Yitno Sugianto, Kalahkan Kanker Dengan Keberanian

admin

"Selalu ada keajaiban dalam keberanian," Yitno Sugianto survivor 4 jenis kankerMalam itu saya berdiri lama di depan peti. Perasaan saya campur aduk. Baru kali itu saya datang ke rumah duka salah seorang narasumber, orang yang saya wawancara untuk buku kedua saya, Kami Berani Melawan Kanker.

Saya datang bersama cici Fanny Surdjono dan dokter Liu Zhengping. Mereka berdua adalah perwakilan FUDA Cancer Hospital yang ada di Indonesia. Pada 20 Oktober lalu, cici Fanny mengirimkan pesan ke gawai saya. “Priska, Pak Yitno sudah meninggal semalam, jam 22.29 WIB.” Pesan itu saya terima dengan wajah tertegun dan layu.

Beberapa hari sebelum pesan itu masuk, saya dan Daniel begitu beruntung karena menyempatkan diri untuk menjenguknya di rumah sakit. Kondisi Pak Yitno, begitu saya biasa memanggilnya, sudah payah tapi dia masih lantang menyebut namanya ketika ditanya. “Ini Yiiiitttnnnnooooo…” jawabnya sambil mengacungkan jempol.

Pak Yitno tidak langsung ingat saya ketika itu, karena dia dibawah pengaruh obat jadi terkadang dia tertidur tapi ketika bangun bicaranya tidak begitu jelas. Ia memang diberi obat sejenis analgesik opium untuk membantu tubuhnya tidak terlalu merasakan sakit.

“Ini loh Priska yang nulis ceritamu lawan kanker.” Matanya mendelik dan menyebut nama saya terbata, “Pris…kaaa.” Pada suku kata terakhir, ucapannya lantang dan memanjang.

Saya hanya memegang tangannya dan berucap, “Pak Yitno ingatkan jargonnya di buku, selalu ada keajaiban dalam keberanian. Semangat ya Pak.” Matanya menatap tajam ke saya dan kembali mengacungkan jempol.

Pak Yitno selalu mengawali cerita keberaniannya melawan 4 kanker sekaligus dengan jargon itu. Jargon itu memang sangat pas buat dia.

Bayangkan saja meski ada kanker paru, kantong jantung, getah bening, dan tulang iga, Pak Yitno selalu berapi-api kalau berbagi semangat kepada pasien kanker. Bahkan kepada saya saja yang mewawancarai dia, Pak Yitno menjawab seluruh pertanyaan dengan energi penuh.

Wawancara saya berubah jadi sesi motivasi, rasanya susah untuk memutus ceritanya yang selalu dipenuhi energi positif. Pertemuan kami sampai lebih dari dua jam dan Pak Yitno tidak kelelahan bercerita. Apalagi kalau sudah tertawa, terasa lepas dan menular.

Kami pindah tempat cerita karena waktu itu staf RW sudah harus pulang semua. Kok wawancaranya di kantor RW? Meski berstatus pasien kanker, Pak Yitno masih dipilih warganya jadi ketua RW 08 Gading Kirana untuk yang kedua kali. “Katanya dari pada saya bengong di rumah mikirin penyakit, mending sibuk melayani ha ha ha.”

Sebelum pindah tempat wawancara, dia kemudian sibuk menelepon beberapa temannya. Sesaat kemudian kami sudah berada di salah satu restoran di bilangan Kelapa Gading menikmati santap malam.

Yup Pak Yitno hobi sekali makan dan dia beruntung karena dokter FUDA tidak memberikan pantangan makanan ribet, yang penting tubuhnya punya nutrisi dan tenaga untuk melawan kanker di dalam tubuhnya.

Kepala saya memang menyimpan banyak memori makan bersama dengan Pak Yitno karena kalau bertemu memang selalu diakhiri dengan makan enak. Usai peluncuruan buku di Gramedia Pondok Indah, dia duduk di samping saya sambil melahap makanan yang tersaji di meja bundar. Ketika saya bertemu dengan dia di Guangzhou, selama beberapa hari berturut-turut, dia duduk di samping saya dengan ekspresi menikmati makanan sampai pada sesapan rasa terakhir.

Ah otak saya tiba-tiba menjadi proyektor yang memutar semua itu ketika saya berdiri di depan petinya. Saya gemetar melihat sosoknya berbaring dalam peti, tapi senyum saya juga terbentuk ketika menyadari dia terlihat begitu tenang dalam pembaringannya.

Isteri dan kedua anak Pak Yitno Sugianto

Suasana di rumah duka Heaven ketika itu buat saya terasa sangat hangat. Saya tidak merasakan ada wajah duka terselip dari keluarga yang menyambut setiap tamu. Bahkan isterinya, Lisawati pun menyambut kami dengan senyuman. “Dia pulang dengan sangat indah. Bapak meminta kita untuk nyanyi terus sampai dia menutup mata. Bapak sudah memenangkan pertarungan.”

Saya yang dibilangi begitu saat mencium kedua pipi ibu Lisawati justru merasa semakin gemetar karena kepala sontak memutar kata-kata Pak Yitno yang lain. “Umur itu urusan Tuhan yang penting kita berusaha melakukan yang terbaik.” Ini adalah jawabannya ketika saya bertanya bagaimana diagnosa kanker paru stadium empat memengaruhi hidupnya.

Kanker paru adalah kanker primer atau kanker pertama yang ditemukan dokter pada 2011. Kankernya masuk stadium empat karena tumornya sudah cukup besar yaitu empat sentimeter. Setelah itu kanker menyebar ke kantong jantung, getah bening, dan tulang iga.

Empat sentimeter, stadium empat, dan empat jenis kanker. Di buku, saya menjadikannya sebagai salah satu judul paragraf, Misteri Angka 4.

Tapi saya yakin sekali tak ada misteri dari rencana Tuhan mempertemukan saya dengan sosok yang begitu inspiratif seperti Pak Yitno. Saya sangat beruntung bisa menuliskan cerita keberaniannya melawan kanker dan membagikannya kepada banyak orang. Pak Yitno ingin banyak pasien kanker yang menyadari bahwa kanker tidak akan pernah bisa merenggut keindahan dari hidup.

Proyektor otak saya berhenti memutar semua memori ketika salah seorang anak Pak Yitno, Alexis Martha Wenda Sugianto menghampiri saya. Sepertinya dia sadar saya sudah terlalu lama berdiri di depan peti itu. “Papi itu suka banget guyon. Itu kenapa di rumah duka kita ngga boleh sedih. Harus happy dan makan kenyang.”

Makan kenyang? Saya berbisik pelan dalam hati sambil mengikuti ajakan Alexis menghampiri kursi. Baru saja duduk, Alexis langsung memanggil pelayan untuk menanyakan makanan apa yang kami inginkan.

Melihat ekspresi wajah saya yang sedikit bingung, cici Fanny menjelaskan kalau ini bagian dari kebiasaan orang Tionghoa ketika ada keluarganya yang meninggal. “Yang melayat pasti diberikan makanan dan minuman. Ada yang menyediakan makanan kecil tapi ada juga yang seperti ini.” Saya pun mengangguk.

Saya bersama keluarga Pak Yitno, Cici Fanny dan Dr. Liu Zhengping dari FUDA Cancer Hospital Indonesia

Pelayan perempuan bertubuh mungil dengan logat Jawa kental bertanya kepada saya, “Mau siomay atau kembang tahu ‘Bu?” Belum berhasil saya menjawab, Alexis ikut menawarkan menu yang lain.”Minumnya ada wedang ronde, ini minuman kesukaan Papi.” Saya memilih siomay dan wedang ronde.

Sambil menunggu, saya mengamati betul ruangan di rumah duka itu. Rruangan dihiasi dengan kain menjuntai bergelombang yang dinominasi warna putih dan ungu. Meja bertaplak putih disusun berjajar dengan dua pasang bangku yang saling berhadapan. Lalu di sisi kanan ruangan terdapat pelayanan yang siap mengantarkan makanan di gubukan, persis acara resepsi pernikahan.

Sesi makan kami tak hanya ditemani oleh anak-anak Pak Yitno tapi juga kakak perempuannya. Mereka bertukar cerita tentang bagaimana Pak Yitno masih sempat jalan-jalan bersama saudara sekandungnya. “Seru banget deh jalan-jalannya di Jepang,” cerita kakaknya sambil menunjukkan foto-foto mereka.

Lalu anak lakinya, Alexander Hendry Yitno Soegianto bercerita, saat menghadiri acara pernikahannya di Amerika Serikat, Pak Yitno masih sempat mengunjungi temannya yang sakit kanker untuk berbagi semangat. “Teman aku sampai terharu dengar cerita, Papi.”

“Ah bapak memang orang hebat kok. Semangatnya luar biasa! Waktu sesi foto studio untuk buku, dia pesan pokoknya aku ngga mau kelihatan seperti orang sakit ya. Aku mau kelihatan kaya bos.

“Ha ha ha si Papi masih aja kasih perintah,” kata Alexander sambil disambut tawa oleh kami semua.

“Tapi justru semangat seperti itu yang memang mau ditangkap di bukunya. Jargonnya bapak ‘kan, Selalu ada keajaiban dalam keberanian. “ Ketika kata ‘keberanian’ saya ucapkan, suara saya sedikit tercekat. Saya sangat menahan diri untuk tidak sampai benar-benar terdengar berduka.

Untunglah salah satu sahabat Pak Yitno, Pak Jimmy datang menghampiri hingga suara saya yang bergetar berhasil ditutupi.

Pak Jimmy adalah salah satu sahabat yang selalu hadir setiap kali saya bertemu Pak Yitno. Ingat cerita saya di atas tentang bagaimana Pak Yitno menelepon beberapa temannya untuk ikut makan bersama kami? Nah beberapa kali bertemu, daftar teman Pak Yitno yang saya kenal pun bertambah.

Pak Yitno tak hanya suka mengajak mereka makan pada saat bertemu saya, tapi kemoterapi pun diisi dengan sesi makan bareng dengan teman-teman. “Saya itu Priska, kalau sudah jadwalnya kemoterapi, telepon teman-teman cuman bilang, eh aku di rumah sakit nih, datang ya. Mau tak peseni makanan apa?”

“Susternya sampai hapal betul kalau Yitno yang kemoterapi restoran pindah ke kamar rumah sakit ha ha ha.”

Dan malam itu Pak Jimmy terlihat sekali berusaha untuk tidak sedih, tapi perkataan ini sangat menggambarkan kehilangannya. “Bapak udah ngga ada Priska.”

Saya bingung meresponnya. Karena ternyata kata, ‘Bapak udah ngga ada’ begitu sempurna menyimpulkan rasa kehilangan yang saya rasakan. Ketika saya coba meresapi semua itu, tiba-tiba kedua anak Yitno dan seorang menantunya menghampiri tamu yang datang. Dari sudut yang lain, isteri Pak Yitno ikut mendampingi anak-anaknya.
Mereka menyalami tamu itu lalu mundur ke belakang tapi berada di samping peti. Seperti memberi ruang bagi tamu untuk berdoa dan memberi salam kepada papi mereka. Setelah tamu selesai berdoa, kedua anak dan menantu kembali menghampiri tamu dan menyalami dengan senyum.

Lalu istri Pak Yitno, ikut menyalami sambil berkata, “Bapak pulang dengan sangat indah. Bapak sudah memenangkan pertarungan.”

Betul sekali, Pak Yitno telah memenangkan pertarungan. Dia berhasil membuktikan betapa banyak hal yang tidak bisa dilakukan 4 kanker itu pada dirinya.

Keempat kanker itu tidak dapat meredupkan semangatnya. Keempat kanker itu tidak dapat menghapus berbagai warna-warni kasih sayang orang-orang terdekatnya. Keempat kanker itu juga tidak dapat menguras habis tenaganya untuk melayani warganya. Dan yang pasti keempat kanker itu tidak akan pernah berhasil menghapus ceritanya sebagai pejuang kanker yang berani melawan kanker.

Saya bersama Pak Yitno usai makan di restoran seafood terkenal di Guangzhou, Tiongkok

Selamat jalan Pak Yitno. Terima kasih untuk menjadi sumber keberanian bagi pasien kanker di mana pun juga!


—-

Tulisan ini pernah dibacakan pada Kelas Jurnalisme Sastrawi Pantau Angkatan XXIV. Apa yang dituliskan di sini sudah mengalami penyempurnaan penulisan sesuai masukan dari diskusi yang berlangsung pada kelas tersebut.

Author:

4 Comments

  1. Adiitoo
    March 6, 2016 at 12:18 pm

    Nyesek ya bok ketika narasumber ada yang meninggal. Gw pun merasakan hal yang sama. Nggak kuat buat menahan tangis. Apalagi kalau tahu perjuangan yang dia hadapi

  2. Priska Siagian
    Priska SiagianReply
    March 6, 2016 at 12:21 pm

    Banget bow….apalagi narasumbernya one of a kind gitu…sangat menyenangkan sekali kenal Bapak Yitno ini dah

  3. putri
    putriReply
    April 9, 2016 at 4:09 pm

    hay kak bisa sy minta emailnya ?

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url