Dua Jari Perusak Cita-Cita

admin

Ilustrator: Nidandadelion

           Esthi Bhakti Warapsari sudah sedari kecil ingin jadi polwan. Cita-cita yang muncul karena ketidaksengajaan sebenarnya. Ia jatuh cinta dengan seragam polwan ketika ibunya tak berhasil menemukan kebaya pada hari Kartini.

           Entah apa kaitannya, tapi seluruh sekolah, khususnya sekolah taman kanak-kanak merayakan Kartini dengan menyuruh anak didik mereka menggenakan kebaya untuk yang perempuan, dan baju adat untuk yang laki-laki.

           Pertama kali melihat seragam polwan, Esthi kecil seolah menemukan jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan kepadanya. “Kalau sudah besar mau jadi apa?”

           POLWAN. Tulisan yang menempel kuat di dada kiri pada seragam itu kemudian menjadi nama profesi pertama yang disimpan Esti kecil dalam otaknya. Malah lambang bulat dan bunga berwarna kuning yang menempel di pundak kiri dan kanan pada seragam itu, jadi rangsangan untuk motorik halus Esthi kecil.

           “Ini apa Ma?” tanyanya semangat.

           “Ini pangkat polwan. Nah Esti dapat satu bulat dan dua bunga. Artinya Esti komisaris besar polwan” Esthi kecil hanya melongo mendengar jawaban ibunya. Tapi ia suka bunga. Dan seragam itu memberinya empat bunga sekaligus, dua di kiri dan dua di kanan.

           Ia berlari menuju cermin, tak sabaran untuk melihat bagaimana tampilannya memakai seragam cokelat itu lengkap dengan semua atributnya, mulai dari topi, lencana, sampai sepatu hitam.

            “Polwan itu kerjanya apa ‘Ma?”

            “Polwan itu, kerjanya menangkap orang jahat biar rumah semua orang bisa aman.”

            Esthi kecil tidak mengerti apa artinya aman, tapi ia tahu orang jahat bukan orang yang menyenangkan untuk dijadikan teman. Jadi bagi Esthi kecil, menjadi polwan adalah pekerjaan melindungi semua orang dari orang jahat.

***

             “Loh kamu memang habis ini mau apa toh nduk? Sudah, langsung ambil master saja, otakmu ada begitu kok,” pancing bude-nya sambil menikmati makanan yang disajikan pada acara selamatan kelulusan Esthi menjadi sarjana cum laude.

             “Esti mau masuk Akademi Polisi, Bude,” jawabnya yakin.

             Ekspresi kaget tak hanya tergambar pada wajah budenya tapi juga pada wajah kedua orang tuanya. Orang tua Esthi tak menyangka kalau seragam berwarna cokelat itu menjadi kepalan niat yang kokoh dalam diri anaknya.

            Sasaran tertinggi Esthi adalah menjadi perwira polisi. Ini adalah pekerjaan serius. Sebelum sampai ke sana, ia harus lolos seleksi pada proses penerimaan yang terkenal membutuhkan ketahanan fisik dan mental itu. Maka berbagai persiapan pun dilakukan Esthi demi mendekatkan dirinya pada cita-cita masa kecilnya.

           Sambil menunggu pendaftaran dibuka, Esthi membentuk ketahanan fisiknya dengan keras di pusat kebugaran. Treadmill dibuatnya berlari kencang agar otot-otot kakinya kuat menopang tubuhnya menghadapi berbagai tes fisik. Ia juga membiarkan peluhnya menjejaki dahi, leher, dan kedua lengannya dengan angkat beban puluhan kali. Kedua tangan dan kakinya pun diperintahkan mengepak lincah dalam air demi melatih otot napasnya menarik dan mengendur lebih panjang.

           Di malam hari, persiapan pindah ke kamarnya. Ia melahap habis tumpukan buku yang berisi latihan soal tes akademik. Lembaran buku itu seolah roti tipis yang sekali kunyah langsung membuat otaknya berpendar karena sari-sarinya teserap sempurna.

***

           Tibalah waktunya menjalani proses penerimaan polisi. Ketika banyak peserta bertumbangan di tes pertama, Esthi tetap lanjut. Rasa percaya dirinya menebal, setebal benang-benang kuning yang membentuk lambang bulatan dan bunga yang melekat di kedua pundak seragam polwannya sewaktu kecil dulu.

           Ibu Esthi tidak pernah lupa mendaraskan doa-doa demi mendukung anaknya dari jarak jauh. Ia tak hanya mendoakan agar Esti lulus tes, tapi juga menyiapkan lumbung doa jika nanti anaknya jadi perwira polisi.

           “Ya Allah, segala kesulitan yang ku hadapi ketika melahirkan, menyusui, dan merawat anakku hanya akan terbayar lunas jika ia menghidupi kodratnya sebagai manusia dengan kejujuran. Maka jagailah hati dan pikirannya dari sesak duniawi yang kelak mengubah pekerjaanya yang mulia menjadi kesesatan bagi banyak orang. Amin.”

          Shalat seorang ibu adalah dian pada mata kaki anaknya. Dalam letup kebahagiaan, Esthi pun menelepon ibunya. “Ibu, Alhamdulillah, Esthi masuk tahap berikutnya.”

          “Alhamdulillah ‘Nak,” jawab ibunya pelan. Ia menjawab begitu bukan karena tidak bangga dengan keberhasilan Esthi. Tapi semakin putrinya mendekati seragam cokelat itu, ia semakin terpanggil untuk merapatkan baris doa-doanya.

          “Doakan Esthi terus ya Ibu karena tesnya semakin susah, yang gugur semakin banyak. Semoga mimpi Esthi tidak terbentur kegagalan.”

          “Amin ‘Nak,” ucap ibu Eshti sedikit bergetar tanpa bisa mengetahui apa yang menyebabkannya setakut ini.

          “Sudah ya Ibu, besok Esthi tes kesehatan lagi, jadi harus tidur cepat biar fit.”

          “Iya ‘Nak. Doa ibu dan ayah selalu mengiringimu.”

          Meski secara fisik dan mental Esthi sangat tangguh, tapi hatinya selalu syahdu setiap kali tahu namanya disebut dalam larik-larik doa. Tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta yang didaraskan dalam doa. Kekuatannya persis magnet yang menarik segala serbuk-sebuk usaha dan keteguhan hati untuk menangkap mimpi menjadi kenyataan.

          “Amin. Terima kasih Ibu, salam untuk ayah. Assalamu’alaikum.”

***

          Berbeda dengan tes kesehatan pertama, tes kedua kali ini diawali dengan pengarahan dari panitia. “Tes kesehatan kali ini lebih mendetail. Kalian akan diperiksa luar dan dalam. Yang periksa perempuan, jadi jangan tegang.”

         Sudah menjadi tabiat manusia ketika diperintah untuk tidak tegang, maka mereka akan jadi tegang. Begitu juga dengan Esthi, pengarahan petugas itu terasa asing. Akan diperiksa luar dan dalam, apa maksudnya? Esthi terus bertanya-tanya dalam hati sambil mendengar keduapuluh nama pertama dipanggil ke depan ruangan, lalu mereka serentak berjalan ke ruang pemeriksaan di sebelah.

         Nama Esthi belum dipanggil. Para peserta coba mencairkannya dengan saling berbicara. Tapi tak ada yang mau menyapa Esthi. Ia adalah rival terberat! Bukan hanya karena ia selalu meraih nilai tertinggi tapi juga karena namanya.

         Salah seorang peserta mencuri dengar percakapan Esthi dengan salah satu petugas yang memeriksa kelengkapan formulirnya. “Namamu Esthi Bhakti Warapsari? Namamu itu semboyan polwan. Orang tuamu ada yang polisi?”

         “Tidak Pak. Tapi dari kecil aku sudah bertekad jadi polisi.”

         “Kau tahu apa artinya Esthi Bhakti Warapsari?”

         Esthi merasa bodoh, mengapa dia lupa belajar tentang ini. Ia tak menjawab tapi menjaga garis wajahnya tidak sampai tertekuk, tanda ia tak tahu.

Tenang pertanyaan ini tidak akan mengurangi nilaimu. Namamu itu artinya putri pilihan yang mengantarkan masyarakat pada keamanan, ketentraman, dan kedamaian.”

         Mendengar penjelasan petugas, wajah Esthi berapi-api. Semenjak saat itu, ia percaya segala kebetulan kecil yang terjadi adalah cara Tuhan mengantarkannya pada panggung kehidupan yang sudah digariskan untuknya.

         Namanya pencuri, tabiatnya adalah selalu mencurigai tak terkecuali peserta yang menaikkan sebelah telinganya ketika percakapan itu terjadi. Minyak otaknya berjelantah hingga menyimpulkan nama Esthi adalah jimat yang membuatnya selalu lulus tes. Maka tiap kali nama itu tercetak di papan pengumuman, peserta yang lain mengutukinya. Dan semenjak itu, Esthi tak punya teman seperjuangan.

         Tapi tiba-tiba saja di ruangan yang disesaki ketegangan itu, seorang peserta menepuk punggungnya. “Esthi…Esthi.”

         Ia menoleh ke belakang dan melihat Ria dengan garis wajah yang sangat serius. “Kau masih perawan?”

         Mendapat pertanyaan itu, kedua alis Esthi berkumpul, persis kawanan semut yang mengerumungi bongkahan gula. Tapi bukan gula yang membuat alis Esthi berkerumun, melainkan emosi yang ingin memuncak. “Apa urusanmu dengan vaginaku?”

         “Haduh, kau ini. Aku tidak ada urusan dengan vaginamu, tapi di ruangan sebelah itu, vaginamu yang jadi urusan petugas.”

         Esthi tersenyum tipis, ia meratapi kebodohan temannya yang memang dikenal sebagai peserta paling lugu ini.

         “Kau tidak percaya ya? Terserah. Kau pikir artinya diperiksa luar dan dalam itu apa?”

         Kali ini pertanyaan Ria datang dengan perasaan yang campur aduk. Dia tahu betul pertanyaan itu juga berlarian di kepalanya. Tapi apa hubungannya periksa vagina dengan proses penerimaan menjadi polwan?

         “Memang apa yang mereka periksa dari vagina kita?” Esthi tak kuat untuk bertanya.

         “Selaput lah. Apalagi? Makanya aku tanya, kau masih pe-ra-wan nggak?”

         “Hah setelah semua tes fisik dan akademis itu, ujungnya hanya di selaput darah? Ah aku tidak percaya. Tidak ada hubungannya selaput darah dengan kemampuanku menjadi polwan,” jawab Esthi sengit.

         “Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi aku bukanlah polwan pertama di keluargaku, jadi aku punya sumber terpercaya untuk informasi ini.”

         Esthi membalikkan badannya dengan cepat. Dia menyesal sudah berbicara dengan Ria. Seharusnya dia tetap pada strateginya untuk tidak terlalu akrab dengan peserta lain. Selama belum resmi memakai seragam cokelat, mereka semua adalah musang yang rela berganti rupa demi menerkam sang penatang demi menjadi pemenang.

         Selang setengah jam, petugas kembali memasuki ruang tunggu dan memanggil beberapa nama, termasuk Esthi. Masuklah Esthi bersama 19 perserta lainnya dan diminta berbanjar sesuai urutan panggilan. Kaki Esthi menginjak tanda silang berwarna hitam yang ditempel di lantai.

         Ada tujuh petugas perempuan di dalam ruangan yang memanjang ini. Satu petugas berdiri di tengah, dia adalah si pemberi perintah. Empat petugas berdiri tak jauh dari pintu masuk. Di pojok kiri ada satu ruangan kecil yang dibiarkan terbuka tanpa pembatas yang jelas. Bahkan rel besi tirai yang melintang di langit-langitnya, dibiarkan begitu saja. Hanya dua petugas yang berdiri di sana menjadi penanda kalau itu ruangan yang berbeda.

        “Dalam tiga menit, kalian harus melepas semua atribut dan baju yang dikenakan.” Perintah itu membuat Esthi bergidik. Tidak; Aku harus percaya setiap perintah yang diberikan adalah untuk membentuk loyaltas. Ucapan dalam hati ini adalah cara Esthi menyakinkan dirinya untuk segera menanggalkan pakaiannya begitu petugas menekan stopwatch di akhir hitungan ketiga.

        Ada perasaan gamang setiap kali Esthi coba melepas kancing kemejanya. Ia merasa seperti tengah ditodong untuk menyerahkan kuasa atas tubuhnya sendiri. Jemarinya kelu saat menurunkan resleting roknya. Ia bahkan sampai terdiam ketika melepaskan pakaian dalamnya.

        “Cepat Esthi, waktunya tinggal sedikit. Kau mulai ketinggalan.”

Mempertontonkan tubuh yang telanjang bulat di depan orang-orang asing sambil menunggu instruksi selanjutnya, membuat harga dirinya bergetar. Esthi tidak pernah merasa serendah ini.

        “Kau telat! Aneh, biasanya kau selalu juara,” ucap petugas si pemberi perintah yang tak mau bergeser dari depan wajah Esthi.

        Ia merasa kewarasannya sudah menyentuh titik nadir. Esthi ingin berteriak tapi ketelanjangan yang dipaksakan telah membekukan otak, hingga tak bisa memerintahkan mulutnya untuk melawan.

        “Periksa!” perintah petugas ini langsung disambar oleh empat petugas lainnya. Setiap petugas memeriksa satu peserta, dimulai dari yang paling kiri.

        Esthi yang berdiri sedikit di tengah terpancing untuk menoleh. Ia ingin tahu apa yang diperiksa petugas dari tubuh para peserta. Tapi lagi-lagi pemberi perintah mendekatinya. “Kau kenapa, Esthi? Wajahmu pucat sekali!” tanyanya dengan nada yang terus menyentak.

        Petugas itu bukanlah petugas yang asing. Ini adalah petugas sama yang dengan bangga bercerita arti nama Esthi yang satu napas dengan semboyan polwan. Tapi mengapa kini justru suara itu yang membuat indera perabanya berdesir mengeluarkan keringat dingin? Apankah indera perabanya menangkap suara petugas itu sebagai ancaman?

        “Esthi?” petugas itu kembali menyentak. Esthi mengangguk pelan. Ia tak sanggup menjawab karena intonasi suara petugas itu langsung membuat pembuluh darahnya mengerut dan memaksa jantungnya berdetak lebih keras.

        Belum berhasil menenangkan detak jantungnya, petugas pemeriksa sudah berdiri di depan Esthi. Tanpa meminta persetujuannya, kedua tangan petugas meneliti setiap inci dari tubuhnya. Meteran kain kemudian dilingkarkan pada dada, pinggang, dan pinggulnya.

        Saat sampai di paha, petugas itu lalu memintanya merentangkan kakinya. Keringat dinginnya terus mendesir, entah karena pendingin ruangan menusuk-nusuk kulitnya yang tidak ditutupi selembar kainpun atau ini semua adalah reaksi protes tubuhnya karena Esthi membiarkan semua itu terjadi.

Hati kecil Esthi terus bergemeretak. Untuk apa mereka mengukur semua bagian tubuhku? Memangnya tubuhku kumpulan angka-angka yang jika dijumlah, dikali dan dibagi bisa meramalkan kemampuanku dalam menjaga keamanan, ketentraman dan kedamaian?

        Tapi pertanyaan bisu itu tak terjawab sampai kemudian petugas yang menjengkali tubuh Esthi berteriak, “Proporsional!”

        Teriakan itu membuat nadi dan napas Esthi menanjak. Ini membuat biji mata Esthi membesar. Lalu ususnya berhenti bergerak yang membuat semua otot-otot perutnya tegang dan kram.

        Bulu-bulu halus di tubuhnya tegak berdiri, tanda tubuh Esthi malu dan ketakutan. Tapi baik tubuh maupun Esthi tidak mengerti bagaimana caranya membela diri.

        “Kau! Periksa di sana,” ucap petugas sambil mengarahkan telunjuknya pada ruangan kecil tanpa tirai itu.

        Kedua kaki Esthi melangkah berat. Ia mendengar harga dirinya terjun bebas dan menancap kedua telapak kakinya. Mereka memohon kepada Esthi untuk tidak melangkah. Tapi ia tidak tahu bagaimana caranya menolak perintah itu. Ia terpuruk dan tubuhnya terus saja meronta. Ini membuat tekanan darahnya terus saja meradang setiap kali kakinya melangkah.

        “Hadap tembok.” Kali ini perintah datang dari petugas yang memakai sarung tangan dan tangan kirinya mencengkram botol plastik berwarna biru.

        “Nungging!”

        Perintah itu membuat kelenjar adrenal Esthi mengeluarkan adrenalin. Adrenalin mengucur begitu cepat persis kumpulan kelereng yang meluncur bebas dari bukit rasa bangga menuju lembah rasa hina.

        Melalui sela antara kedua pahanya, Esthi melihat petugas memencet botol yang mengeluarkan gel bening. Gel itu kemudian dioleskan di dua jari tangan kanannya. Ujung jari telunjuk dan tengah itu pun bergerak lurus menuju vagina Esthi.

        Otot leher Esthi menegang dan matanya reflek tertutup. Esthi berharap kegelapan akan menyelamatkan dia dari dua jari yang menyelidiki vaginanya. Tapi tak ada yang sudi menyelamatkannya dari dua jari asing itu.

        Esthi meringis. Kedua ujung bibirnya tertarik dan rahangnya pun menegang. Ia merasa kedua jari itu bergerak bak jarum yang menusuk-nusuk tipis sambil mencari rongga mana yang bisa dilaluinya.

        Esthi menangis. Entah karena rasa sakit dari dua jari jahanam itu atau karena ia bukan lagi pemilik tunggal atas tubuhnya. Air matanya bergulir bersamaan dengan harga dirinya yang rontok persis pecahan kaca yang menyayat kasar dan mengoyak keutuhan tubuhnya.

         “Perawan!”

         Bentakan petugas itu menghardik hati kecil Esthi. Ia terkulai dan jatuh terjerembap memeluk kepingan harga diri yang tak bertuan.


Cerpen ini terinspirasi dari laporan Human Rights Watch (HRW) tentang tes keperawanan di kepolisian. Ini video lengkapnya :

Laporan HRW itu sudah lama sebenarnya, dipublikasi pada November 2014. Tapi beberapa minggu lalu, saya membaca tulisan di The Economist tentang kaitan antara tes keperawanan yang membuat proses penerimaan polisi wanita tidak diminati. Jumlah polisi wanita (Polwan) kita hanya tiga persen. Angka yang tipis ini membuat aparat kurang berpihak pada pelaporan pelecehan seksual pada perempuan.

Tulisan itulah yang kemudian mendorong saya untuk membuat cerpen ini. Saya mengekspresikan kemarahan atas situasi itu. Kemarahan yang bisa jadi juga dirasakan oleh mereka yang menjalani tes keperawanan di manapun. Dan kadang kemarahan yang tak bisa dilepaskan adalah kesedihan yang menyayat kesadaran.

Author:

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url