Senja Si Phallus Kecil

admin

Cerpen ini untuk orang dewasa jadi yang baca harus yang sudah dewasa secara umur dan pikiran.


Ilustrator : Nidandelion

Pada suatu malam, aku berharap Matahari tidak pernah bangun dan membiarkan Langit jadi hitam pekat.”

         “Kau gila! Matahari dan Langit itu sejoli abadi. Tak ada yang bisa memisahkan mereka,” ucap Angin padaku.

        Terang saja Angin membela. Matahari dan Langit kan dua sahabatnya. Tapi hanya si dungu Angin temanku berbicara.

         “Tapi kau tahu, Langit itu suka selingkuh,” ucap bibir runcing Angin.

        Aku mencoba tenang. Kalau langsung bereaksi, Angin akan tahu kecemburuanku pada setiap laki-laki yang bisa bergelayut mesra kepada Langit. Tapi si tukang gosip itu terus saja mengujiku.

        “Aku tanya ke Langit, apa keperkasaan Matahari tidak cukup memuaskan, sampai harus selingkuh? Dan kau tahu, Langit selingkuh dengan laki-laki yang lebih….ah jauhlah dari Matahari.”

       Ah aku tak tahan! Mata kananku melirik dan mulutku mencibir. “Hah mana mungkin Langit selingkuh. Kau sendiri yang bilang tadi, kalau mereka sejoli abadi.”

       “Senja, sejoli abadi itu bukan berarti bebas tantangan per-se-ling-ku-han Kesetiaan itu iman dari sebuah hubungan.”

       “Jadi maksudmu Langit tak punya iman?”

       “Iya. Itu Langit sendiri kok yang bilang.”

        “Memang apa yang dicari dari selingkuhannya?”

       Angin yang semula duduk di samping kananku, langsung loncat bersila di depanku. Matanya menatap mataku. Aku membuang pandangan, takut ia menemukan rasa cemburu di sana.

       “Aku juga bertanya hal yang sama. Karena dia sendiri yang bilang kalau selingkuhannya, tititnya kecil, badannya bau dan wajahnya selalu sendu. Tapi di antara ribuan laki-laki selingkuhannya, Langit justru memilih laki-laki itu.”

      Mataku reflek menatap Angin setiap kali dia menyebutkan ciri-ciri selingkuhan Langit. Tapi yang paling membuat mataku melotot adalah saat Angin bilang kalau selingkuhan Langit ribuan!

      “Kau tidak percaya yang mana, selingkuhan favoritnya Langit bertitit kecil atau selingkuhannya yang sampai ribuan?”

      Sepertinya Angin mulai mencium aroma kecemburuanku. “Ribuan. Mana ada perempuan ditaksir ribuan laki-laki,” ucapku sambil menggaruk batang hidungku yang tak gatal.

       “Hey kau lupa, gerakan bibirnya yang penuh serasa dibisiki angin sepoi-sepoi. Laki-laki langsung terangsang dalam buaian. Kayak kau tidak terangsang saja kalau dekat Langit.”

       “Hah kau kira syahwatku murahan! Bicaramu persis tukang jual obat. Membual.” Aku menarik sapu tangan dari kantong celana lalu menyapu keringat yang kering di wajahku. Aku tak ingin Angin menangkap mataku yang menciut malu mengakui semua yang diucapkan.

       “Lalu sudah berapa selingkuhannya yang sudah dikenalkan padamu?”

       “Mmmm….tidak ada! Tapi Langit menceritakan semuanya. Namanya banyak, itu kenapa aku tahu jumlahnya ribuan. Bahkan ada yang namanya sama. Dan untuk membedakan yang bernama sama, dia urutkan dari ukuran penis ketika ereksi.”

       “Hah jadi semua laki-laki itu ditidurinya?”

       “Ya iyalah. Langit itu sangat suka bercinta tapi dia bukan perempuan murahan, apalagi hiperseks.”

       “Kau kok bisa bilang dia ngga murahan? Laki-laki yang ditidurinya ribuan!”

       “Karena setiap adegan percintaan dilakukan atas kendalinya dan tidak di-ba-yar. Ingat, ti-dak di-ba-yar!”

       “Lalu dia menikmati semua adegan bercinta itu?

       “Dengan selingkuhannya, iya, tapi tidak dengan Matahari.”

       Aku mulai mencium aroma amis dari cerita Angin. Jangan-jangan dia tersaingi dengan prestasi Langit yang disukai ribuan laki-laki.

       “Kau cerita ini semua bukan karena iri lihat Langit bisa menaklukkan ribuan laki-laki kan” pertanyaanku menusuk Angin.

       “Ha ha ha. Percayalah, buatku punya ribuan selingkuhan bukan prestasi. Punya duit banyak, itu baru prestasi!”

      Kelemahanku adalah begitu mudah percaya pada cerita orang. Seperti kali ini, aku menelan bulat-bulat pernyataan Angin. Setelah semua tertelan, aku kecanduan jadi penasaran!

      “Emangnya Matahari setidak memuaskan itu?”

      “Memuaskan,” jawab Angin sambil memotek cokelat kepingan yang selalu dibawanya ke mana saja, demi menjaga gula darah tetap stabil.

     Baru mau bertanya, Angin sudah memotongku. ”Kau pasti mau bilang, kalau puas kenapa selingkuh?”

     Aku mengangguk sambil ikut memotek kepingan cokelat yang dipegangnya. “Karena dia sangat, sangat, sangat suka bercinta! Tapi diantara selingkuhannya, laki-laki bertitit kecil itulah yang paling sering ditemuinya.”

     “Kenapa?”

     “Titit kecil itu persis tali lonceng yang ketika ditarik akan membuat klitorisnya berdentang.”

     Deskripsi Angin membuatku menelan ludah. Sedetik kemudian, kutumpukkan paha kanan di atas paha kiri. Semoga tak ada yang menyumbul dari balik celana.

     “Eh aku jadi ingat. Salah satu alasan yang bikin si titit kecil jadi favorit, ada tahi lalat nyaris di ujungnya. Ini menambah sensasi katanya. Langit sampai menyebutnya tahi lalat ajaib ha ha ha.”

     Aku kaget sampai terlambat menyambut tawa Angin. “Ah telat. Kau selalu telat. Eh tapi jangan sampai kau bikin tahi lalat di ujung ya ha ha ha.”

     Angin kemudian lenggang kangkung meninggalkanku yang melompong.

      “Hai Senja, kau sendirian saja?” Sapaan suara lembut itu mengembalikanku pada titik kesadaran. Tangannya langsung melingkar manja di leherku.

      “Tadi sama Angin tapi sekarang tak tahu dia ke mana.”

      “Oh sama Angin. Aku papasan sih tadi.”

     Langit lalu duduk ke depanku. Menatap wajahnya saja sudah membuat lipatan kakiku gelisah. Paha kanan semakin ku tekan ke paha kiri.

      “Kalian bicara apa saja dari tadi?”

      “Biasalah Angin, ceritanya selalu berhembus ke sana ke mari.”

     Dia tersenyum sambil menyondongkan badannya. Ini membuat jarak antara wajahnya dengan wajahku begitu pendek. “Apa kabar tahi lalat ajaibku?” bisikannya mengulir halus dan matanya menggoda centil. Aku nyaris menyerah sampai kemudian Angin datang dengan semangkuk bakso dan membuyarkan feromonku.

      “Heh Langit, masa Senja tidak percaya kalau kau punya teman laki-laki bertitit kecil dengan tahi lalat di ujungnya.”

     Mata Langit bergerak salah tingkah dan Angin terus saja bicara tanpa memedulikan reaksi kami.

      “Aku juga bilang, justru tahi lalat di ujung itulah yang bikin kau puas. Si tahi lalat ajaib ha ha ha.”

     Tawa lepas Angin disertai dengan semburan kuah bakso yang panas membuatku tidak nyaman. Aku merampas tas dan melangkahi bangku panjang lalu melesat pergi.

     Angin tersedak. Sepertinya bukan karena kepergianku. Tapi karena dia tak sabaran melumat bakso. Langit tak coba menyelamatkan Angin, dia justru lari mengejarku. Angin gelagapan sendiri,

    Langit menarik kencang tanganku sampai badanku tersentak. “Jangan dengarkan Angin. Kau tahu kan gaya bicaranya persis gaya makannya. Tak beraturan.”

     “Jadi tititku kecil?”

     “Ukuran tidak penting selama aku puas. Kau ingin aku puas kan?” tanyanya manja.

     “Tetap saja titit kecil bukan cerita yang membanggakan! Lihat tuh Angin sampai lupa mengunyah bakso hanya karena tak tahan ingin menertawai si titit kecil.”

     “Yang penting kan aku puas.” Lagi-lagi bibir Langit yang berbisik menggodaku.

     Aku dorong badannya. Aku sedang marah. Jangan sampai bisikannya membuat sesuatu di balik celanaku berdiri.

     “Kau puas sama aku atau sama selingkuhanmu yang ribuan itu?”

     “Siapa yang bilang selingkuhanku ribuan?” tanyanya sengit.

     “Angin. Dia bilang selingkuhanmu RIBUAN!”

     “Ah sialan. Aku tidak akan cerita apa-apa lagi ke perempuan bermulut lebar itu. Tapi kita kan tidak punya hubungan yang mengikat. Kau hanya teman bercintaku.”

     “Bangsat! Setelah kau sebut tititku kecil, lantas kau bilang aku hanya teman bercintamu. lonte!”

     Buk..Tiba-tiba saja tubuhku dihantam dari belakang dan leherku dijerat tangan kekar. Napasku tercekat dan sambil coba memukuli badan besar di belakangku. Langit ikut memaki dan memukuli laki-laki bertubuh besar ini.

     Tangan kekar itu kemudian menghempaskanku. Si pemilik tangan lantang bersuara, “Jangan pernah sebut pacarku lonte, kalau tak ingin tinjuku merobek bibirmu!”

      “Heh bangsat. Simpan tenagamu membela dia. Dia selingkuh. Bukan hanya dengan aku, tapi dengan ribuan laki lainnya. Bayangkan. RI-BU-AN!”

     Sekepalan tangan bertaji tajam kembali menghantam, tapi kali ini mukaku. Aku terlempar jauh. Ia mendekatiku sambil terus mengepalkan tangannya.

      “Kau kira aku tidak tahu! Bukan jumlahnya yang membakar emosiku, tapi titit kecilmu yang mencacah keperkasaanku!”

     Buk…tinju kedua kembali melempar tubuhku. Matahari terus berjalan ke arahku, persis banteng yang siap menghunus matador dengan tanduk tajamnya.

     Samar kutangkap, Angin menarik Langit menjauhi arena. “Kau mau terus memukuliku atau mengejar pacarmu?”

     Ucapanku mengalihkan Matahari. Ia langsung balik badan dan mengejar Langit. Juluran tangannya menggapai tangan kiri Langit dan dalam satu kali tarikan, Langit dan Angin terhuyung ke arahnya.

      “Jangan kabur. Pilih, titit kecilnya atau titit perkasaku! Aku tidak akan mengiba kalau kau memang merasakan kepuasan dari kelaminnya,” ucap Matahari sambil menunjuk aku yang tergopoh-gopoh mendekat.

     Tangan kanan Langit menjulur kepadaku, tapi tangan kirinya juga memegang Matahari. Ia menarikku pelan-pelan dan Matahari perlahan melepaskan genggamannya. Tapi Langit terus mencengkram tangan Matahari. Tubuh kami bertiga berjarak begitu dekat.

     Langit berbisik padaku. “Aku suka tititmu. Meski kecil tapi bisa bikin klitorisku berdentang.” Aku melirik Matahari. Ia mendengus, aku tersenyum.

     Langit lalu memutar lehernya ke Matahari dan kembali berbisik. “Aku juga suka tititmu, karena besar dan kuat.” Matahari pun memelotot sambil menajamkan bibirnya.

      “Tapi kau harus memilih,” ucap Angin memecah kemenangan aku dan Matahari ketika kelamin kami dipuji.

     Langit kemudian mencium pipi Matahari. Melihat itu membuatku merasakan perihnya robekan di wajah. Sepersekian detik kemudian, Langit mengangkat kaki kanannya dan mengarahkan lututnya tepat ke selangkangan Matahari. Buk Matahari terkulai.

     Aku terdiam tapi otakku lantang berkata kalau kemenangan sudah dekat. Si titit kecil ini berhasil mengalahkan Matahari yang perkasa.

    Tangan kiri Langit lalu melingkar di leherku. Ciumannya mendarat di pipi lalu turun ke leherku. Aku pastikan ada yang berdiri di balik celanaku. Kurapatkan tubuhku ke lekukan tubuh Langit, berharap ia merasakan yang menonjol di bawah. Ia tersenyum genit. Aku terbuai dan…buk…dengkul Langit menghantam titit kecilku. Kami kesakitan.

     “Sudah kubilang, aku hanya suka bercinta. Aku masih punya ribuan koleksi titit lainnya. Jadi kehilangan dua ukuran tidak akan membuat hidupku berantakan!”

    Aku dan Matahari merasakan sakit yang sama. Si titit perkasa maupun si titit kecil, keduanya tidak berdaya ketika sebongkah dengkul menghantam dan mengirimkan rasa sakit hingga ke ujung kepala.

Author:

2 Comments

  1. nidandelion
    nidandelionReply
    May 12, 2016 at 9:10 am

    you’re awesome!! tetaplah menjadi penulis yang gila!

    • Priska Siagian
      Priska SiagianReply
      May 13, 2016 at 3:08 am

      Hi ilusrator keren, thank you for supporting 😀

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url