Religius Populer

Categories:Agama, Tuhan, Uncategorized
admin

Selama Ramadhan ini, berapa banyak Ustad atau Ustadzah yang kalian lihat di televisi? Ada wajah-wajah baru dan masih ada wajah-wajah lama. Diantara yang baru itu adalah salah satu Ustad yang terkenal dengan sapaan, “Jaaammmmaaahhh…..oi….jaaammmmaaaahhh” atau dia akan memenggal kata Alhamdulillah seraya memancing jamaahnya untuk menyambung penggalannya, persis gaya anak-anak. “Al…ham…du….?”

Saya membahas gaya penceramah itu dengan seorang sahabat saya. Sahabat laki-laki yang paling saya rindu, Edi. Ngomong sama orang ini ngga pernah lama-lama, tapi perbincangan singkat itu selalu menghasilkan ide tulisan, ini salah satunya. “Pokoknya jadi utang tulisan ya, gua tunggu.” Dan saya coba menggenapinya saat ini.

Ada satu hal yang selalu terjadi di saat momen-momen perayaan agama mendekat, yaitu menjadi religius adalah sebuah gaya hidup. Menjadi religius adalah menjadi trend setter.  Semua stasiun televisi merasa wajib hukumnya untuk terjaga hingga subuh dan membuat program bagi-bagi hadiah dengan pengisi acara yang lucu-lucu (Baca: Pelawak) demi menemani kita bersahur. Acara itu dibuat sedemikian lucunya tak hanya agar sahur kita dilakukan dengan mata terbuka, tapi juga agar ratting televisi menarik pengiklan.

Di sore hari, stasiun televisi itu juga merasa harus menyediakan slot waktu untuk ceramah 7 menit untuk ustad atau ustadzah. Ceramah adalah medium untuk mendefinisikan tren religiusitas. Mengingat misinya sama, berceramah, para penceramah harus menemukan ciri khasnya masing-masing untuk memperpanjang kontrak eksistensinya di tahun depan. Mulai dari gaya menyapa jemaah, membawa tablet elektronik, sedikit berdendang, sampai adegan menangis untuk menciptakan kesan pertaubatan dan pengampunan. Ya, drama selalu laku dilayar televisi kita.

Iklan-iklan yang keluar pun sangat khas. Sirup manis, obat anti maag, mouthwash, varian pasta gigi yang hanya keluar di bulan Ramadhan, mie instan dengan settingan makan mie untuk sahur dan berbuka, sampai minuman berkarbonasi khas Amerika yang ikut-ikutan latah merubah aura iklannya menjadi lebih “hijau”.

Padahal kalau mau dipikir-pikir, ada beberapa iklan yang rada maksa. Iklan mie instan misalnya. Ya kalau sahur dan buka puasa pake mie instan, selesai puasa, bukan sehat malah muncul penyakit, tifus misalnya. Bukankah puasa juga momen detoksifikasi bagi tubuh, jika ini diisi dengan makanan instan yang melar di usus ya bukan detoksifikasi jatuhnya. Atau minuman berkarbonasi dengan logo merah itu misalnya. Kebayang setelah tidak menyentuh makanan dan minuman dari jam 4 subuh sampai 6 sore, langsungn diisi dengan minuman berkarbonasi, perut dijamin melilit. Ngga masuk akal dan ngga mendidik. Ah iklan kan jarang bicara mengenai masuk akal yang penting nyangkut di kepala penonton untuk kemudian pelan-pelan mengacaukan akal sehat kita. Dan lagi, produk-produk itu perlu memanfaatkan momen demi membayar THR para pegawai.

Atau handphone yang dibuat khusus untuk menyempurnakan ibadah di bulan penuh berkah ini. Tambahkan fitur-fitur berbau-bau agama, maka ibadah jadi lebih afdol karena teknologi ada untuk mengerti Anda. Dan mari coba tengok iklan-iklan rokok yang kemudian bernada sangat religius demi menyakinkan pembelinya bahwa merokok bukanlah tindakan (sengaja) membuat tubuh adikftif pada satu zat yang diharamkan oleh agama.  Merokok berjamaah setelah seharian penuh berhasil menahan hawa nafsu, rasanya kemenangan yang perlu dinikmati bersama-sama.

Lalu mendekati ritual ini berakhir, kita akan dihujani dengan testimoni public figure mengenai apa perbedaan yang dirasakan pada puasa kali ini dengan puasa tahun kemarin. Kekhidmatan menjadi sebuah komoditi. Dan mendekati akhir puasa, konsep religius berikutnya adalah baju lebaran yang akan menjadi tren. Tahun ini tren-nya adalah kaftan ala Syahrini. Baju terusan atau long dress dari bahan sifon ini memiliki potongan yang unik. Lengannya sengaja dibuat lebar  sehingga terlihat seperti jubah. Taburan manik-manik atau bahkan kristal swarovsky yang dijalin rapih di bagian dada dan sepanjang lengan, menjadi busana khas Maroko ini menjadi sangat elegan dan mahal.

Betapa seragamnya ritual dan perayaan kita. Sebulan penuh, religius menjadi sebuah tren. Nilai mata uang berubah wujud menjadi seberapa royal kita mengeluarkan uang untuk membuat momen religius ini semarak.  Kekhusyukan ibadah kita menjadi senada dengan deraian air mata yang keluar atau senyum malu-malu yang tersimpul karena merasa satu bahasa dengan penceramah yang dipilih stasiun televisi. Di momen-momen seperti ini menjadi populer sangatlah mudah, jadilah religius seperti yang lainnya.

Apa ini tanda-tanda akhir zaman? Ah bukan, kita hanya sedang membuat mazhab baru dari sebuah perjalanan kehidupan beragama. Mazhab itu namanya religius populer.  Tiba-tiba saya tergoda untuk menghitung berapa biaya yang harus dirogoh dari kantong kita demi eksis di mazhab ini.  Tidak ada biaya yang murah untuk menjadi populer kan? Dan siap-siap untuk momen religius populer berikutnya…karena natal akan segera datang 😀


Author:

6 Comments

  1. Edi Sukasah
    September 3, 2011 at 2:43 pm

    jadi yang meraih ‘kemenangan’ setelah bulan ramadhan di antaranya adalah pembuat iklan dan marketers. mereka berhasil membuat menu sahur mie instan dan berbuka puasa minuman bersoda bukan seteguk air putih serta beberapa butir kurma. dan, pas lebaran memakai pakaian kaftan heuheu…. utang lainya apa, ya? ;D

    • Butterfly Menikmati Dunia
      September 3, 2011 at 2:50 pm

      Mang Ediiiii….ayo pulang…pulang 😀

      Hehehehee iya…’Kemenangan’ mana yang lu pilih?

      Utang lain menyusul ya mang…karena menggenapi janji adalah bagian dari perayaan hidup…

      PULANGGGGG….miss you like hell 😀

      • Edi Sukasah
        September 4, 2011 at 5:36 am

        iya euy, lagi pingin pisan pulang ka tanah para ‘hyang’ ;D

        ramadhan itu bukan peperangan yang harus dimenangkan, tapi waktu untuk melatih jadi shaleh secara sosial di 11 bulan lainya. hahaha…. gua dah kayak penceramah ga? ntar, ah gua berkarir jadi penceramah, ah 😀

  2. Butterfly Menikmati Dunia
    September 5, 2011 at 10:15 am

    Beuh…sepertinya lu udah bisa jadi penceramah mang…Cerdik…ceramah ala Edi Sukasah…k-nya untuk sukasah 😀

  3. jensen99
    September 7, 2011 at 4:43 am

    Ramadhan adalah saat2 tuk makin menjauh dari TV. Terutama kalo ada liputan soal artis2 mualaf dan kehidupan umat muslim/puasa di negara-negara kristen barat. Lebay to de max.. 😛

  4. Butterfly Menikmati Dunia
    September 13, 2011 at 11:33 am

    Hahahahahaha…kalau gitu pas natal nanti…perlu dilakukan pembatasan jam duduk di depan televisi 😀

Leave a Reply

Your message*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Name*
Email*
Url