. Karena cinta ini lahir dari rasa suka yang sederhana, lalu tumbuh menjadi panggilan untuk melengkapi, dan kemudian membentuk keindahan cerita hidupnya sendiri. Aku dan Bima hanya meminta sedikit lebih banyak. Meminta agar kiranya Engkau mau menambahkan satu kehidupan baru di dalam cerita kami demi melanjutkan cerita cinta kami berikutnya. Hanya itu.

          Tarikan napas dalamku membuat larik-larik doa itu dapat tersampaikan dengan lantang dalam kebisuan. Dan dalam mata yang terpejam, aku kembali melanjutkan doaku sambil menunggu air mata sudi melepaskan dirinya.

          Tuhan, dalam sulur sembilu ini, ijinkan Aku dan Bima meminta maaf. Jika cinta kami tak cukup kuat mendamaikan darah kami yang berbeda hingga membuat janin-janin itu terpaksa menyerah. Dalam keberserahan yang dalam, biarkanlah doa ini menjadi pengikat kami berdua dengan janin-janin itu. Biarkan kami tetap memiliki mereka meski hanya di dalam doa. Amin

          Pelan-pelan kuberanikan diri untuk membuka mata. Aku angkat kembali dagu yang tertunduk dan menangkap sosok Bima yang terus menyetir dengan tenang. Ia kemudian mengulurkan tangan kirinya dan meraih tanganku yang masih berpaut jadi satu. Jemari Bima yang besar dan kasar itu menggenggam jariku dengan tenang. Rasanya begitu melindungi.

          “Aku sayang kamu Dira dan aku akan terus menambah rasa cintaku padamu setiap hari. Demi memberikan kekuatan pada anak-anak dalam doa kita.”

Jakarta, 15 Juli 2016

Beberapa tahun lalu, saya mengetahui salah seorang teman ada yang mengalami keguguran berulang karena sel imunnya selalu menjadikan setiap janin yang tumbuh sebagai benda asing yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Saya tidak berani bertanya banyak kepada dia. Tapi sesekali saat bertemu dengan dia dalam suasana yang begitu ceria, saya mencuri untuk menatap matanya. Entah apa yang saya cari di sana tapi kedua matanya selalu memancarkan kekuatan. Dan semakin lama saya mengenal teman saya, semakin dalam saya merasakan betapa cinta dia bersama suaminya terus tumbuh kuat. Siapa pun yang melihat mereka bersama dapat merasakan kekuatan cinta itu.

Sebagai perempuan yang merindukan rahimnya menjadi jalan lahir kehidupan, saya memberanikan diri untuk menuliskan cerpen ini.  Semoga cerpen ini bisa menguatkan setiap pasangan yang masih berjuang untuk mendapatkan keturunan. Dan ke mana pun Tuhan membawa perjalanan cinta kita bersama pasangan, semoga kita selalu mampu untuk merawat cinta yang sudah dipilihkan Tuhan untuk kita.

Author:

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url